TARAKANKALTARA

Kendaraan Menumpuk Saat Kebakaran, PMK Minta Diberi Akses

TARAKAN — Respons cepat petugas pemadam kebakaran dalam upaya memadamkan api terus berhadapan dengan persoalan klasik, yakni tersumbatnya akses ke lokasi kejadian akibat kerumunan warga dan menumpuknya kendaraan. Kondisi itu juga terjadi saat petugas menangani kebakaran rumah di kawasan Kampung Nelayan, RT 16, Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Tarakan Barat, Kamis (18/9/2026) lalu.

Hal ini juga menjadi perhatian serius Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Satpol PP dan PMK Kota Tarakan, Eko Supriatnoko. Dia menyebut, situasi darurat saat kebakaran menuntut akses yang terbuka agar armada dapat segera mencapai titik api. Ketika api masih berkembang, keterlambatan beberapa menit dapat memengaruhi proses pengendalian api di lapangan.

Persoalan semakin rumit ketika kendaraan warga memenuhi akses menuju lokasi. Motor yang diparkir di sekitar jalur masuk lokasi kejadian, sebut Eko, membuat armada, terutama kendaraan supply, kesulitan bergerak menuju titik kebakaran.

“Kalau orangnya masih mudah kita singkirkan. Yang membuat repot itu kendaraan mereka, karena datang dari jauh, kemudian motornya diparkir di sekitar lokasi. Itu yang menyulitkan supply untuk masuk. Padahal dalam kondisi kebakaran, kami membutuhkan akses secepat mungkin,” kata Eko.

Namun Eko memahami, masyarakat ingin mengetahui langsung kejadian yang berlangsung di lingkungan mereka. Namun, tekannya, jalur yang digunakan armada pemadam perlu tetap kosong agar kendaraan dapat masuk, membawa air, sekaligus melakukan manuver di sekitar titik api.

Aktivitas masyarakat di lokasi kejadian juga semakin beragam, seiring penggunaan media sosial. Eko menyebut terdapat warga yang datang untuk membuat konten maupun melakukan siaran langsung ketika kebakaran berlangsung.

“Silakan kalau memang mau melihat atau menyampaikan informasi. Kami tidak bisa melarang masyarakat datang, apalagi sekarang banyak yang live. Tetapi kami minta bantu kami dengan memberikan ruang,” katanya.

Menurut Eko, persoalan akses menjadi semakin serius ketika api masih besar. Petugas tidak hanya membutuhkan jalur untuk masuk, tetapi juga ruang untuk menempatkan kendaraan dan mengatur suplai air selama proses pemadaman.

Dalam kondisi tersebut, waktu petugas dapat tersita hanya untuk membuka jalan dari kendaraan yang menghalangi. Situasi itu berbeda dengan kondisi ketika akses sudah tersedia sejak awal sehingga armada dapat langsung diarahkan ke titik yang membutuhkan penanganan.

“Kalau kondisinya apinya besar, operator kami tidak mungkin menunggu terlalu lama untuk menyingkirkan motor satu per satu. Kalau ada ruang, ya beri ruang,” tegas Eko.

Eko juga mengapresiasi masyarakat yang memberikan informasi awal mengenai kebakaran. Laporan yang diterima ketika api masih dalam tahap awal membantu petugas bergerak menuju lokasi dan melakukan pengendalian.

Menurutnya, kecepatan laporan perlu diikuti dengan kondisi akses yang mendukung ketika armada tiba. Terlebih, bangunan di kawasan Kampung Nelayan banyak menggunakan material kayu sehingga api dapat berkembang cepat ketika cuaca panas dan angin cukup kuat.

“Kami berterima kasih kepada masyarakat yang menyampaikan informasi dengan cepat. Itu sangat membantu kami,” pungkas Eko. (rz)

Back to top button