KALTARANUNUKAN

Listrik Padam, 1.008 Roti Gagal Diproduksi, UMKM Nunukan Klaim Rugi Rp863 Ribu

NUNUKAN – Pemadaman listrik secara tiba-tiba kembali menjadi keluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Nunukan. Bukan hanya menghambat aktivitas, gangguan pasokan listrik juga menyebabkan proses produksi terhenti hingga memicu kerugian materiil.

Salah satu pelaku usaha yang terdampak adalah Syahbani, pemikik toko Nurlela Bakery yang berada di kawasan Jalan Pelabuhan Baru. Pada 6 Agustus 2026, pemadaman listrik mendadak membuat proses produksi roti mereka terganggu. Sebanyak 1.008 roti gagal diproduksi, sehingga pelaku usaha harus mengulang proses produksi menggunakan bahan baku dan modal baru.

“Akibat pemadaman mendadak tersebut, sebanyak 1.008 roti gagal diproduksi. Rugi tenaga dari para pekerja juga yang sudah kelelahan dalam memproduksi dan harus mengulang produksi lagi,” ujar Syahbani, Selasa (11/8/2026).

Selain kehilangan waktu dan tenaga pekerja, Nurlela Bakery memperkirakan kerugian materiil akibat bahan baku yang terbuang mencapai sekitar Rp863 ribu. “Kita perkirakan kerugian materiil itu sekitar Rp863 ribu untuk bahan-bahan yang telah digunakan dalam proses pembuatan roti,” jelasnya.

Kerugian tersebut, kata dia, belum termasuk tenaga pekerja yang sebelumnya telah menghabiskan waktu dalam proses produksi. Kondisi itu membuat pihaknya harus kembali mengeluarkan modal untuk memulai produksi dari awal.

“Kalau sudah gagal begitu, mau tidak mau kita harus melakukan proses pembuatan roti dengan menggunakan bahan dan modal baru,” keluhnya.

Menurutnya, gangguan serupa bukan kali pertama terjadi. Pemadaman listrik yang berlangsung tiba-tiba dinilai kerap mengganggu aktivitas produksi, terlebih ketika pelaku usaha tidak dapat mengantisipasi sebelumnya.

Persoalan juga terjadi pada informasi jadwal pemadaman. Syahbani mengaku telah menerima jadwal pemadaman dari pihak terkait, namun alamat usaha mereka tidak tercantum sebagai lokasi yang terdampak.

“Sering sudah terjadi, kami dapat jadwal pemadaman listrik, tapi tidak ada tertera bahwa alamat kami akan terdampak pemadaman listrik. Tapi tiba-tiba saja listrik di alamat kami juga dipadamkan,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kesulitan menyiapkan langkah antisipasi, terutama untuk mengamankan bahan baku dan peralatan produksi yang membutuhkan pasokan listrik.

Keluhan serupa juga disampaikan pelaku usaha kedai kopi. Wiby, salah satu pelaku UMKM coffeeshop di Nunukan. Ia mengatakan, pemadaman listrik turut mengganggu operasional usaha, khususnya dalam menjaga kualitas bahan baku yang membutuhkan penyimpanan dalam suhu dingin.

“Pemadaman listrik begini mengganggu operasional. Mau buat kopi tidak bisa. Kualitas bahan baku juga yang harusnya terjaga dalam suhu dingin, tapi karena kulkas tidak menyala, kualitas bahan baku bisa menurunkan kualitas produk kopi kami,” ujarnya.

Ia juga mengkhawatirkan kondisi peralatan produksi, seperti mesin kopi, apabila listrik mati secara mendadak. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan peralatan dan menambah biaya perbaikan.

“Terlebih lagi kita takutkan alat-alat produksi kami seperti mesin kopi kalau tiba-tiba mati, bisa ngedrop dan pasti butuh biaya lagi untuk perbaikan,” jelas Wiby.

Para pelaku UMKM berharap PLN dapat memberikan informasi pemadaman yang lebih akurat dan memastikan pemberitahuan yang disampaikan sesuai dengan kondisi di lapangan. Dengan demikian, pelaku usaha dapat melakukan persiapan agar kerugian akibat pemadaman dapat diminimalkan.

Mereka juga berharap adanya langkah perbaikan untuk menjaga kestabilan pasokan listrik. Sebab, bagi pelaku UMKM, listrik menjadi salah satu penunjang utama dalam menjalankan proses produksi dan operasional sehari-hari.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, Satukaltara.com belum memperoleh keterangan resmi dari PLN terkait keluhan dan dampak pemadaman listrik terhadap pelaku UMKM tersebut.

Saat tim mendatangi Kantor Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Nunukan di Jalan Pembangunan, Kecamatan Nunukan Barat, manajer ULP yang baru disebut sedang berada di lapangan. Tim kemudian diminta menunggu hingga manajer dapat memberikan pernyataan resmi.

Pihak PLN juga menyampaikan bahwa di tingkat ULP Nunukan tidak terdapat bagian humas yang secara khusus menangani komunikasi dengan media. Karena itu, keterangan resmi mengenai persoalan pemadaman listrik masih menunggu pernyataan dari manajer ULP PLN Nunukan. (ryn)

Back to top button