KALTARAEKONOMINUNUKAN

Kontribusi Besar, Pertumbuhan Nunukan Tertinggal dari Bulungan dan Tarakan

NUNUKAN – Ekonomi Kabupaten Nunukan tumbuh positif pada Triwulan II 2026, tetapi lajunya belum mampu menyamai Bulungan dan Tarakan. Dengan pertumbuhan 3,95 persen secara tahunan, Nunukan berada di posisi ketiga dari lima kabupaten/kota di Kalimantan Utara (Kaltara).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Nunukan menunjukkan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut masih berada di bawah capaian Kaltara yang mencapai 4,96 persen secara year on year (y-on-y). Nunukan terpaut 1,01 poin persentase dari pertumbuhan provinsi.

Kepala BPS Nunukan Iskandar Ahmaddien mengatakan, pertumbuhan ekonomi tertinggi di Kaltara pada periode tersebut dicatat Kabupaten Bulungan sebesar 6,82 persen, disusul Kota Tarakan 4,77 persen. Nunukan berada di atas Tana Tidung yang tumbuh 1,82 persen dan Malinau 0,61 persen.

“Nunukan juga berada di bawah Kabupaten Bulungan yang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,82 persen dan Kota Tarakan sebesar 4,77 persen,” ujar Iskandar.

Angka tersebut menjadi catatan karena Nunukan sebenarnya memiliki bobot ekonomi yang besar di Kaltara. Pada Triwulan II 2026, kontribusi Nunukan terhadap perekonomian provinsi mencapai 27,05 persen, terbesar kedua setelah Tarakan sebesar 37,80 persen. Bulungan menyumbang 17,99 persen.

“Artinya, besarnya kontribusi ekonomi Nunukan belum sepenuhnya diikuti laju pertumbuhan yang tinggi,” ungkapnya.

BPS mencatat nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nunukan atas dasar harga berlaku pada Triwulan II 2026 mencapai Rp11,59 triliun. Sementara PDRB atas dasar harga konstan 2010 tercatat Rp4,95 triliun.

Struktur ekonomi Nunukan masih bertumpu pada sektor berbasis sumber daya alam. Pertambangan dan Penggalian menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 47,26 persen, disusul Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 21,04 persen.

Lima lapangan usaha utama, Pertambangan dan Penggalian, Pertanian, Kehutanan dan Perikanan, Konstruksi, Industri Pengolahan, serta Perdagangan Besar dan Eceran secara keseluruhan menyumbang 90,36 persen terhadap PDRB Nunukan.

Struktur tersebut membuat pertumbuhan ekonomi Nunukan masih sangat dipengaruhi sektor primer. Diversifikasi ekonomi menjadi tantangan agar pertumbuhan tidak hanya bergantung pada aktivitas pertambangan dan komoditas sumber daya alam.

Padahal, lanjuta Iskandar, sejumlah sektor nonprimer menunjukkan pertumbuhan cukup tinggi. Jasa Perusahaan tumbuh 24,78 persen, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 21,17 persen, serta Real Estat 20,35 persen.

“Sejumlah sektor sebenarnya menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Jasa Perusahaan tumbuh 24,78 persen, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 21,17 persen, serta Real Estat 20,35 persen,” kata Iskandar.

Namun, pertumbuhan tinggi pada sejumlah sektor tersebut belum cukup mengubah struktur ekonomi secara signifikan. Dominasi pertambangan dan pertanian masih terlalu besar dalam pembentukan ekonomi Nunukan.

Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 18,11 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,64 persen, sedangkan konsumsi rumah tangga meningkat 4,82 persen.

Pertumbuhan konsumsi pemerintah yang cukup tinggi menunjukkan belanja pemerintah masih menjadi salah satu penggerak ekonomi. Tantangannya, belanja tersebut perlu diarahkan pada kegiatan yang mampu menciptakan dampak produktif dan nilai tambah dalam jangka panjang.

Dengan kontribusi mencapai 27,05 persen terhadap ekonomi Kaltara, capaian pertumbuhan 3,95 persen menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Nunukan. Penguatan hilirisasi, industri pengolahan, perdagangan, jasa, serta investasi menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada sektor berbasis sumber daya alam.

Pertumbuhan ekonomi Nunukan tidak cukup hanya positif. Besarnya kontribusi terhadap ekonomi provinsi perlu diikuti kemampuan menciptakan pertumbuhan yang lebih cepat, lapangan kerja yang lebih luas, serta nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat. (ryn)

Back to top button