Wacana mengenai sulitnya perputaran uang di Kabupaten Nunukan memicu diskusi panjang di kalangan pelaku ekonomi. Fenomena ini menjadi paradoks di satu sisi kebutuhan masyarakat terhadap penggunaan uang tunai tetap tinggi, namun di sisi lain peredarannya dirasakan melambat. Menjawab hal tersebut, tiga pimpinan bankir perbankan utama di Nunukan memberikan penjelasan mendalam mengenai kondisi sebenarnya dari balik meja kas hingga kebijakan moneter di perbatasan.
Oleh: Tim Redaksi satukaltara.com
Stabilitas Kas di Tangan Bankaltimtara
Agus Prasetya, Pemimpin Bankaltimtara Kantor Cabang Nunukan, memegang peran krusial karena bank yang dipimpinnya ditunjuk sebagai pengelola Kas Titipan Bank Indonesia (BI). Ia menegaskan bahwa secara teknis, pasokan uang tunai untuk seluruh bank di Nunukan—termasuk BRI, BNI, Mandiri, hingga BSI—berada dalam kondisi yang sangat stabil.
Setiap bulan, bank-bank tersebut menyetorkan proyeksi kebutuhan likuiditas mereka, sehingga lonjakan permintaan tunai selalu bisa diantisipasi jauh-jauh hari. Agus menjelaskan bahwa mekanisme dropping atau pengiriman uang dari BI di Tarakan menuju Nunukan sangat efisien, hanya membutuhkan waktu singkat melalui jalur laut. Oleh karena itu, jika muncul anggapan bahwa uang tunai langka di perbankan, hal tersebut merupakan kekeliruan informasi.
Agus menekankan bahwa apa yang dirasakan masyarakat sebagai ‘uang sulit’ sebenarnya adalah melambatnya perputaran ekonomi akibat faktor daya beli, bukan karena ketersediaan fisik uang di brankas bank. Lebih lanjut, ia melihat digitalisasi bukan sebagai ancaman bagi uang tunai, melainkan sebagai fasilitas pilihan bagi masyarakat. Bank Indonesia sebagai pemegang otoritas moneter tetap menjamin keberadaan uang fisik di tengah gencarnya kampanye transaksi non-tunai.
“Digitalisasi adalah tentang efisiensi; uang yang ada di saldo digital pada dasarnya tetap memiliki nilai fisik yang sama dan bisa ditarik kapan pun nasabah membutuhkan,” ujar Agus saat ditemui Wartawan media ini di ruang kerjanya.
Melengkapi potret ini, Pimpinan Cabang Bank BNI Nunukan, Galih Tatag Pratama, melalui Branch Service Manager (BSM) Wahyu Nurcahyono, memberikan analisis tajam mengenai tantangan operasional lapangan. Sektor komoditas unggulan seperti sawit dan rumput laut menjadi pemicu utama tingginya kebutuhan uang tunai. Saat harga rumput laut meroket, para petani cenderung melakukan penarikan tunai besar-besaran setiap hari untuk kebutuhan operasional dan transaksi lapangan.
Wahyu mencatat adanya anomali geografis di mana masyarakat Sebatik seringkali melakukan penarikan tunai berjumlah miliaran rupiah di pusat kota Nunukan, alih-alih di wilayah mereka sendiri. Hal ini menciptakan beban likuiditas yang besar bagi kantor cabang.
Masalah diperumit dengan kebiasaan nasabah yang sering menarik dana di atas Rp100 juta secara mendadak tanpa konfirmasi satu hari sebelumnya, yang sebenarnya merupakan prosedur standar perbankan untuk menyiapkan fisik uang. Edukasi untuk beralih ke transaksi non-tunai diakui Wahyu sebagai tantangan berat karena berbenturan dengan faktor budaya lokal. Banyak nasabah yang merasa lebih mantap memegang uang fisik dalam jumlah besar meskipun risiko perjalanannya cukup tinggi.
BNI terus berupaya mengimbangi hal ini dengan menjaga posisi kas agar tidak terjadi kondisi short (kekurangan) maupun long (kelebihan yang mengendap), sembari tetap mengedukasi nasabah tentang ‘adab’ penarikan jumlah besar.
Berpindah ke perspektif Nonok Soekarno, Branch Office Head Bank BRI Nunukan, yang berpandangan dan fokus utama dialihkan pada aspek keamanan dan inklusi keuangan. Bagi BRI yang memiliki basis nasabah sangat besar hingga ke pelosok, digitalisasi adalah jalan keluar dari berbagai risiko fisik yang menghantui masyarakat. Risiko tersebut meliputi bahaya kebakaran rumah yang melalap tabungan tunai, perampokan, hingga kerugian akibat ketidaktahuan membedakan uang asli dengan uang palsu.
Nonok menyulut kesadaran masyarakat bahwa menyimpan uang di bank jauh lebih aman daripada investasi fisik yang tidak terukur. BRI terus mendorong penggunaan alat akseptasi seperti EDC dan QRIS, serta melakukan transformasi besar dengan mengganti banyak mesin ATM menjadi mesin CRM (Cash Recycle Machine).
Mesin ini memungkinkan nasabah menyetor uang tunai kapan saja tanpa harus menunggu jam pelayanan kantor, sehingga uang mereka langsung masuk ke sistem yang aman. Namun, di balik kemudahan digital tersebut, Nonok Soekarno memberikan peringatan keras mengenai keamanan data pribadi.
Ia tak henti-hentinya mengedukasi nasabah agar menjaga kerahasiaan PIN dan tidak mudah percaya pada telepon atau pesan yang meminta data sensitif seperti nama ibu kandung. Baginya, jaminan pelayanan publik BRI tidak hanya soal menyediakan uang, tetapi juga memastikan nasabah terlindungi dari kejahatan siber yang kian marak di era digital.
Sinergi Perbankan untuk Ekonomi Nunukan
Meskipun ketiga bankir memiliki fokus operasional yang berbeda, terdapat satu benang merah yang kuat: koordinasi antarbank di Nunukan berjalan sangat solid. Agus Prasetya dari Bankaltimtara memastikan distribusi pusat berjalan lancar, Nonok Soekarno dari BRI memperkuat keamanan digital hingga desa, dan pihak BNI yang diwakili Wahyu Nurcahyono memastikan arus kas dari sektor komoditas tetap terlayani dengan baik.
Perbankan di Nunukan sepakat bahwa transisi menuju masyarakat melek digital adalah sebuah keniscayaan yang harus didukung dengan infrastruktur listrik dan internet yang mumpuni. Namun, selama masa transisi tersebut, pihak bank menjamin bahwa ketersediaan uang tunai akan tetap menjadi prioritas utama, terutama menjelang periode gajian, untuk sektor komoditas atau hari-hari besar keagamaan.
Para bankir ini juga mengajak masyarakat Nunukan untuk tidak perlu khawatir secara berlebihan. Perputaran uang yang dirasa sulit bukanlah tanda krisis likuiditas, melainkan sebuah undangan bagi masyarakat untuk mulai beradaptasi dengan sistem finansial yang lebih modern, aman, dan efisien demi kemajuan ekonomi Kalimantan Utara yang lebih stabil di masa depan. (kan/1ku)

