NUNUKAN – Kabut asap yang menyelimuti wilayah Nunukan tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di darat, tetapi juga mulai berdampak pada keselamatan pelayaran. Menyikapi potensi menurunnya jarak pandang di alur perairan, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Nunukan mengimbau seluruh nakhoda kapal meningkatkan kewaspadaan dan tidak memaksakan pelayaran apabila kondisi dinilai membahayakan.
Kepala KSOP Nunukan Ahmad Kosasi mengatakan, keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas utama di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk akibat sebaran asap.
Menurutnya, kabut asap berpotensi mengurangi visibilitas di jalur pelayaran sehingga dapat meningkatkan risiko kecelakaan apabila tidak diantisipasi sejak dini.
“Keselamatan pelayaran harus menjadi perhatian utama. Jika jarak pandang menurun akibat kabut asap, nakhoda harus menyesuaikan keputusan pelayaran dengan kondisi aktual di lapangan,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).
Kosasi mengimbau nakhoda menunda keberangkatan apabila jarak pandang berada di bawah batas aman operasional kapal. Bagi kapal yang tetap berlayar, kecepatan diminta disesuaikan dengan kondisi alur dan tingkat visibilitas agar awak kapal memiliki waktu cukup untuk merespons potensi bahaya di perairan.
“Kecepatan harus disesuaikan dengan kondisi alur pelayaran dan jarak pandang. Jangan memaksakan pelayaran apabila kondisi tidak memungkinkan,” tegas Kosasi.
Selain pengaturan kecepatan, nakhoda juga diminta mengoptimalkan pengamatan secara terus-menerus, baik secara visual maupun dengan memanfaatkan peralatan navigasi elektronik yang tersedia di kapal. Kesiapan mesin dan kemampuan kapal untuk melakukan manuver darurat juga harus dipastikan guna mengantisipasi risiko tubrukan.
Kosasi menekankan pentingnya komunikasi selama pelayaran. Nakhoda diminta aktif berkoordinasi dengan stasiun radio pantai dan kapal lain untuk saling bertukar informasi mengenai kondisi alur pelayaran, terutama ketika kabut asap mulai mengurangi jarak pandang.
“Kami mengimbau seluruh nakhoda dan operator kapal untuk terus berkomunikasi dengan stasiun radio pantai maupun kapal lain. Informasi mengenai kondisi alur pelayaran sangat penting untuk mendukung keselamatan bersama,” pungkasnya.
Pemberitahuan tersebut menjadi langkah antisipasi agar dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak berkembang menjadi persoalan keselamatan transportasi laut.
KSOP Nunukan memastikan akan terus memantau kondisi di lapangan dan mengingatkan seluruh pengguna jasa pelayaran agar selalu mengutamakan aspek keselamatan. (ryn)

