Gemuruh tepuk tangan memecah suasana sore di Pura Agung Jagat Benuanta, Sabtu (6/6). Sorot mata penonton tertuju ke panggung. Bukan penari profesional atau model muda yang tampil, melainkan deretan lansia berbalut kebaya, batik, dan kemeja rapi yang melangkah perlahan di atas catwalk.
Ronny Meranda, satukaltara.com
ADA yang tampak gugup, ada pula yang melenggang penuh percaya diri. Seorang kakek bahkan sempat melambaikan tangan sambil mengedipkan mata ke arah penonton. Seketika gelak tawa dan tepuk tangan membahana.
Pemandangan itu menjadi salah satu momen paling berkesan dalam peringatan Hari Lansia Nasional ke-30 di Kabupaten Bulungan. Jauh dari kesan formal dan penuh seremoni, perayaan kali ini justru dipenuhi warna, canda, dan kebahagiaan.
Di atas panggung, para peserta yang seluruhnya berusia di atas 60 tahun tampil bak peragawan dan peragawati profesional. Dengan langkah yang mungkin tidak lagi secepat masa muda, mereka memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih berharga, keberanian dan rasa percaya diri.
“Tadi saya deg-degan sekali. Rasanya seperti mau naik pelaminan,” ujar Fatimah sambil tertawa kecil usai turun dari panggung.
Mata perempuan lanjut usia itu berbinar. Tangannya masih menggenggam ujung kebaya batik yang dikenakannya. Fatimah merupakan satu dari 30 peserta angkatan pertama Sekolah Lansia Berlian, program pendidikan nonformal yang baru dibentuk pada Mei 2026.
Selama satu semester, para peserta tidak hanya belajar mengenai kesehatan lansia. Mereka juga mendapatkan pembelajaran tentang keterampilan hidup, hubungan sosial, spiritualitas, hingga cara membangun kepercayaan diri.
“Kami memang tidak punya ujian nasional. Tapi kalau soal gaya jalan di catwalk, itu serius,” canda Wakil Ketua Yayasan Sekolah Lansia Berlian, drg. I.B. Komang Sidharahardja, MPH.
Tawa kembali pecah ketika para peserta pria mendapat giliran tampil. Layaknya cover boy era 1990-an, mereka berusaha menunjukkan pesona masing-masing.
Ada yang berjalan tegap dengan tangan di saku, ada yang berputar sejenak sebelum kembali ke ujung panggung. Bahkan seorang peserta menjadi pusat perhatian ketika bajunya tampak sulit dikancing karena perutnya yang sedikit membuncit.
Dipandu pembawa acara yang penuh humor, suasana menjadi semakin hidup. “Biarlah orang bilang tua-tua keladi. Yang penting hati senang dan badan sehat,” ujar salah seorang peserta pria sambil tertawa. Tak lama kemudian, ia ikut bergoyang kecil mengikuti irama dangdut yang mengalun dari pengeras suara.
Sementara itu, para nenek tampil anggun dalam balutan kebaya warna-warni. Merah menyala, biru pastel, hijau lumut, hingga kuning keemasan memenuhi panggung sore itu.
Sebagian melangkah sambil mengibaskan selendang. Ada yang melempar ciuman ke arah penonton. Ada pula yang bergandengan tangan dengan pasangan atau sahabatnya sesama lansia.
Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan yang jauh lebih dalam. Ajang tersebut menjadi bukti bahwa usia bukanlah batas untuk tetap berkarya dan menikmati hidup.
Bupati Bulungan, Syarwani, yang hadir menyaksikan langsung kegiatan tersebut mengaku terkesan melihat semangat para peserta. “Mereka membuktikan bahwa produktivitas tidak berhenti di usia 60 tahun. Justru di masa senja, kreativitas bisa tumbuh dan berkembang dengan caranya sendiri,” ujarnya.
Semangat itu semakin terasa saat seluruh peserta diajak menari bersama di penghujung acara. Gerakan mereka sederhana dan perlahan, menyesuaikan kondisi fisik masing-masing. Namun senyum yang menghiasi wajah mereka tak pernah pudar.
Ada yang ikut bernyanyi pelan. Ada yang sekadar bertepuk tangan mengikuti irama. Semuanya tampak menikmati setiap detik kebersamaan.
Yang membuat kegiatan ini semakin istimewa adalah lokasinya.
Pura Agung Jagat Benuanta yang sehari-hari menjadi tempat ibadah umat Hindu, sore itu menjelma menjadi ruang perjumpaan lintas agama. Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang keyakinan—Islam, Kristen, Katolik, Hindu, hingga Buddha. Tak ada sekat yang terlihat.
Di balik panggung, seorang nenek membantu membetulkan selendang temannya yang berbeda agama. Di sudut lain, seorang kakek membantu memasangkan jarum pentol pada kebaya peserta lain.
“Baru kali ini di Kalimantan Utara ada kegiatan lansia sebesar ini yang digelar di pura dan diikuti semua agama dengan penuh sukacita,” ujar salah seorang pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kaltara.
Pemandangan sederhana itu menjadi simbol indah tentang toleransi yang tumbuh alami di tengah masyarakat. Saat ini, Sekolah Lansia Berlian masih berada pada tahap awal atau Standar 1 yang berfokus pada pembelajaran dasar. Ke depan, program akan berlanjut ke Standar 2 dan Standar 3 yang menitikberatkan pada pengembangan keterampilan dan kemandirian lansia.
Minat masyarakat disebut cukup tinggi. Namun karena keterbatasan kapasitas, angkatan pertama baru menampung 30 peserta. “Ke depan kami akan membuka angkatan berikutnya karena antusiasme masyarakat sangat besar,” kata I Bagus.
Setelah menyelesaikan satu semester pembelajaran, para peserta nantinya akan mengikuti prosesi wisuda. Mungkin bukan dengan toga dan jubah akademik, melainkan dengan busana khas daerah yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Ketika acara berakhir, para lansia perlahan meninggalkan lokasi. Ada yang dijemput anak dan cucunya. Ada pula yang masih berkumpul sambil melihat foto-foto hasil dokumentasi.
Tawa masih terdengar di beberapa sudut pura.
Seorang kakek yang sempat nyaris tersandung di atas catwalk kembali menjadi pusat perhatian.
“Yang penting tidak jatuh. Kalau jatuh mungkin saya sudah viral,” katanya disambut tawa teman-temannya.
Hari Lansia Nasional sejatinya diperingati setiap 29 Mei. Namun perayaan di Bulungan baru dapat dilaksanakan pada Juni karena bertepatan dengan Iduladha.
Penundaan itu ternyata tidak mengurangi makna.
Sebaliknya, ia menghadirkan pesan sederhana namun kuat, bahwa di tengah perbedaan keyakinan, keterbatasan fisik, dan perjalanan usia yang panjang, selalu ada ruang untuk berjalan bersama.
Mungkin langkah mereka kini tak lagi secepat dulu. Namun sore itu, di atas catwalk sederhana di sebuah pura di Tanjung Selor, hati para lansia melangkah jauh lebih cepat—penuh keberanian, kebahagiaan, dan harapan.
Karena fashion show paling berkesan ternyata bukan tentang busana yang dikenakan, melainkan tentang mereka yang memakainya. Para pahlawan kehidupan yang tetap ingin berkarya, dicintai, dan menjalani masa senja dengan penuh tawa. (***)