TARAKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Jusuf SK Tarakan baru memiliki 341 tempat tidur, jauh dari kapasitas ideal sekitar 500 bed. Kekurangan ruang rawat itu membuat pasien berpotensi mengantre ketika kunjungan melonjak.
Plt Direktur RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan, dr. Budy Azis mengatakan, antrean biasanya terjadi setelah momentum Lebaran, Iduladha, atau ketika kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat. “Jadi, ada yang harus menunggu karena kamar yang sesuai belum tersedia,” kata Budy.
Kapasitas 341 bed itu tersebar di sejumlah kelas perawatan. Kelas VIP memiliki delapan kamar, kelas 1 sekitar 40 kamar, sedangkan kelas 2 hanya 14 kamar. Kapasitas terbesar berada di kelas 3. Jumlah bed berbeda dengan jumlah kamar karena satu kamar dapat berisi satu hingga empat tempat tidur.
Menurut Budy, kepadatan ruang rawat bersifat dinamis. Ketika kelas tertentu penuh, pasien dapat ditempatkan sementara di kelas yang lebih tinggi tanpa tambahan biaya. Setelah ruang sesuai hak perawatan tersedia, pasien akan dipindahkan kembali. “Misalnya pasien kelas 3, kelas 3-nya penuh, sementara kelas 2 kosong, kita titipkan dulu di kelas 2. Tidak ada penambahan biaya,” ujarnya.
Pasien yang menunggu ruang rawat juga tetap mendapat penanganan medis di UGD. Pemeriksaan penunjang hingga konsultasi dokter spesialis tetap dilakukan sesuai kebutuhan.
Lonjakan pasien antara lain terjadi saat kasus DBD meningkat. RSUD Jusuf SK memiliki ruang perawatan khusus anak dengan kapasitas sekitar 40 bed yang dinilai cukup untuk menangani pasien DBD anak.
Namun, Budy menilai kapasitas keseluruhan rumah sakit masih perlu ditambah. Sebagai rumah sakit rujukan utama Kaltara, RSUD Jusuf SK idealnya memiliki sekitar 500 bed.
“Kita masih kurang. Harusnya kita punya sekitar 500 bed karena status kita sebagai rumah sakit rujukan,” kata Budy.
Rumah sakit telah mengusulkan pengembangan fasilitas, termasuk pembangunan gedung baru. Lahan di kawasan rumah sakit masih memungkinkan untuk ekspansi. Usulan pembangunan gedung baru ditargetkan diajukan ke Kementerian Kesehatan tahun depan.
“Kalau kapasitas tempat tidur tidak ditambah, ketika pasien sedang ramai, antrean akan tetap terjadi,” ujar Budy. (rz)