BULUNGAN – Langit Tanjung Selor belum sempat lama terlihat jernih. Sehari setelah kualitas udara membaik, kabut asap kembali menyelimuti ibu kota Kalimantan Utara itu. Pada Kamis (17/9/2026) pagi, konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 152 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut terpantau pada pukul 08.00 WITA melalui alat pemantau PM2.5 milik BMKG Tanjung Harapan-Bulungan. Kondisi itu masuk kategori sangat tidak sehat.
Forecaster On Duty BMKG Tanjung Harapan-Bulungan Agus mengatakan, peningkatan konsentrasi PM2.5 perlu menjadi perhatian, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap paparan polusi udara.
“Kondisi kualitas udara saat ini di Tanjung Selor pada pukul 08.00 WITA, nilai konsentrasi PM2.5 sebesar 152,0 µg/m³ dan masuk kategori sangat tidak sehat,” ujar Agus.
Kondisi tersebut membuat aktivitas di luar ruangan perlu dibatasi. Anak-anak, lanjut Agus, termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian, selain lansia dan warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma.
BMKG mengimbau masyarakat terus memantau perkembangan kualitas udara. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker dengan tingkat filtrasi tinggi, seperti KN95 atau N95.
“Kurangi aktivitas luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan atau yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma. Gunakan masker standar seperti KN95 atau N95 jika terpaksa harus beraktivitas di luar rumah,” katanya.
Di tengah memburuknya kualitas udara, kondisi cuaca Tanjung Selor pada Kamis pagi berada di kisaran 32 derajat Celsius. Cuaca terpantau berawan hingga cerah berawan, dengan suhu yang terasa mencapai sekitar 39 derajat Celsius.
Pemantauan PM2.5 dilakukan BMKG Tanjung Harapan-Bulungan sebagai bagian dari pemantauan kondisi lingkungan dan cuaca. Data tersebut menjadi indikator penting untuk melihat tingkat paparan partikulat halus di udara yang dihirup masyarakat.
Kembalinya kondisi udara ke kategori sangat tidak sehat setelah sempat membaik menunjukkan kualitas udara di Tanjung Selor masih mudah berubah. Masyarakat diminta tidak mengabaikan perubahan kondisi udara, terutama ketika kabut asap kembali terlihat di lingkungan tempat tinggal maupun pusat aktivitas. (rk)