Ketika kaki pertama kali menginjak Tanah Suci, yang terbayang oleh banyak orang adalah kekhusyukan ibadah dan harapan menjadi haji mabrur. Namun bagi Ari Wibowo dan Asmauliah, dua jemaah haji asal Kota Tarakan, perjalanan spiritual itu juga menghadirkan cerita tentang ketahanan fisik, kesabaran tanpa batas, serta perjuangan menghadapi kondisi yang tidak selalu mudah.
Muhammad Rizky, satukaltara.com
RABU (17/6/2026), sesaat setelah tiba di Masjid Raya Baitul Izzah Islamic Center Tarakan bersama rombongan Kloter 7 Debarkasi Balikpapan, keduanya mengenang kembali momen-momen paling berat selama menjalankan ibadah haji.
Di balik senyum syukur yang terpancar, tersimpan kisah panjang tentang malam di Muzdalifah yang terasa begitu lama, antrean toilet berjam-jam di Mina, hingga langkah kaki yang harus terus berjalan di tengah suhu panas yang menyengat.
Bagi Ari Wibowo, salah satu pengalaman yang paling membekas adalah saat berada di Muzdalifah, sebuah hamparan terbuka yang menjadi tempat singgah jutaan jemaah setelah wukuf di Arafah.
Malam itu, langit masih gelap ketika ribuan orang menunggu giliran diberangkatkan menuju Mina. Di tengah kerumunan besar tersebut, waktu terasa berjalan lebih lambat. “Di Muzdalifah kami menunggu sekitar 4 sampai 5 jam untuk diangkut ke Mina. Itu yang jadi catatan, karena koordinasi pengangkutan agak lambat,” kenangnya.
Menunggu selama berjam-jam di tengah malam bukan perkara mudah. Tubuh yang sudah lelah setelah menjalani rangkaian ibadah harus tetap bertahan hingga kendaraan datang menjemput.
Meski demikian, Ari menilai secara umum pelayanan petugas haji Indonesia sangat membantu para jemaah. Kehadiran petugas di berbagai titik ibadah membuat rasa khawatir tersesat di tengah jutaan manusia bisa berkurang. “Petugas di sana tersebar di titik-titik ibadah, selalu ada petugas Indonesia. Jadi kemungkinan jemaah tersesat itu kecil karena selalu ada yang membantu,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi sistem pengaturan jadwal berdasarkan maktab yang diterapkan saat pelaksanaan lempar jumrah. Menurutnya, sistem tersebut mampu mengurangi kepadatan dan membuat ibadah berlangsung lebih aman. “Tidak berdesakan karena kita dijadwalkan. Setiap negara punya jadwal melontar jumrah yang sudah ditentukan, jadi semua aman,” katanya.
Jika Muzdalifah menjadi ujian kesabaran bagi Ari, maka Mina menghadirkan cerita berbeda bagi Asmauliah. Di kawasan tenda yang menampung jutaan jemaah dari berbagai negara itu, ruang menjadi barang yang sangat berharga. Setiap sudut dipenuhi manusia yang datang dengan tujuan yang sama: menyempurnakan ibadah haji.
Bagi Asmauliah, tantangan terbesar justru datang dari hal-hal sederhana yang sering dianggap sepele ketika berada di rumah.
“Di Mina itu cobaannya besar, sebagian tidak dapat tempat. Toilet juga terbatas, antre bisa sampai 2 sampai 3 jam,” tuturnya.
Antrean panjang untuk kebutuhan dasar menjadi bagian dari keseharian selama berada di Mina. Dalam kondisi lelah dan cuaca panas, kesabaran benar-benar diuji.
Tempat istirahat yang terbatas membuat banyak jemaah harus beradaptasi dengan keadaan.
“Tempat tidur pun terbatas, kadang kita duduk saja sudah bersyukur. Tapi di situ kita belajar sabar,” katanya sambil tersenyum.
Ujian fisik tidak berhenti di situ. Pelaksanaan lempar jumrah yang menjadi salah satu rangkaian wajib haji menuntut stamina ekstra.
“Tantangan terberat itu lempar jumrah. Pulang-pergi bisa sekitar 10 kilometer dalam tiga hari berturut-turut,” ungkapnya.
Setiap langkah terasa berat, tetapi keyakinan untuk menyelesaikan ibadah membuat para jemaah terus bergerak maju.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, kesehatan menjadi hal yang paling dijaga. Asmauliah bersyukur kondisinya tetap prima selama berada di Tanah Suci. “Alhamdulillah hanya sempat pilek dua hari, setelah itu membaik. Kami juga minum air zamzam dan banyak berdoa,” ujarnya.
Ia juga masih mengingat betapa ekstremnya suhu udara di Madinah. Panas yang dirasakan bahkan sulit digambarkan dengan kata-kata.
“Di Madinah panasnya seperti berhadapan dengan bara api. Tapi karena hati tenang, semuanya terasa lebih ringan,” tuturnya.
Meski harus menghadapi panas, antrean panjang, keterbatasan fasilitas, dan kelelahan fisik, keduanya sepakat bahwa seluruh pengalaman tersebut menjadi bagian dari pelajaran berharga selama berhaji.
Di Tanah Suci, mereka belajar bahwa haji bukan sekadar perjalanan menuju Ka’bah. Haji adalah perjalanan menempa diri, menguji ketahanan tubuh, mengikis ego, sekaligus melatih kesabaran dalam tingkat yang mungkin belum pernah dirasakan sebelumnya.
Ketika akhirnya kembali ke Tarakan dengan selamat, yang mereka bawa pulang bukan hanya gelar haji, tetapi juga cerita tentang perjuangan, keteguhan hati, dan rasa syukur yang tumbuh dari setiap ujian yang berhasil dilalui.
Di balik jutaan manusia yang berkumpul di Armuzna, setiap jemaah memiliki kisahnya sendiri. Dan bagi Ari Wibowo serta Asmauliah, kisah itu akan selalu dikenang sebagai perjalanan panjang antara lelah dan ikhlas, antara panas dan doa, hingga akhirnya tiba kembali di rumah dengan hati yang berbeda. (***)

