KALTARATARAKAN

Jalan Pantai Amal Ditutup, Bara Batu Bara Merambat di Bawah Jalan

TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan menutup akses jalan di kawasan Pantai Amal dari dua arah setelah material batu bara terbakar dan diduga merambat di bawah badan jalan. Jalan ditutup karena sebagian konstruksi di bawahnya mulai kosong dan berisiko ambles jika dilalui kendaraan.

Wali Kota Tarakan Khairul mengatakan, keputusan itu diambil setelah pemerintah bersama TNI, Polri, perangkat daerah, sekolah, puskesmas, dan sejumlah instansi terkait meninjau lokasi. Dari pemeriksaan awal, rongga di bawah badan jalan sudah terbentuk hampir separuh bagian.

“Bagian bawah jalan sudah kelihatan kosong hampir separuh. Kita khawatir kalau ada orang atau kendaraan yang lewat kemudian terjadi runtuhan,” kata Khairul.

Penutupan berlaku bagi kendaraan dari arah Pantai Amal maupun Universitas Borneo Tarakan (UBT). Pemerintah menyiapkan sejumlah jalur alternatif. Warga menuju Pantai Amal dapat menggunakan jalan rigid di depan kawasan Marinir, melewati jembatan, lalu menyusuri kawasan wisata. Akses menuju RT 1 dan RT 2 dapat ditempuh melalui Karungan dan Mamburungan Timur. Jalur hasil program TMMD menuju kawasan depan Marinir juga dapat digunakan.

Khairul mengatakan, penanganan tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman api yang terlihat di permukaan. Bara pada material batu bara diduga masih tersimpan di bawah tanah dan bergerak perlahan seperti api dalam sekam.

Karena itu, badan jalan di titik tertentu akan diputus dan dikeruk untuk mengetahui jalur rambatan api. Material yang terbakar akan dimatikan, sementara bagian yang belum terbakar juga diputus agar api tidak menjalar lebih jauh. Setelah penanganan, ruas jalan akan ditimbun kembali dan disiram.

“Jalannya harus diputus, dikeruk, kemudian ditimbun lagi dan disiram. Bagian yang sudah terbakar dimatikan. Bagian yang belum terbakar juga harus diputus supaya rambatannya tidak terus bergerak ke tempat lain,” ujarnya.

Pemerintah juga menyiapkan sejumlah kolam kecil sebagai sumber air untuk pemadaman dan antisipasi munculnya titik api baru. Kebutuhan air akan didukung UBT yang lokasinya berdekatan dengan area terdampak. Dinas Pekerjaan Umum menangani pengerukan, pembuatan kolam, pemutusan badan jalan, hingga pemulihan ruas jalan.

Pekerjaan fisik ditargetkan segera dimulai. Khairul berharap pengerjaan dapat dimulai pada hari yang sama atau paling lambat keesokan harinya. Namun, durasi penanganan belum dapat dipastikan karena kondisi di bawah permukaan belum sepenuhnya diketahui.

“Kita belum tahu seberapa jauh merambat di dalam. Api seperti api dalam sekam, bergeraknya pelan. Ini materialnya batu bara, jadi kita tidak bisa hanya melihat dari permukaan,” kata dia.

Keberadaan UBT menjadi salah satu perhatian pemerintah. Sejumlah bangunan dan fasilitas kampus berada dekat dengan lokasi material batu bara yang terbakar. Pemerintah meminta proses penanganan dikawal untuk mencegah risiko terhadap warga kampus.

“UBT ini yang paling dekat dan cukup mengkhawatirkan karena bangunan-bangunannya berada di sekitar lokasi. Jadi harus sama-sama dikawal,” ujar Khairul.

BPBD Tarakan akan memantau lokasi selama pengerjaan untuk mengantisipasi titik api baru dan potensi bahaya bagi pekerja maupun masyarakat. Penanganan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, kepolisian, Kodim, TNI AL, kecamatan, serta kelurahan.

Khairul mengatakan, ruas jalan yang ditutup kini telah menjadi kewenangan Pemerintah Kota Tarakan. Status jalan tersebut beralih dari jalan provinsi menjadi jalan kota sejak akhir Desember 2025, mencakup akses dari Gunung Amal menuju pintu kawasan wisata hingga jalur menuju pintu Marinir.

“Sejak akhir Desember jalan ini sudah menjadi jalan kota. Karena sudah menjadi jalan kota, Pemkot bisa langsung mengambil keputusan untuk penanganannya. Kalau masih jalan provinsi, tentu kita harus konsultasi dulu,” katanya. (rz)

Back to top button