TARAKAN — Kinerja sektor hulu Minyak dan Gas Bumi (migas) di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) menunjukkan capaian menggembirakan sepanjang semester pertama 2026. Realisasi penyaluran (lifting) minyak mentah dan kondensat bahkan melampaui target yang ditetapkan dalam APBN, menandakan optimalnya produksi dan distribusi energi di wilayah tersebut.
Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) per 30 Juni 2026, lifting minyak mentah dan kondensat di Kaltara mencapai 4.114 barel minyak per hari (bopd). Angka ini melampaui target APBN sebesar 3.364 bopd atau setara 122%.
Analis Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Kalsul, Mutiara Dinanti, menyebut capaian tersebut tidak lepas dari efisiensi operasional serta optimalisasi sumur-sumur produksi yang berjalan maksimal.
“Jika dibandingkan dengan target APBN sebesar 3.364 bopd, capaian lifting minyak mentah dan kondensat Kaltara hingga semester I 2026 berhasil mencapai 122 persen,” ujar Mutiara saat sosialisasi hulu migas, Sabtu (25/7/2026).
Ia menjelaskan, produksi minyak mentah dan kondensat di Kaltara sendiri berada di angka 4.072 bopd. Menariknya, rasio lifting terhadap produksi mencapai 101%, yang berarti hampir seluruh hasil produksi dapat tersalurkan tanpa hambatan berarti, termasuk dari sisi logistik.
Secara nasional, kontribusi Kaltara memang masih relatif kecil, yakni sekitar 0,71% untuk produksi dan 0,75% untuk lifting dari total nasional yang masing-masing mencapai 576.890 bopd dan 574.353 bopd. Namun demikian, capaian ini dinilai mencerminkan performa yang efisien di tingkat regional.
Di sektor gas bumi, performa Kaltara juga stabil. Produksi gas tercatat sebesar 24 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd), atau telah memenuhi 100% target APBN. Sementara realisasi lifting gas berada di angka 19 mmscfd, setara 78% dari target.
“Kontribusi gas Kaltara terhadap nasional berada di kisaran 0,37 persen untuk produksi dan 0,36 persen untuk lifting,” jelasnya.
Secara keseluruhan, gabungan produksi migas Kaltara mencapai 8.383 barel setara minyak per hari (boepd) atau 0,48% dari nasional. Adapun lifting mencapai 7.433 boepd, atau sekitar 97% dari target APBN sebesar 7.639 boepd.
Mutiara menambahkan, keberhasilan ini turut didukung kesiapan infrastruktur distribusi. Saat ini terdapat dua titik serah minyak mentah/kondensat serta 11 titik salur gas yang aktif beroperasi di wilayah Kaltara.
Selain capaian saat ini, potensi pengembangan sektor hulu migas di Kaltara masih terbuka lebar. Berdasarkan peta wilayah kerja (WK) migas per 1 Juni 2026, terdapat puluhan blok eksploitasi dan eksplorasi di kawasan Kalimantan dan Sulawesi, termasuk di darat maupun lepas pantai seperti Perairan Ambalat.
“Industri hulu migas memiliki karakteristik padat modal, berteknologi tinggi, serta berisiko besar. Karena itu, pengelolaan melalui skema kontrak bagi hasil dan pengawasan barang milik negara terus dilakukan secara ketat agar memberi nilai tambah maksimal bagi negara dan daerah,” pungkasnya.
Capaian ini menjadi sinyal positif bagi sektor energi di Kaltara, sekaligus membuka peluang peningkatan kontribusi daerah terhadap produksi migas nasional ke depan. (rz)

