KALTARABULUNGANFEATUREPARIWISATA

Menjamu di Atas Kayan, Menghidupkan Kembali Rasa Leluhur Bulungan

Ketika Menu Kuno Dalam Jamuan Istimewa di Sungai Kayan.

Ronny Meranda satukaltara.com

Mentari yang perlahan tenggelam di ufuk Kalimantan Utara (Kaltara) menjadi penanda dimulainya sebuah perjalanan yang tak biasa. Gemericik Sungai Kayan berpadu dengan dengung lembut mesin Kapal Wisata Tenguyun yang meninggalkan dermaga.

DI atas geladak yang diterangi lampu-lampu temaram, para tamu bukan sekadar diajak menyusuri sungai, melainkan menelusuri jejak sejarah melalui cita rasa yang hampir hilang ditelan zaman.

Malam itu, Bupati Bulungan Syarwani, S.Pd., M.Si., Wakil Bupati Bulungan Kilat, A.Md., Sekretaris Daerah Bulungan Risdianto, S.Pd., bersama sejumlah undangan mendapat pengalaman yang mungkin belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Di hadapan mereka tersaji beragam hidangan tradisional yang dibawa oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari Desa Antutan, Long Beluah, dan Long Sam.

Satu per satu menu disajikan. Tidak semua nama makanan itu familiar. Sebagian bahkan terdengar asing bagi para tamu yang lahir dan besar di Bulungan. Namun justru di situlah letak keistimewaannya.

“Rata-rata, hampir semua menu yang disajikan malam ini baru pertama kali kami coba. Saya yakin beberapa makanan ini bahkan sudah ada sebelum saya lahir,” ujar Syarwani sambil tersenyum, Minggu malam.

Pernyataan itu menggambarkan betapa banyak warisan kuliner daerah yang selama ini tersimpan di dapur-dapur masyarakat pedalaman, jauh dari sorotan publik. Makanan yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini perlahan tergeser oleh sajian modern dan budaya kuliner yang datang dari luar.

Di atas Kapal Tenguyun, warisan itu kembali diperkenalkan.

Para ibu dari KUPS bukan hanya hadir sebagai juru masak. Mereka adalah penjaga pengetahuan turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui tangan mereka, umbi-umbian lokal diolah dengan teknik tradisional. Ikan sungai dipadukan dengan rempah khas pedalaman. Setiap sajian memiliki cerita, sejarah, dan identitas yang melekat pada masyarakat Bulungan.

Ketika para tamu mulai mencicipi hidangan demi hidangan, suasana berubah menjadi lebih hangat. Percakapan tentang rasa berkembang menjadi diskusi mengenai budaya, tradisi, dan pentingnya menjaga kekayaan lokal.

“Ini bukan sekadar makan malam. Ini adalah bentuk pelestarian identitas,” tegas Syarwani.

Konsep bersantap di atas kapal sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam dunia pariwisata. Namun yang membuat pengalaman malam itu berbeda adalah perpaduan antara wisata susur Sungai Kayan dengan sajian kuliner tradisional yang autentik.

Sungai Kayan sendiri bukan sekadar bentang alam. Sejak berabad-abad lalu, sungai ini menjadi jalur kehidupan masyarakat Bulungan. Dari sungai inilah perdagangan berkembang, budaya bertumbuh, dan berbagai kisah peradaban lahir. Maka ketika kuliner tradisional disajikan di atas alirannya, seolah ada benang merah yang kembali menyatukan masa lalu dan masa kini.

Menariknya, menu-menu yang disajikan malam itu bukan hanya dikenal di tingkat lokal. Beberapa di antaranya bahkan telah dibawa oleh para pelaku KUPS ke berbagai kegiatan di Bali sebagai bagian dari promosi budaya dan produk unggulan daerah.

“Menu-menu ini bahkan sudah pernah dibawa ke Bali. Ini membanggakan karena turut membawa nama baik daerah,” kata Syarwani.

Di sepanjang perjalanan, para tamu tampak menikmati suasana. Sebagian mengabadikan momen dengan latar cahaya Jembatan Penyeberangan Tanjung Selor yang memantul di permukaan air. Sebagian lainnya memilih duduk di sisi kapal, menikmati semilir angin malam sambil mencicipi makanan yang mungkin baru pertama kali mereka kenal.

Tak ada dekorasi mewah atau kemegahan restoran berbintang. Yang ada hanyalah sungai yang tenang, langit malam Bulungan, dan sajian sederhana yang sarat makna. Namun justru dalam kesederhanaan itulah pengalaman tersebut terasa begitu istimewa.
Pemerintah Kabupaten Bulungan pun melihat potensi besar dari konsep ini. Selain sebagai upaya pelestarian budaya, perpaduan wisata sungai dan kuliner tradisional dinilai mampu menjadi daya tarik baru bagi wisatawan.

Syarwani menyambut baik rencana kolaborasi dengan sektor perhotelan, termasuk Hotel Luminor, agar menu-menu tradisional tersebut dapat diperkenalkan lebih luas kepada para tamu yang datang ke Bulungan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keaslian dan cara penyajian tradisional harus tetap dipertahankan.

“Yang perlu dilakukan ke depan adalah sosialisasi dan kampanye. Bagaimana menu-menu tradisional ini bisa dikemas dan dipromosikan dengan baik. Dan malam ini kita buktikan, menikmatinya sambil menyisir Sungai Kayan adalah sesuatu yang menarik dan bisa menambah minat wisatawan,” ujarnya.

Saat Kapal Tenguyun perlahan kembali merapat ke dermaga, perjalanan itu mungkin telah berakhir. Namun kesan yang ditinggalkannya masih terasa.

Di sudut geladak, para ibu KUPS mulai membereskan peralatan masak mereka. Wajah lelah tak mampu menyembunyikan rasa bangga. Sebab malam itu mereka tidak hanya menyajikan makanan.

Mereka menyajikan kenangan, memperkenalkan kembali identitas yang nyaris terlupakan, dan membuktikan bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, rasa leluhur Bulungan masih hidup dan mengalir setenang Sungai Kayan yang tak pernah berhenti menuju laut. (***)

Back to top button