Batas Bergeser ke Indonesia, Bagaimana Nasib Rumah 2 Negara di Sebatik?

NUNUKAN – Siapa yang tidak kenal dengan ‘Rumah 2 Negara’ di Sebatik, Kabupaten Nunukan? Hampir semua orang dari luar Nunukan yang berkunjung ke Sebatik, pasti tak melewatkan momen berkunjung ke Rumah 2 Negara, yakni rumah dengan dapur di Malaysia dan ruang tamu di Indonesia.
Namun belakangan, nasib rumah yang berdiri di sisi sungai yang menjadi batas kedua negara, bakal tidak sama lagi. Hal tersebut terjadi setelah pemerintah pusat melalui Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari mengumumkan hasil diplomasi terkait perbatasan Indonesia – Malaysia di Pulau Sebatik belum lama ini.
Kabar ini pun menjadi perhatian Anggota DPRD Kaltara asal Sebatik, Ladullah. Meski masih terdapat silang pendapat perihal kesepakatan batas ini, Indonesia, kata dia, adalah pihak yang paling diuntungkan.
“Wilayah yang kembali ke Indonesia jauh lebih luas, sehingga dampaknya cukup besar bagi masyarakat perbatasan,” kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut kepada satukaltara.com.
Ia mencontohkan, salah satu kawasan ikonik perbatasan, yaitu ‘Rumah Dua Negara” yang viral sejak lama. Kini, bangunan unik tersebut resmi sepenuhnya masuk ke dalam wilayah Indonesia. Ladullah juga memastikan, akan ada proses ganti rugi dalam kesepakatan ini dan dipastikan melibatkan berbagai pihak, mulai dari kabupaten, provinsi, hingga pusat sebagai bentuk kompensasi.
“Ini masih berproses, mulai dari kabupaten, provinsi sampai pusat. Karena ini menyangkut batas negara, tentu bukan kewenangan daerah sepenuhnya,” tegasnya .
Sejauh ini, pemerintah pusat melalui Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dikabarkan telah melakukan penilaian lahan dan aset masyarakat pada Januari 2026 lalu di tiga desa, yaitu Desa Aji Kuning, Maspul, dan Seberang. Penilaian dilakukan pada 63 persil lahan yang terdampak .
Dengan diputuskannya batas baru ini, Ladullah berharap masyarakat dapat segera memanfaatkan lahan seluas 127,3 hektare yang kini sah menjadi milik Indonesia. Kawasan ini diyakini memiliki potensi besar, terutama untuk sektor perkebunan yang sebelumnya berada dalam klaim Malaysia.
Dana operasional sebesar Rp86 miliar pun telah disiapkan pemerintah untuk tahun 2026 guna mengoptimalkan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sebatik sebagai garda terdepan ekonomi Indonesia. (rm)