NUNUKAN – Menjaga hutan tidak cukup hanya dengan patroli dan perlindungan kawasan. Pengetahuan publik tentang apa yang dijaga juga menjadi bagian penting dari konservasi.
Pesan itu mengemuka ketika Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memberikan apresiasi kepada satukaltara.com atas kontribusinya dalam menyebarluaskan informasi mengenai konservasi, keanekaragaman hayati, perlindungan hutan, dan pengelolaan kawasan TNKM.
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito mengatakan, media memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan kawasan konservasi kepada masyarakat. Pemberitaan menjadi salah satu jembatan agar berbagai aktivitas di dalam kawasan tidak berhenti sebagai pekerjaan pengelola, tetapi diketahui publik.
“Bagi kami, kemitraan yang terbangun ini tentu sangat berarti. Selama ini telah terjadi komunikasi dan penyebarluasan informasi antara Balai TNKM dengan satukaltara.com bersama sembilan media lainnya di Kalimantan Utara,” kata Seno.
Menurut dia, informasi mengenai konservasi penting disampaikan secara berimbang dan berkelanjutan. TNKM bukan semata kawasan untuk melindungi tumbuhan dan satwa liar, melainkan bentang alam yang berkaitan dengan keberlangsungan ekosistem dan kehidupan masyarakat adat di dalam maupun sekitar kawasan.
Karena itu, isu konservasi tidak cukup dikemas sebatas keberadaan satwa atau luas hutan yang harus dilindungi. Di dalamnya terdapat persoalan ekosistem, sumber daya alam, budaya masyarakat adat, penelitian, hingga manfaat kawasan bagi generasi mendatang.
“Informasi yang disampaikan kepada masyarakat sangat penting untuk membangun kesadaran bersama. Apa yang dilakukan di kawasan TNKM, termasuk upaya perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati, perlu diketahui masyarakat,” ujarnya.
Seno mengatakan, media memiliki ruang untuk mengangkat lebih banyak aktivitas konservasi yang berlangsung di TNKM. Mulai penelitian, pemantauan satwa liar, perlindungan kawasan, edukasi konservasi, hingga keterlibatan masyarakat dalam menjaga hutan.
Dokumentasi dan publikasi mengenai keanekaragaman hayati, lanjut dia, juga dapat memperkuat dukungan publik terhadap pengelolaan kawasan konservasi.
Arah pengelolaan TNKM sendiri mencakup pelestarian ekosistem, perlindungan spesies penting dan dilindungi, pemanfaatan sumber daya alam berbasis kearifan lokal, pengembangan ilmu pengetahuan, serta pengelolaan secara kolaboratif.
Karena itu, kemitraan dengan media diharapkan tidak berhenti pada penyampaian informasi. Balai TNKM ingin kerja sama tersebut berkembang menjadi bagian dari peningkatan literasi konservasi masyarakat.
“Harapannya, kemitraan ini dapat terus berjalan dan semakin baik. Media memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi sehingga masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kawasan TNKM,” kata Seno.
Ia menegaskan, konservasi bukan pekerjaan yang dapat dipikul sendiri oleh Balai TNKM. Pemerintah, masyarakat adat, dunia usaha, lembaga pendidikan, peneliti, media, dan pemangku kepentingan lainnya memiliki peran dalam menjaga kawasan tersebut.
“Konservasi bukan hanya menjadi tanggung jawab Balai TNKM. Ini merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, sinergi dengan berbagai pihak, termasuk media, sangat kami butuhkan,” pungkasnya. (ryn)

