EKONOMIKALTARATARAKAN

Ekspor Tarakan–Hong Kong Tersandung Dokumen Mutu

TARAKAN – Harapan menjadikan Tarakan sebagai pintu ekspor langsung komoditas perikanan ke pasar internasional kembali menghadapi hambatan. Meski jalur penerbangan kargo ke Hong Kong masih beroperasi normal, aktivitas ekspor dari daerah tersebut terhenti karena persoalan pemenuhan dokumen mutu yang belum terselesaikan. Setelah sempat terlaksana dalam beberapa kali pengiriman, aktivitas ekspor kembali berhenti karena pelaku usaha belum dapat memenuhi persyaratan administrasi yang dibutuhkan.

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Utara (Kaltara) Ichi Langlang Buana Machmud mengungkapkan, sampai saat ini belum ada permohonan ekspor baru yang diajukan oleh eksportir. “Ekspor sementara ini off karena kami di border menunggu permohonan. Sampai hari Kamis kemarin belum ada pengajuan yang masuk,” ujarnya.

Menurut Ichi, persoalan utama bukan berada pada proses pemeriksaan karantina maupun layanan kepabeanan, melainkan pada kelengkapan dokumen mutu yang menjadi salah satu syarat wajib dalam ekspor langsung komoditas perikanan.

Ia menegaskan, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk mengubah ataupun menyesuaikan persyaratan yang telah ditetapkan pemerintah pusat. “Kalau dokumen itu belum muncul dalam aturan kami, tentunya tidak bisa langsung kami tambahkan. Mudah-mudahan ada penyelesaian di tingkat pusat,” katanya.

Ichi menjelaskan, dari sisi teknis pelaksanaan ekspor sebenarnya tidak mengalami hambatan berarti. Hal itu terbukti dari dua kali pengiriman ekspor yang sebelumnya berhasil dilakukan dari Tarakan menuju pasar luar negeri.

“Pernah dua kali berjalan, setelah itu tidak berjalan lagi karena ada pemenuhan dokumen lain terkait persyaratan mutu. Tapi dari sisi karantina tidak ada masalah, dari Bea Cukai juga tidak ada masalah,” jelasnya.

Di tengah terhentinya ekspor hasil perikanan, layanan penerbangan kargo internasional rute Tarakan–Hong Kong tetap beroperasi secara rutin. Maskapai My Indo Airlines memastikan tidak ada penghentian penerbangan meskipun muatan ekspor belum optimal.

Perwakilan My Indo Airlines, Elsye mengatakan, pesawat freighter dengan kapasitas angkut hingga 22 ton masih melayani rute tersebut sesuai jadwal. “Pesawat tetap terbang. Kami berkomitmen melayani rute Tarakan ke Hong Kong dengan harapan muatan bisa kembali terisi,” ujarnya.

Elsye menilai peluang ekspor dari Kalimantan Utara masih sangat terbuka karena pesawat kargo tidak hanya diperuntukkan bagi komoditas perikanan, tetapi juga berbagai jenis barang lainnya yang memenuhi ketentuan ekspor.

“Sebenarnya tidak hanya ikan. Semua jenis kargo bisa diangkut selama sesuai aturan. Sayang kalau tidak dimanfaatkan maksimal,” katanya.

Pihak maskapai berharap pemerintah dapat memberikan kepastian regulasi dan kemudahan administrasi sehingga eksportir kembali memanfaatkan jalur ekspor langsung dari Tarakan. Dengan begitu, kapasitas penerbangan internasional yang telah tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kami berharap regulasi bisa lebih mempermudah para eksportir, sehingga muatan bisa kembali optimal,” tutupnya. (rz)

Back to top button