TARAKAN – Hujan yang sempat membersihkan udara Tarakan hanya memberi jeda. Kabut asap kembali menyelimuti kota itu, sementara Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menembus angka 101 atau masuk kategori tidak sehat.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan Hidup, dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Kota Tarakan Chaizir Zain mengatakan, ISPU terus menunjukkan tren peningkatan sejak subuh. Indeks bahkan bertambah sekitar tiga hingga lima poin setiap jam. Salah satu pemicunya adalah konsentrasi partikulat halus PM2,5 yang telah berada di atas baku mutu.
“PM2,5 yang terukur sudah berada di atas baku mutu. Setelah dihitung dalam indeks, nilainya berada di 101 sehingga masuk kategori tidak sehat,” ujar Chaizir.
Kondisi udara Tarakan sebelumnya sempat membaik setelah hujan. Namun, asap dari wilayah selatan Kalimantan berpotensi kembali memperburuk kualitas udara karena terbawa angin menuju utara.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Juwata Tarakan Muhammad Sulam Khilmi mengatakan, jarak pandang di Tarakan sempat mencapai sekitar delapan kilometer setelah hujan. Di saat bersamaan, hotspot di Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) masih tinggi.
“Angin dominan bergerak dari selatan ke utara, sehingga asap dari wilayah tersebut bisa terbawa ke Kaltara, termasuk Tarakan,” kata Sulam.
Menurutnya, karhutla di Bulungan bukan sumber utama asap yang masuk ke Tarakan. Selain skalanya tidak signifikan, arah angin juga tidak membawa asap secara langsung ke Tarakan.
“Memang di Bulungan sampai kemarin ada peristiwa karhutla, tetapi tidak signifikan menyumbang asap. Arah anginnya juga lebih ke utara, bukan ke timur menuju Tarakan,” ujarnya.
Konsentrasi asap juga dapat berubah sepanjang hari mengikuti kondisi angin. Pada pagi hari, angin yang relatif tenang membuat partikulat lebih mudah terkumpul di dekat permukaan. Ketika angin menguat, asap dapat kembali terbawa.
DLH mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Penggunaan masker dianjurkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, balita, ibu hamil dan lanjut usia.
Chaizir mengatakan, ISPU Tarakan sebelumnya berada di kisaran 50–60 ketika hujan turun. Penurunan indeks hingga di bawah 50 membutuhkan hujan yang cukup dan berkelanjutan serta pengurangan sumber emisi.
“Untuk turun di bawah 50 perlu dukungan hujan yang cukup dan berlangsung terus, ditambah pengurangan emisi dari berbagai sumber,” bebernya.
Potensi asap kiriman masih perlu diwaspadai hingga akhir September. Sulam menyebut, puncak kemarau di Kaltim, Kalsel dan Kalteng berlangsung pada September, dengan jumlah hotspot jauh lebih tinggi dibandingkan Kaltara.
“Di Kaltara jumlah hotspot kemarin sekitar 30, sementara di Kaltim, Kalsel dan Kalteng bisa mencapai ratusan. Sampai akhir September masih diprediksi panas dan hujan belum banyak,” pungkas Sulam. (rz)