KALTARAFEATURETARAKAN

Hj Irama Madduta, Jemaah Haji Asal Tarakan Meninggal Dunia di Makkah

Terjatuh di Kamar Mandi, Keluarga Kenang Tekad Keras Almarhumah

Suara panggilan datang dari layar ponsel kecil di tangan Hj. Kasma. Siang itu, aktivitas di sekolah tempatnya mengajar berjalan seperti biasa. Ia baru saja tiba dan bersiap menjalankan rutinitas harian ketika video call masuk dari Mekkah. Ada sesuatu yang akhirnya bisa sesak di dada. Sedihnya luar biasa. Apa itu?

Muhammad Rizky, satukaltara.com

AWALNYA, tak ada firasat apa pun. Panggilan pertama terputus begitu saja. Kasma menyangka keluarganya di Tanah Suci hanya ingin menanyakan persiapan ihram sang ibu yag akan berangkat menuju Arafah. Namun beberapa menit kemudian, telepon itu kembali berdering. Di layar ponsel, wajah adiknya tampak panik. Nafasnya terdengar berat.

“Ibu jatuh di kamar mandi saat mandi ihram untuk persiapan ke Arafah,” ucap sang adik dengan suara gemetar.

Kasma masih mencoba menenangkan diri. Ia berpikir ibunya mungkin hanya terpeleset biasa. Namun di belakang sang adik, beberapa tenaga medis terlihat sibuk. Hingga akhirnya terdengar suara dokter yang memecah harapan terakhirnya.

“Yang mana keluarganya? Mama sudah tidak ada,” suara perawat itu makin rendah diteruskan dengan perasaan duka cita.

Mendengar hal ini, dunia Kasma seakan berhenti sesaat. Tangis pelan, dan akhirnya pecah dari sambungan video call itu. Tangis sang adik di Makkah juga mengiris hati siapa saja yang mendengar. Isak mereka bersahutan. Kasma kemudian tak kuasa menutup mulutnya menahan sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya.

Ribuan kilometer memisahkan mereka, dan pada saat paling menyakitkan itu, ia tak bisa memeluk ibunya untuk terakhir kali. “Saat itu saya langsung sadar, berarti Mama benar-benar sudah tidak ada,” kenangnya lirih.

Perempuan yang dipanggil Mama itu adalah Hj. Irama Madduta Binti Madduta, jemaah haji asal Tarakan yang wafat di Makkah pada Senin (25/5/2026), tepat saat jutaan umat Islam bersiap menjalani puncak ibadah haji di Arafah. Bagi keluarga, kepergian Hj. Irama terasa seperti kisah yang ditulis dengan keikhlasan dan keteguhan hati.

Usianya tercatat 79 tahun di KTP, meski keluarga menyakini umurnya mendekati 90 tahun. Tubuhnya tak lagi muda. Riwayat penyakit jantung juga sempat membuat keluarga khawqtir. Namun keinginannya untuk berhaji tak pernah surut.

“Mama selalu bilang, ‘Bismillah saja, semoga dimudahkan’,” cerita Kasma.

Kalimat sederhana itu menjadi pegangan Hj. Irama selama menanti keberangkatan ke Tanah Suci. Ia sudah mendaftar haji sejak tahun 2020, tetapi pandemi dan keterbatasan kuota membuat keberangkatannya tertunda bertahun-tahun. Nah, saat kesempatan itu datang, tak ada yang mampu menghalangi langkahnya. Bahkan kursi roda yang sudah disiapkan keluarga pun ia tolak dengan halus.

“Dia merasa masih kuat. Jalan dekat-dekat masih sanggup,” ujar Kasma sambil tersenyum tipis mengenang keras hati ibunya untuk menunaikan Rukun Islam yang kelima tersebut.

Di mata anak-anaknya, Hj. Irama bukan hanya seorang ibu, tetapi perempuan tangguh yang terbiasa menjalani hidup dengan keyakinan.
Malam sebelum wafat, tak ada tanda-tanda mencurigakan. Ia bahkan masih sempat berbincang dengan keluarganya.

Suaranya terdengar tenang. Tak ada yang menyangka percakapan itu menjadi salam terakhir. Keesokan harinya, saat bersiap mandi ihram menuju Arafah, takdir Allah datang menjemputnya.

Di Tanah Suci, proses pemulasaran jenazah berlangsung cepat. Hj. Irama dimandikan, disalatkan di Masjidil Haram, lalu dimakamkan di pemakaman Blok 14 Makkah pada malam harinya waktu setempat.

Bagi banyak Muslim, meninggal di Tanah Suci saat menjalankan ibadah haji adalah kemuliaan yang diimpikan. Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, kehilangan tetaplah kehilangan.

Adik Kasma yang mendampingi almarhumah di Makkah bahkan memilih tidak melanjutkan perjalanan ke Arafah. “Dia bilang tidak tega meninggalkan Mama sendirian,” tutur Kasma.

Sementara di Tarakan, rumah keluarga dipenuhi lantunan doa. Kerabat berdatangan. Tahlilan, Yasinan, dan khataman Alquran digelar silih berganti. Di tengah suasana duka itu, nama Hj. Irama terus disebut dalam doa-doa yang mengalir pelan.

Kasma mencoba ikhlas. Meski begitu, ada satu penyesalan yang terus mengganjal di hatinya. “Di mulut saya bilang ikhlas, tapi hati ini berat. Saya tidak sempat melihat Mama untuk terakhir kali,” katanya degan mata berkaca-kaca.

Kini, yang tersisa hanyalah kenangan tentang sosok ibu renta yang tetap teguh melangkah menuju Baitullah meski tubuhnya tak lagi kuat. Seorang ibu yang menutup perjalanan hidupnya di tempat paling suci bagi umat Islam.

“Insyaallah Mama sudah menyelesaikan hajinya,” ucap Kasma pelan.

Suatu hari nanti, ketika langkah mereka kembali sampai ke Tanah Suci, keluarga itu hanya memiliki satu keinginan sederhana: datang berziarah ke makam sang ibu, menyampaikan rindu yang belum sempat terucap di perpisahan terakhir. (***)

Back to top button