KALTARABULUNGAN

Cegah Stunting dari Remaja, Dinkes Kaltara Temukan Anemia Hampir 30 Persen

TANJUNG SELOR – Upaya pencegahan stunting di Kalimantan Utara (Kaltara) kini tidak hanya menyasar balita, tetapi diperkuat sejak usia remaja, khususnya remaja putri. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara menemukan kasus anemia pada remaja putri di sejumlah daerah dengan kategori sedang hingga berat mencapai hampir 30 persen.

Temuan tersebut diperoleh melalui pemeriksaan kesehatan dan skrining anemia yang dilakukan petugas puskesmas di sekolah-sekolah. Sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Malinau dan Tana Tidung, menjadi bagian dari pemantauan kesehatan remaja tersebut.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kaltara, Arif Rahman mengatakan, momentum Hari Anak menjadi kesempatan untuk kembali memperkuat perhatian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak hingga remaja.

“Pelayanan kesehatan yang disesuaikan dengan momen Hari Anak ini kami fokuskan pada tumbuh kembang dan kesehatan anak. Kesehatan pada usia dini dan remaja sangat menentukan masa depan anak serta kualitas generasi mendatang,” ujar Arif, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan intervensi berkelanjutan serta keterlibatan lintas sektor untuk memastikan kondisi kesehatan anak terus terpantau.

Pemantauan dilakukan melalui pengumpulan data dari puskesmas di seluruh kecamatan dan kabupaten/kota di Kaltara. Data tersebut menjadi dasar bagi Dinkes untuk melihat perkembangan kondisi kesehatan sekaligus tren prevalensi stunting di masing-masing wilayah.

“Penurunan stunting membutuhkan proses dan keterlibatan lintas sektor. Data dari masing-masing puskesmas terus kami pantau untuk melihat perkembangan di setiap wilayah,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kaltara, Dadang Hermanto mengatakan, pencegahan stunting saat ini diarahkan sejak masa remaja. Salah satu fokus utama ialah penanganan anemia pada remaja putri.

Ia menjelaskan, kondisi kesehatan remaja putri perlu mendapat perhatian serius karena mereka merupakan calon ibu yang nantinya berperan penting dalam menentukan kesehatan generasi berikutnya.

“Penanganan dan pencegahan stunting kini diprioritaskan sejak usia remaja. Remaja putri yang sehat diharapkan menjadi calon ibu yang sehat sehingga dapat melahirkan anak-anak yang terbebas dari stunting,” jelas Dadang.

Untuk mendeteksi anemia, petugas puskesmas secara berkala turun ke sekolah-sekolah di berbagai wilayah Kaltara. Pemeriksaan dilakukan melalui program penjaringan kesehatan sekaligus skrining anemia bagi peserta didik.

Dari pemeriksaan sampel di sejumlah daerah, termasuk Malinau dan Tana Tidung, ditemukan remaja putri mengalami anemia kategori sedang hingga berat dengan angka mendekati 30 persen. Dadang menyebut angka tersebut berpotensi lebih tinggi jika turut memperhitungkan remaja yang mengalami anemia kategori ringan.

Karena itu, hasil skrining menjadi penting untuk menentukan tindak lanjut terhadap remaja yang terdeteksi mengalami masalah kesehatan. Dinkes akan mengomunikasikan hasil pemeriksaan kepada orang tua agar anak mendapat penanganan sesuai kondisinya.

“Jika ditemukan masalah kesehatan dari hasil pemeriksaan, pihak dinas akan langsung mengomunikasikannya kepada orang tua untuk tindak lanjut penanganan,” tuturnya.

Dadang mengapresiasi keterlibatan orang tua yang dinilai semakin terbuka terhadap pelaksanaan pemeriksaan kesehatan di sekolah. Dukungan keluarga, kata dia, menjadi bagian penting agar pemeriksaan tidak berhenti sebatas skrining, tetapi dilanjutkan dengan penanganan.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat pencegahan stunting sejak hulu sekaligus memastikan anak dan remaja di Kaltara tumbuh sehat. Dengan demikian, kesehatan generasi muda dapat menjadi investasi penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan. (rm)

Back to top button