NUNUKAN – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi belakangan ini di Kabupaten Nunukan menuai keluhan masyarakat. Pasalnya, sejumlah wilayah mengalami listrik padam secara tiba-tiba meski tidak tercantum dalam jadwal pemadaman yang dibagikan PLN melalui berbagai media sosial.
Menanggapi keluhan tersebut, Manager Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Nunukan, Putu Sudiarta menjelaskan, pemadaman di luar jadwal tidak seluruhnya merupakan pemadaman yang direncanakan. Sebagian terjadi akibat sistem proteksi otomatis yang bekerja ketika mendeteksi gangguan atau perubahan beban pada sistem kelistrikan.
Putu menjelaskan, sistem kelistrikan Nunukan dan Sebatik saling terhubung. Pembangkit yang berada di Sei Bilal, pembangkit gas di Sebaung, serta Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Sebatik tersinkronisasi dalam satu sistem untuk menyalurkan listrik kepada pelanggan.
“Kondisi mesinnya itu ada di Sei Bilal, dan mesin gas di Sebaung serta ada PLTD di Sebatik. Itu menyambung dalam satu kabel untuk menyalurkan listrik ke pelanggan, istilahnya ada sinkron di dalamnya,” jelas Putu.
Menurutnya, kondisi sistem kelistrikan Nunukan yang relatif kecil membuat perubahan beban secara mendadak dapat memberikan dampak cukup besar. Salah satunya ketika pelanggan secara bersamaan menyalakan peralatan berdaya besar yang dapat menimbulkan hentakan atau perubahan beban pada sistem.
“Kalau normal pemakaiannya maka tidak akan terjadi fluktuatif. Sebagai contoh, tiba-tiba pelanggan menyalakan pompa, itu akan mengakibatkan kejut terhadap sistem. Sistem kita ini kecil, kurang lebih 20 megawatt, maka jika ada sedikit saja hentakan terhadap sistem maka akan mempengaruhi kondisi mesin dan akan otomatis terjadi pemadaman total,” katanya.
Untuk mencegah gangguan tersebut berkembang menjadi pemadaman yang lebih luas, PLN menerapkan sistem proteksi yang dapat melepaskan jalur tertentu secara otomatis ketika mendeteksi perubahan frekuensi yang fluktuatif.
“Makanya kita setting frekuensi kejutnya. Hanya sedikit saja akan terlepas otomatis satu jalur. Maka dari itu kerap terjadi pemadaman terhadap jalur yang tidak tercantum dalam jadwal pemadaman,” ungkapnya.
Putu menyebutkan, jaringan kelistrikan di Nunukan dan Sebatik terbagi menjadi sekitar 12 jalur. Delapan jalur berada di wilayah Nunukan, sementara empat jalur lainnya berada di Sebatik.
“Kita di Nunukan ada sekitar 12 jalur, delapan di Nunukan dan empat jalur di Sebatik. Maka dari itu jika ada jalur yang frekuensinya lebih sensitif maka akan terjadi pemadaman otomatis,” jelasnya.
Ia menegaskan, pemadaman di luar jadwal yang dirasakan masyarakat tidak selalu berarti PLN melakukan pemadaman secara mendadak tanpa perencanaan. Kondisi tersebut dapat terjadi sebagai respons otomatis sistem untuk menjaga kestabilan jaringan dan melindungi mesin pembangkit dari gangguan.
Sistem proteksi tersebut, lanjut Putu, menjadi bagian penting dalam menjaga peralatan pembangkit dan jaringan. Dengan mekanisme itu, gangguan pada satu bagian sistem diharapkan tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar dan menyebabkan pemadaman secara luas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan PLN dalam menjaga keandalan pasokan listrik di Nunukan dan Sebatik, terutama di tengah keterbatasan kapasitas pembangkit serta kebutuhan listrik masyarakat yang terus meningkat. (ryn)

