Jelang Puncak Ibadah Haji, Jemaah Haji Kaltara Digembleng Hadapi Armuzna
TARAKAN – Satu hari menjelang puncak ibadah haji, jemaah asal Kaltara yang tergabung dalam Kloter 7 Embarkasi Balikpapan mendapatkan pembekalan intensif guna menghadapi rangkaian krusial Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Persiapan ini menjadi kunci penting di tengah tantangan cuaca ekstrem di Arab Saudi yang diperkirakan mencapai 46 derajat celsius.
Ketua Kloter 7 Embarkasi Balikpapan, Sayid Abdullah menegaskan, penguatan fisik dan mental jamaah menjadi prioritas utama sebelum bergerak ke Padang Arafah pada 25 Mei 2026 atau 8 Dzulhijjah.
“Kami terus melakukan pembimbingan kepada jamaah, mulai dari persiapan fisik, mental, sampai perlengkapan pribadi yang harus dibawa saat Armuzna nanti,” ujarnya, Minggu (24/5/2026).
Pembekalan dilakukan langsung oleh petugas dengan menyambangi jemaah dari lantai ke lantai di Hotel Moro Global Makkah. Selain memastikan kesiapan individu, petugas juga mengulang kembali tata cara manasik haji secara detail, mulai dari mandi ihram, salat sunnah ihram, niat haji, hingga doa-doa selama pelaksanaan Armuzna.
Tak hanya itu, susunan kegiatan selama puncak haji juga disosialisasikan secara rinci, termasuk penugasan petugas yang akan mendampingi jemaah di setiap fase.
“Kami juga menyampaikan kembali susunan kegiatan selama puncak haji, termasuk petugas-petugas yang nanti mendampingi jemaah selama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” jelasnya.
Secara teknis, jemaah akan melaksanakan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah, kemudian bergerak ke Muzdalifah untuk mabit hingga sekitar pukul 00.30 waktu Arab Saudi. Selanjutnya, jemaah dijadwalkan menuju Mina pada rentang waktu dini hari untuk melaksanakan lontar jumrah aqabah.
Rangkaian ibadah berlanjut dengan lontar jumrah pada hari tasyrik (11–13 Dzulhijjah), sebelum jamaah kembali ke hotel di Makkah untuk menuntaskan rukun haji lainnya seperti tawaf ifadlah, sai, dan tahalul akhir. Dari total 358 jemaah, mayoritas memilih nafar awal.
“Sebanyak 316 jamaah mengambil nafar awal dan akan kembali ke Makkah pada 12 Dzulhijjah, sementara 43 jamaah lainnya memilih nafar tsani dan kembali pada 13 Dzulhijjah,” paparnya.
Di balik kesiapan teknis, kondisi kesehatan jemaah juga menjadi perhatian serius. Beberapa jamaah dilaporkan mengalami gangguan kesehatan ringan seperti batuk, flu, hingga demam akibat suhu panas ekstrem.
“Cuaca selama Armuzna diperkirakan mencapai 43 sampai 46 derajat Celsius. Jamaah terus kami ingatkan menjaga kondisi tubuh, mengatur aktivitas, dan tidak memaksakan diri,” pungkas Sayid Abdullah.
Dengan koordinasi ketat antara petugas kloter dan pihak syarikah, seluruh rangkaian Armuzna diharapkan berjalan tertib, aman, dan lancar, sehingga jamaah dapat menjalankan puncak ibadah haji dengan khusyuk dan optimal. (rz)