NUNUKAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi ancaman kesehatan warga Nunukan. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Nunukan memperketat kesiapsiagaan layanan di RSUD dan seluruh puskesmas untuk mengantisipasi lonjakan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan pernapasan lainnya.
Kepala Dinkes P2KB Nunukan Miskia meminta tenaga medis meningkatkan kewaspadaan menyusul penurunan kualitas udara di sejumlah kawasan. Fasilitas kesehatan diminta siap menerima warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Miskia juga mengingatkan masyarakat tidak menunda pemeriksaan apabila mulai merasakan gejala gangguan pernapasan. Warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami sesak napas, batuk terus-menerus, nyeri dada, atau pusing.
“Segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala sesak napas, batuk terus-menerus, nyeri dada, atau pusing,” tegas Miskia, Selasa (1/9/2026).
Untuk mengurangi risiko paparan, Miskia mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika kepekatan asap meningkat. Orang tua diminta membatasi aktivitas anak di luar ruangan dan menunda olahraga outdoor. Warga yang terpaksa keluar rumah dianjurkan menggunakan masker medis yang menutup hidung dan mulut dengan rapat.
Menurut Miskia, asap sisa karhutla mengandung partikel berbahaya yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan tersebut tidak hanya berpotensi memicu ISPA, tetapi juga memperburuk asma serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.
“Paparan asap sisa kebakaran hutan dan lahan mengandung partikel berbahaya yang dapat memicu ISPA, asma, hingga iritasi mata dan kulit,” jelasnya.
Miskia juga meminta warga menutup jendela dan ventilasi rumah saat asap semakin pekat. Masyarakat dianjurkan memperbanyak minum air putih untuk menjaga hidrasi dan mengurangi rasa tidak nyaman pada tenggorokan.
Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga perlu diperkuat. Warga diminta rajin mencuci tangan dan wajah setelah beraktivitas serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur.
Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan riwayat penyakit paru-paru dan jantung. Kelompok ini dinilai lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara.
Melalui kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dan kewaspadaan masyarakat, Dinkes P2KB Nunukan berharap dampak kesehatan akibat karhutla dapat ditekan.
“Mari bersama-sama saling menjaga dan melindungi kesehatan keluarga kita dari bahaya kabut asap. Tetap waspada, tetap sehat,” pungkas Miskia. (ryn)