KALTARANUNUKAN

Dinkes Nunukan Ingatkan Waspada Penyebaran Hanta Virus di Perbatasan

NUNUKAN – Otoritas kesehatan di Kabupaten Nunukan mulai memperketat pengawasan menyusul mencuatnya isu penyebaran virus Hanta (Hantavirus) belakangan ini. Hal ini dilakukan guna mendeteksi dini kemungkinan masuknya patogen tersebut ke wilayah Kalimantan Utara.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes dan P2KB) Kabupaten Nunukan Hj. Miskia, S.Si, APT. MM menjelaskan, virus Hanta sejatinya bukan merupakan ancaman baru dalam dunia medis. Untuk mendeteksi virus ini harus dilakukan upaya pendalaman informasi secara intensif melalui koordinasi lintas sektoral.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Hantavirus bukanlah virus baru, ini sudah lama dipantau oleh otoritas kesehatan di Indonesia,” ungkapnya.

Sejauh ini, kata Miskia, data nasional menunjukkan bahwa kasus Hantavirus yang terdeteksi di Indonesia mayoritas merupakan jenis Seoul Virus. Karakteristik varian ini cenderung menimbulkan gejala klinis pada tingkat moderat atau sedang.

Virus ini juga tumbuh secara signifikan berbeda dengan varian agresif lainnya, sehingga masyarakat diminta tidak panik namun tetap memperhatikan protokol kesehatan. Kabar baiknya datang dari hasil pemantauan lokal, di mana hingga saat ini belum ditemukan satu pun laporan kasus positif virus Hanta di wilayah Kabupaten Nunukan.

Nihilnya temuan kasus ini menjadi basis data penting bagi pemerintah daerah dalam memetakan risiko sekaligus mengevaluasi efektivitas sistem pencegahan yang tengah berjalan di lapangan. Sebagai garda terdepan, Dinkes dan P2KB  bersama Balai Kekarantinaan Kesehatan kini memperketat pengawasan di seluruh pintu masuk kedatangan.

“Kami bekerja sama memantau pintu masuk sesuai kebijakan Kemenkes untuk langkah mitigasi terhadap laporan wabah internasional, khususnya yang terdeteksi di kapal pesiar lintas negara,” jelas Miskia.

Fokus pengawasan ekstra diarahkan pada mobilitas lintas negara yang tinggi di Nunukan sebagai wilayah perbatasan. Penjagaan yang ketat di pelabuhan dinilai krusial karena pemerintah berupaya keras menahan agar jenis Hantavirus luar negeri tidak terbawa masuk ke Indonesia melalui jalur transportasi laut maupun perbatasan darat.

Secara epidemiologi, pihak kesehatan menjelaskan bahwa mekanisme penularan virus ini bersumber dari hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penting untuk dipahami oleh publik bahwa meskipun virus ini berbahaya, penularannya bersumber dari hewan dan tidak menular antar manusia (inter-human), sehingga fokus utama adalah pengendalian vektor. Proses transmisi ke manusia terjadi melalui kontak dengan material sisa hewan terinfeksi.

“Hewan pengerat adalah sumber virus Hanta, di mana penularannya melalui urin, kotoran, atau air liur tikus yang terinfeksi,” tambahnya mengingatkan masyarakat akan bahaya kontak langsung dengan limbah hewan tersebut.

Menyikapi potensi risiko, Dinas Kesehatan Nunukan telah menyiagakan fasilitas kesehatan serta memperkuat koordinasi dengan tenaga medis. Sosialisasi masif terus dilakukan agar masyarakat memahami langkah pencegahan mandiri serta prosedur penanganan dini jika ditemukan indikasi gejala di lingkungan tempat tinggal mereka.

“Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan dari hewan pengerat,” imbuhnya.

Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas atau RS jika mengalami gejala seperti demam tinggi, menggigil, nyeri otot, pusing, mual, hingga sesak napas. Peningkatan kewaspadaan ini tetap menjadi prioritas utama sebagai langkah antisipasi dini terhadap potensi masuknya virus dari luar negeri ke wilayah Kabupaten Nunukan. (kan)

Back to top button