TARAKAN – Sebuah pasar tak cukup hanya berdiri untuk disebut berhasil. Di Sebengkok, pembangunan Pasar Batu yang kembali bergerak setelah sempat terhenti justru dibebani harapan lebih besar menjadi ruang bertemunya perdagangan, kuliner, dan produk khas Tarakan.
Ketua Komisi III DPRD Kota Tarakan, Randy Ramadhana Erdian mengatakan, pembangunan Pasar Batu kembali dilanjutkan setelah pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk pekerjaan tahun 2026. Ia bersama tim teknis Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Tarakan telah meninjau langsung perkembangan proyek tersebut.
“Pekerjaan yang dilanjutkan tahun ini masih masuk pada tahap struktur. Untuk keseluruhan pembangunan nilainya sekitar Rp78 miliar dan pelaksanaannya menggunakan skema multiyears sampai 2029. Tahun ini dialokasikan sekitar Rp7 miliar,” kata Randy.
Skema multiyears membuat proyek tersebut tidak bisa dikerjakan sekaligus. Setiap tahap pembangunan mengikuti kemampuan keuangan daerah dan anggaran yang tersedia. Karena itu, Randy menilai kesinambungan penganggaran menjadi kunci agar proyek tidak kembali terhenti.
“Karena anggarannya bertahap, pengerjaannya juga mengikuti tahapan yang sudah disusun. Yang penting setiap tahun ada kesinambungan antara pekerjaan yang dilakukan dengan anggaran yang tersedia,” ujarnya.
Randy ingin Pasar Batu kelak memiliki fungsi yang lebih luas dibanding pasar konvensional. Kawasan itu dinilai berpeluang menjadi tempat pemasaran produk lokal, pusat kuliner, sekaligus lokasi penjualan oleh-oleh khas Tarakan.
“Pasar ini jangan hanya menjadi tempat orang datang untuk membeli dan menjual barang. Ada peluang untuk menjadikannya ruang bagi produk khas Tarakan, termasuk oleh-oleh dan kuliner, sehingga aktivitas ekonominya lebih beragam,” katanya.
Konsep tersebut, menurut dia, dapat mempertemukan kepentingan perdagangan dan pariwisata. Pengunjung dari luar Tarakan diharapkan tidak sekadar berbelanja kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menemukan produk khas daerah dalam satu kawasan.
Namun, Randy meminta pemerintah sejak awal memikirkan nasib pedagang yang selama ini berjualan di luar kawasan. Pendataan pedagang, mekanisme penempatan, hingga pola penataan harus dibuat jelas agar bangunan yang selesai kelak segera diisi aktivitas perdagangan.
“Kalau produk lokal, kuliner dan perdagangan bisa berjalan dalam satu kawasan, manfaatnya tentu lebih luas. Pelaku usaha punya tempat untuk memasarkan produknya dan masyarakat juga punya pilihan aktivitas ketika datang ke pasar,” ujarnya.
Pengelolaan pascapembangunan juga dinilai tak kalah penting. Menurut Randy, keberhasilan proyek bukan semata diukur dari berdirinya bangunan, melainkan dari seberapa besar aktivitas ekonomi tumbuh di dalamnya.
Pemerintah menargetkan pembangunan Pasar Batu dapat selesai sebelum masa jabatan Wali Kota Tarakan berakhir. Namun, keseluruhan proyek masih menggunakan skema multiyears hingga 2029.
Randy berharap Pasar Batu tidak berakhir sebagai sekadar bangunan baru di Sebengkok. Ia ingin kawasan tersebut menjadi titik pertumbuhan ekonomi yang memberi ruang bagi pedagang, pelaku usaha lokal, sekaligus masyarakat.
“Kalau pembangunan ini sudah selesai, yang paling penting bukan hanya bangunannya berdiri. Aktivitas di dalamnya juga harus berjalan, pedagang bisa menempati tempatnya, produk lokal bisa dipasarkan, dan masyarakat mendapat manfaat dari keberadaan pasar ini,” pungkasnya. (rz)

