TARAKANKALTARA

Ratusan Suspek Campak ‘Serang’ Tarakan, Mayoritas Balita

TARAKAN — Salah satu penyakit infeksi virus yang sangat menular dan menyerang saluran pernapasan, yakni campak campak sedang ramai dibicarakan di Kota Tarakan. Hal ini terungkap setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan  menunjukkan data dan tren peningkatan suspek campak dalam beberapa pekan terakhir.

Pengelola Program Surveilans Dinas Kesehatan Kota Tarakan, Irsal mengungkapkan, meski jumlah kasus terus bertambah, seluruh pasien dilaporkan telah sembuh dan tidak ditemukan adanya kasus kematian. Hingga awal Mei 2026, kata dia, tercatat sebanyak 115 kasus dengan mayoritas penderita merupakan anak usia 1 hingga 4 tahun, dan wilayah Karang Anyar menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi.

“Untuk kasusnya tersebar di hampir seluruh kelurahan di Tarakan dan yang tertinggi ada di wilayah Karang Anyar. Tetapi sejauh ini seluruh pasien sembuh dan tidak ada kasus kematian,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar penderita merupakan balita usia 1 hingga 4 tahun. Dari data yang dihimpun, kasus lebih banyak terjadi pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

“Tetapi bukan berarti anak yang sudah imunisasi tidak bisa terkena campak. Imunisasi itu berfungsi untuk membantu tubuh membentuk kekebalan sehingga ketika terpapar, gejalanya tidak terlalu berat dan risiko komplikasinya bisa ditekan,” jelasnya.

Irsal menyebutkan, imunisasi campak diberikan dalam tiga tahap, yakni saat usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak memasuki usia sekolah dasar.

Berdasarkan hasil pendataan, sekitar 56 persen kasus berasal dari kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi, baik karena belum cukup usia maupun belum pernah diimunisasi sama sekali. “Jadi kondisi itu membuat risiko penularannya lebih tinggi dibanding anak yang sudah mendapatkan imunisasi lengkap,” katanya.

Ia juga mengingatkan kemungkinan jumlah kasus di lapangan bisa lebih tinggi dari data yang tercatat. Hal ini karena tidak semua pasien yang berobat ke praktik mandiri terlaporkan ke Dinas Kesehatan.

“Kalau pasien berobat ke rumah sakit biasanya laporan langsung masuk ke kami. Tetapi kalau hanya berobat di praktik mandiri, kadang tidak semua kasus terlaporkan. Kemungkinan angka di lapangan bisa saja lebih banyak dari data yang tercatat,” ungkapnya.

Dalam penanganannya, setiap laporan kasus akan ditindaklanjuti dengan investigasi lapangan untuk menelusuri potensi penularan di lingkungan sekitar. Selain itu, pasien juga diberikan vitamin A untuk mencegah komplikasi dan membantu proses pemulihan.

“Vitamin A diberikan untuk membantu mencegah komplikasi, terutama gangguan pada mata. Selain itu juga membantu proses regenerasi kulit pada pasien yang mengalami ruam akibat campak,” jelasnya.

Irsal menegaskan, campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular melalui droplet atau percikan air liur. Oleh karena itu, anak yang sudah menunjukkan gejala seperti demam dan ruam disarankan untuk tidak beraktivitas di sekolah maupun tempat umum selama sekitar satu minggu.

“Kalau anak sudah menunjukkan gejala seperti demam dan ruam, sebaiknya sementara tidak masuk sekolah dulu kurang lebih selama satu minggu supaya tidak menularkan ke teman-temannya,” tegasnya.

Ia menambahkan, komplikasi paling serius dari campak adalah pneumonia atau infeksi paru-paru. Namun hingga saat ini, seluruh kasus di Tarakan masih tergolong ringan dan dapat ditangani dengan baik.

“Di Tarakan masih bisa tertangani dengan baik dan pasien yang menjalani perawatan semuanya sembuh,” pungkasnya. (rz)

Back to top button