TARAKAN – Keselamatan armada PT PELNI kembali diperiksa setelah rangkaian kecelakaan kapal di laut. Namun, di Tarakan, latihan menghadapi keadaan darurat berhadapan dengan waktu sandar kapal yang hanya sekitar tiga hingga empat jam.
Kepala PT PELNI Cabang Tarakan Ferdy Ronny Masengi mengatakan, pemeriksaan terhadap perangkat keselamatan sebenarnya merupakan agenda rutin. Setiap kejadian kecelakaan di laut, kata dia, tetap menjadi bahan evaluasi untuk memastikan peralatan dan prosedur benar-benar siap digunakan.
“Setiap ada kejadian, kami jadikan bahan evaluasi. Pemeriksaan tidak berhenti pada alat keselamatan saja, tetapi kami memastikan seluruh perangkat benar-benar siap digunakan ketika dibutuhkan,” ujar Ferdy.
Latihan keselamatan dilakukan sesuai jadwal dalam setiap round voyage. Pelaksanaannya dapat dilakukan ketika kapal memiliki waktu sandar lebih dari empat jam di pelabuhan tertentu.
Persoalannya, waktu sandar kapal di Tarakan rata-rata hanya tiga hingga empat jam.
Meski demikian, Ferdy memastikan kru tetap menjalankan latihan sesuai prosedur. Latihan tidak hanya berupa pemeriksaan peralatan, tetapi juga memperagakan penggunaannya ketika keadaan darurat terjadi.
“Teman-teman di kapal tidak hanya memeriksa alat, tetapi juga memperagakan bagaimana penggunaannya ketika terjadi keadaan darurat, termasuk cara menggunakan life jacket dan mengatur penumpang,” katanya.
Untuk sekoci, latihan penurunan dilakukan ketika kapal tiba di Tarakan. Namun, sekoci tidak sampai diturunkan ke permukaan air karena pelaksanaannya membutuhkan ketentuan teknis serta izin dari Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
Selain latihan kru, kondisi armada diperiksa melalui ramp check secara berkala. Pemeriksaan dilakukan secara internal oleh PELNI dan secara eksternal oleh KSOP.
Evaluasi dilakukan dalam rentang sekitar dua hingga tiga bulan untuk memastikan kondisi kapal serta perangkat keselamatan tetap memenuhi ketentuan.
Dua armada PELNI yang melayani Tarakan, yakni KM Lambelu dan KM Bukit Siguntang, masing-masing memiliki kapasitas sekitar 2.000 penumpang. Untuk mengantisipasi keadaan darurat, setiap kapal dilengkapi sekitar 4.000 life jacket.
“Jumlahnya memang kami siapkan lebih dari kapasitas penumpang. Sekitar 4.000 life jacket tersedia di kapal, dan kondisinya harus terus dipastikan layak,” ujar Ferdy.
Peralatan keselamatan tersebut juga memiliki masa layak pakai. Penggantian life jacket mulai dipersiapkan beberapa bulan sebelum batas penggunaannya berakhir.
Hal serupa diterapkan terhadap alat pemadam api ringan atau APAR. Masa berlaku peralatan dipantau dan penggantian mulai dipersiapkan satu hingga dua bulan sebelum kedaluwarsa.
Faktor cuaca juga menjadi bagian dari pemantauan sebelum kapal beroperasi.
Informasi cuaca dari BMKG diperbarui dan dipantau oleh kru kapal serta control room PELNI di kantor pusat.
“Informasi cuaca dari BMKG selalu kami update. Kru di kapal dan control room pusat sama-sama memonitor sehingga kondisi cuaca menjadi salah satu pertimbangan dalam operasional maupun pelaksanaan latihan keselamatan,” katanya.
Dalam kondisi cuaca normal, penumpang juga dapat dilibatkan dalam simulasi agar mengetahui prosedur yang harus dilakukan apabila terjadi keadaan darurat.
Sementara itu, arus penumpang PELNI di Tarakan masih tergolong normal. Pada Selasa (22/9/2026), KM Bukit Siguntang dijadwalkan menurunkan sekitar 817 penumpang dan menaikkan sekitar 837 penumpang di Tarakan.
Menurut Ferdy, angka tersebut belum menunjukkan penurunan trafik penumpang.
Dua armada PELNI melayani Tarakan sekitar dua kali dalam sepekan dengan pola trayek berbeda. Jarak keberangkatan antarkapal juga diatur agar tersedia armada lain ketika terjadi lonjakan penumpang.
KM Bukit Siguntang dari Tarakan melanjutkan pelayaran menuju Nunukan, Balikpapan, Parepare, Makassar hingga Larantuka. Pola trayek lainnya melayani hingga Maumere.
Lonjakan penumpang biasanya terjadi pada periode Natal dan Tahun Baru, libur sekolah, serta angkutan Lebaran.
Namun, pemeriksaan keselamatan tidak menunggu datangnya musim padat penumpang. PELNI menyatakan pemeriksaan alat dan kesiapan kru tetap dilakukan secara berkala, termasuk memastikan peralatan yang mendekati batas masa penggunaan sudah diganti.
“Pemeriksaan keselamatan tetap berjalan di luar masa padat penumpang. Kami memastikan setiap alat berfungsi, masih layak dan siap digunakan,” pungkas Ferdy. (rz)

