KALTARAHUKUM & KRIMINALNUNUKAN

Perbatasan Nunukan Rawan Disusupi Narkoba, BNNP Soroti Jalur Tikus hingga Keterbatasan Pengawasan

NUNUKAN – Ancaman peredaran narkoba di wilayah perbatasan kembali menjadi sorotan.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara, Abdul Hasyim menegaskan, Kabupaten Nunukan merupakan salah satu titik rawan yang membutuhkan pengawasan ekstra ketat.
Hal itu disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja ke Nunukan, baru-baru ini.

Ia menilai posisi strategis daerah perbatasan dengan akses pelabuhan internasional seperti Tunon Taka, serta kedekatan dengan Malaysia, membuka celah bagi masuknya narkotika dari luar negeri.

“BNN secara keseluruhan membutuhkan kolaborasi dan koordinasi yang kuat, khususnya dengan pihak kepolisian daerah. Apalagi dengan keterbatasan personel BNNK, sinergi menjadi kunci utama,” ujar Abdul Hasyim.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam pemberantasan narkoba di perbatasan bukan hanya pada luas wilayah, tetapi juga banyaknya jalur tidak resmi atau “jalur tikus” yang kerap dimanfaatkan pelaku untuk menyelundupkan barang haram.

Kondisi geografis Nunukan yang terdiri dari wilayah daratan, kepulauan, hingga daerah terpencil seperti Krayan yang hanya bisa diakses melalui jalur udara, semakin menyulitkan pengawasan.

Krayan sendiri berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia, sehingga memiliki kerentanan tinggi terhadap aktivitas lintas batas ilegal.

Selain itu, Pulau Sebatik yang berhadapan langsung dengan Tawau, Malaysia, juga menjadi titik krusial. Salah satu jalur penyeberangan di Aji Kuning bahkan hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, sehingga berpotensi dimanfaatkan untuk mobilitas cepat, termasuk oleh jaringan narkoba.

Bupati Nunukan H. Irwan Sabri mengakui jika kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dan aparat penegak hukum.

Dengan luas wilayah yang mencakup 232 desa dan 21 kecamatan, pengawasan menyeluruh tidak mudah dilakukan.

“Memang sangat sulit memberantas narkoba di wilayah ini, sehingga dibutuhkan kerja sama dari semua pihak,” ungkapnya.

BNNP juga menekankan upaya pemberantasan narkoba harus berjalan seiring dengan penyelamatan generasi muda dari ancaman penyalahgunaan. Langkah ini menjadi bagian dari visi besar menuju Indonesia Emas 2045.

“Kita harus menghindarkan generasi muda dari hal-hal negatif. Ini bukan hanya tugas BNN, tapi tanggung jawab bersama,” tegas Abdul Hasyim.

Di sisi lain, Kepala BNN Kabupaten (BNNK) Nunukan, Anton Suriyadi Siagian mengungkapkan perlunya dukungan infrastruktur, termasuk penyediaan lahan untuk pembangunan fasilitas rehabilitasi bagi pengguna narkoba.

“Dukungan fasilitas penting untuk memutus mata rantai peredaran dari sisi permintaan,” ujarnya.

Dengan berbagai tantangan tersebut, kunjungan BNNP diharapkan mampu memperkuat sinergi lintas sektor, sekaligus mempertegas bahwa wilayah perbatasan seperti Nunukan tidak boleh menjadi pintu masuk empuk bagi peredaran narkoba. (sym)

Show More
Back to top button