Misteri Gua Seriang, Permata Tersembunyi dari Perut Bumi Bulungan
Bisa 'Nyanyi' Dalam Sepi, Destinasi Baru Bagi Pecinta Sunyi

Di balik rimbunnya hutan tropis yang membentang di Desa Gunung Seriang, Kecamatan Tanjung Selor, tersembunyi sebuah keajaiban alam yang selama bertahun-tahun hanya dikenal oleh masyarakat sekitar. Gua Seriang namanya. Seperti apa bentuknya?
REDAKSI SATU KALTARA
BUKAN sekadar lorong batu yang terbentuk oleh proses alam ribuan tahun. Ia adalah perpaduan antara sejarah bumi, cerita rakyat, misteri, dan keindahan yang mampu membuat siapa pun terpukau. Akrab dalam bahasa sehari-hari warga; Gua Berlapis.
Kami mengunjunginya pada Sabtu (30/5/2026) lalu. Sebelum sampai di sana, embun masih menggantung di pucuk pepohonan. Masih pagi. Angin yang menyentuh kulit masih sejuk rasanya. Pelan tapi pasti, suasana pagi yang sunyi ini membawa kami sampai ke mulut gua.
Di barisan depan, Gubernur Kaltara Zainal A. Paliwang dan Wakil Gubernur Ingkong Ala siap siaga. Kami di belakangan mengikuti arah. Pak Gubernur dan Pak Wagub bergerak, kami mengikuti dengan semangat. Mereka menyusuri jalur setapak menuju kawasan gua, kami dengan sisa kekuatan ikut sampai ke dalam.
Saking serunya perjalanan ini, hujan yang turun semalam pun masih meninggalkan aroma tanah basah yang khas. Akar-akar pohon menjalar di sepanjang jalan. Sementara batuan licin memaksa setiap langkah dilakukan dengan hati-hati. Kami terus bergerak ke dalam.
Perjalanan menuju Gua Seriang seolah menjadi gerbang menuju masa lalu. Semakin mendekati lokasi, suasana hutan menjadi semakin sunyi. Hanya suara burung dan gemericik air yang sesekali terdengar. Lalu, di balik lebatnya vegetasi, tampak mulut gua yang menganga seperti pintu menuju dunia lain.
Bagi masyarakat Gunung Seriang, kawasan ini bukanlah tempat biasa. Sejak dahulu, orang-orang tua bercerita bahwa gua tersebut merupakan bagian dari ‘perut gunung’ yang menyimpan banyak rahasia alam. Cerita yang berkembang dari generasi ke generasi menyebutkan bahwa tidak semua lorong di dalam gua telah diketahui ujungnya.
Bahkan, sebagian warga percaya terdapat jalur-jalur bawah tanah yang belum pernah dijelajahi manusia hingga tuntas. Meski belum ada bukti ilmiah yang menguatkan kisah tersebut, cerita tersebut terus hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat.
SISA JEJAK WAKTU RIBUAN TAHUN
Secara geologis, GUa Seriang berada di kawasan perbukitan karst yang terbentuk dari batuan kapur purba. Tetes demi tetes air yang meresap melalui celah-celah batu selama ribuan bahkan jutaan tahun perlahan membentuk lorong, stalaktit, stalagmit, dan berbagai ornamen alami yang menghiasi bagian dalam gua.
Memasuki lorong-lorongnya, pengunjung seakan berjalan menembus perjalanan waktu. Dinding-dinding batu yang berkilau terkena cahaya senter menghadirkan bentuk-bentuk unik yang memancing imajinasi. Ada yang menyerupai tirai raksasa, pilar alami, hingga sosok-sosok tertentu yang oleh masyarakat sering dikaitkan dengan berbagai cerita legenda.
Setiap sudut gua menghadirkan keindahan yang berbeda. Semakin jauh masuk ke dalam, udara terasa lebih sejuk dan lembap. Suasana hening menciptakan sensasi seolah alam sedang berbicara melalui bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau mendengarkan.
Namun daya tarik terbesar GUa Seriang justru berada jauh di dalam lorongnya. Di salah satu bagian gua terdapat batu unik yang mampu menghasilkan suara menyerupai dentingan alat musik ketika diketuk secara perlahan. Fenomena langka inilah yang membuat kawasan tersebut semakin menarik perhatian.
Saat melakukan peninjauan, Gubernur Kaltara bahkan sempat mencoba langsung keunikan batu tersebut. “Yang menarik di sini ada batu berbunyi. Kita sudah mencobanya dan suaranya cukup bagus,” ujar Zainal.
Bagi kalangan geolog, fenomena ini kemungkinan terjadi karena struktur dan kepadatan batu tertentu yang menghasilkan resonansi suara ketika dipukul. Namun bagi masyarakat setempat, batu tersebut telah lama dianggap sebagai salah satu keajaiban alam Gunung Seriang.
Sebagian warga tua bahkan menyebutnya sebagai ‘batu bernyanyi’, karena bunyinya terdengar berbeda dibandingkan batu biasa. Keunikan inilah yang menambah aura misterius Goa Seriang. Di tengah minimnya catatan sejarah tertulis, berbagai legenda tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat sekitar.
Salah satu cerita yang sering dituturkan menyebutkan bahwa kawasan Gunung Seriang dahulu dipercaya sebagai tempat berdiamnya penjaga alam. Karena itu, siapa pun yang memasuki kawasan gua diwajibkan menjaga sopan santun, tidak merusak batuan, serta tidak berkata sembarangan.
Meskipun kisah tersebut lebih merupakan kepercayaan masyarakat daripada fakta sejarah, legenda itu secara tidak langsung mengajarkan pentingnya menghormati alam. Berkat nilai-nilai tersebut, kawasan hutan dan gua di Gunung Seriang tetap terjaga hingga sekarang.
Kami yang masuk dalam rombongan Pemprov Kaltara itu menilai ada harapan baru bagi pengembangan wisata alam di Kabupaten Bulungan. Gua Seriang memiliki potensi besar sebagai destinasi geowisata dan ekowisata. Selain menawarkan petualangan menyusuri lorong-lorong alami, kawasan ini juga menyimpan kekayaan geologi yang menarik untuk penelitian ilmiah.
Di sekelilingnya mengalir sumber-sumber mata air jernih dan sungai kecil yang semakin memperkaya pesona alam Gunung Seriang. Namun, pengembangan kawasan ini tidak boleh mengorbankan kelestariannya. Justru keaslian alam yang masih terjaga menjadi daya tarik utama yang harus dipertahankan.
Gua Seriang adalah bukti bahwa Kaltara masih menyimpan banyak keajaiban yang belum sepenuhnya terungkap. Di balik gelapnya lorong batu, sunyinya hutan, dan cerita-cerita yang hidup dari mulut ke mulut, tersimpan sebuah permata alam yang menunggu untuk dikenal lebih luas.
Sebuah tempat di mana sejarah bumi, legenda masyarakat, dan keindahan alam berpadu menjadi satu. Dan di sanalah, jauh di dalam perut Gunung Seriang, misteri itu masih terus berbisik. (rm)

