UMUM

LBMK Serahkan Usulan, Bahasa Tidung Siap Bergema di Bandara Juwata

TARAKAN – Dewan Pengurus Besar (PB) Lembaga Budaya Melayu Kalimantan (LBMK) secara resmi mengusulkan agar Bahasa Tidung, warisan etnis asli Kalimantan Utara, digunakan dalam pengumuman dan penanda di Bandara Juwata Tarakan. Inisiatif itu diharapkan menjadi jembatan promosi budaya daerah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, seiring upaya nasional melestarikan keragaman bahasa Indonesia di tengah arus globalisasi yang tak kenal lelah.

Usulan tersebut tertuang dalam surat bernomor 131/LBMK/X/2025 bertanggal 19 Oktober 2025, yang ditandatangani Ketua Umum LBMK H. Fadlan Hamid dan Sekretaris Jenderal Drs. H. Ahmad Saleh, S.Sos., MP. Surat disampaikan kepada Menteri Perhubungan Republik Indonesia, dengan tembusan kepada Gubernur Kalimantan Utara, Wakil Gubernur, Ketua DPRD Provinsi, Kepala Bandara Juwata, serta Wali Kota Tarakan.

Pengajuan ini didasari hasil Musyawarah Dewan Pengurus Besar LBMK bersama tokoh masyarakat Tarakan pada 2 Oktober 2025, yang menekankan pentingnya sosialisasi Bahasa Tidung sebagai elemen krusial kekayaan budaya nasional.  “Bayangkan saja, saat penumpang mendarat di Tarakan dan mendengar pengumuman selamat datang dalam Bahasa Tidung yang lembut dan penuh makna. Itu seperti pelukan hangat dari leluhur kita, langsung menyapa hati wisatawan dari mana pun,” ujar Sekretaris PB LBMK Kalimantan, Ahmad Saleh dengan nada antusias saat diwawancarai pada Senin 10 November 2025.

LBMK, yang dideklarasikan pada 20 Juli 2022 dan dikukuhkan secara resmi pada 22 Desember 2022, berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya Melayu di Kalimantan. Organisasi ini menaungi delapan etnis utama, termasuk Tidung, Bulungan, dan Berau. Penerapan bahasa daerah di fasilitas publik seperti bandara dipandang sebagai strategi jitu untuk menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap “bahasa ibu” mereka, di saat identitas lokal sering tergerus oleh dominasi bahasa global.

“Kami melihat gelombang antusiasme dari anak-anak muda di musyawarah itu. Mata mereka berbinar saat membahas frasa sederhana seperti ‘selamat datang’ dalam Tidung. Ini bukan lagi sekadar ide, ini adalah api yang sudah menyala, dan kami ingin menyalakannya lebih terang di bandara,” tambah Saleh.

Praktik serupa telah diterapkan di berbagai bandara Indonesia untuk memperkaya pengalaman penumpang. Misalnya, Bandara Juanda di Surabaya menggunakan bahasa Suroboyoan untuk pengumuman keterlambatan penerbangan, sementara Bandara Internasional Adisutjipto di Yogyakarta menyisipkan bahasa Jawa setelah pengumuman berbahasa Indonesia dan Inggris.

Bandara H. Aroeppala di Selayar, Sulawesi Selatan, juga menambahkan bahasa daerah setempat, begitu pula Bandara Sam Ratulangi di Manado yang mengintegrasikan bahasa Manado. Bahkan, maskapai Garuda Indonesia sering menyematkan frasa bahasa daerah dalam pengumuman penerbangan nasional untuk menonjolkan nuansa lokal.

Di Tarakan, Bandara Juwata sebagai gerbang utama Kalimantan Utara dengan lalu lintas penumpang yang mencapai puncak lebih dari 1.000 orang per hari pada periode libur seperti Lebaran, diproyeksikan dapat memaksimalkan potensi promosi ini.

“Bayangkan wisatawan asing yang baru tiba, mendengar ‘terima kasih’ dalam Tidung yang ritmis. Itu akan jadi cerita abadi yang mereka bawa pulang, sekaligus undangan untuk menjelajahi hutan adat dan tarian tradisional kita,” tegas Saleh.

Penggunaan Bahasa Tidung di bandara akan menambah khazanah budaya Indonesia sekaligus mempromosikan kearifan lokal kepada para wisatawan. LBMK optimis usulan ini akan mendapat dukungan, mengingat komitmen pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, yang secara eksplisit melindungi dan mendorong penggunaan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas bangsa.

Langkah LBMK ini melampaui sekadar simbolisme. Ia merupakan seruan aksi konkret untuk menjaga mosaik budaya Indonesia. Seperti kata Saleh dengan penuh keyakinan, “Ini adalah cara kita mengukuhkan akar, agar generasi mendatang tetap terhubung dengan warisan leluhur, bukan dengan paksaan, tapi dengan senyuman yang tulus saat mendengar bahasa nenek moyang bergema di udara bandara.” (fir)

Show More
Back to top button