KALTARABULUNGANFEATURE

Dari Keterbatasan, Lahir Batik Karya Perempuan Disabilitas Bulungan

Sebelas Kain Terjual, Semangat Terus Berkarya

Lilin panas, kain putih, dan terik matahari menjadi bagian dari keseharian anggota Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Bulungan. Di tengah keterbatasan fisik, mereka menemukan ruang untuk berkarya, membatik, mengolah kain dengan tangan sendiri, lalu menjualnya kepada masyarakat.

Rewinda Karinata satukaltara.com

Bagi Ketua HWDI Kabupaten Bulungan, Anastasia Onikein, perjalanan itu bermula dari niat sederhana mengisi waktu luang dengan kegiatan produktif. Keahlian membatik mereka peroleh melalui pelatihan yang digelar Dinas Sosial Kabupaten Bulungan.

Percobaan pertama jauh dari kata sempurna. Warna belum sesuai harapan, teknik membatik pun belum dikuasai. “Pertama kami buat, agak kecewa. Belum tahu warna dan cara-caranya. Tapi lama-lama kami terus mencoba, hasilnya mulai bagus,” ujar Anastasia.

Jeda cukup panjang sempat membuat keterampilan tersebut jarang dipraktikkan. Namun anggota HWDI yang terdiri atas penyandang daksa dan tunarungu sepakat kembali mengasah kemampuan mereka. Mereka belajar lagi dari awal, mencoba berbagai teknik, dan memperbaiki hasil setiap kali menemukan kekurangan.

Membatik bukan pekerjaan mudah bagi mereka. Proses melorot atau merebus lilin menjadi tantangan tersendiri. Cuaca juga ikut menentukan. Kain membutuhkan paparan sinar matahari yang cukup agar proses pengeringan sekaligus penguncian warna berjalan optimal. Ketika hujan turun, pekerjaan terpaksa dihentikan agar lilin tidak pecah dan merusak motif.

Keterbatasan itu justru membuat kerja bersama menjadi penting. Anggota tunarungu mengambil peran dalam sejumlah tahapan, mulai dari penjemuran, pemberian waterglass, hingga perebusan kain. Setiap anggota mengerjakan bagian yang mampu mereka lakukan.

Usaha yang ditekuni secara intensif selama sekitar tiga bulan itu mulai menghasilkan. Sebanyak 11 lembar kain batik berukuran 2,7 meter telah terjual. Pembelinya antara lain sejumlah instansi pemerintah daerah, seperti Bappeda dan Dinas Sosial Kabupaten Bulungan.

Setiap lembar kain dipasarkan dengan harga Rp300 ribu. Promosi dilakukan melalui WhatsApp, siaran langsung TikTok, serta berbagai pameran UMKM. Bagi Anastasia, penjualan itu bukan semata soal pendapatan, melainkan bukti bahwa penyandang disabilitas juga mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi.

“Kami harap teman-teman media juga dapat membantu mempublikasikan hasil karya kami,” harap Anastasia.

Ia mengapresiasi dukungan alat dan bahan dari Dinas Sosial Kabupaten Bulungan serta pendampingan dari berbagai pihak. Dukungan tersebut, menurut dia, menjadi modal penting agar anggota HWDI terus berani mencoba.

Kini, kain-kain batik itu menjadi lebih dari sekadar lembaran bermotif. Di balik setiap garis dan warna, tersimpan cerita tentang ketekunan, kerja sama, dan keberanian perempuan penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Anastasia berharap semangat anggota HWDI Bulungan tetap terjaga. Mereka ingin terus belajar, memperbaiki kualitas batik, sekaligus memperluas pemasaran agar karya yang lahir dari tangan mereka semakin dikenal. (***)

Back to top button