TANJUNG SELOR — Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan kembali mengepung permukiman warga di Tanjung Selor. Asap pekat tak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas harian, tetapi juga mulai menyerang kesehatan warga, terutama kelompok rentan seperti balita dan lansia.
Jumariah (56), ibu rumah tangga di wilayah setempat, merasakan langsung dampak buruk kondisi udara tersebut. Setiap hari ia harus mengurus cucunya yang baru berusia satu tahun sekaligus mendampingi cucunya yang duduk di bangku sekolah dasar.
“Asapnya tebal sekali, apalagi waktu pagi dan sore hari. Cucuku yang SD hari ini diliburkan sekolahnya karena kondisi udara tidak sehat,” ujar Jumariah saat ditemui di kediamannya, Senin (31/8/2026).
Menurut dia, kabut asap kini tidak hanya membatasi aktivitas anak-anak, tetapi juga mengganggu kesehatan keluarganya. Mata terasa perih dan penglihatan menjadi kabur ketika berada di luar rumah. Kondisi paling mengkhawatirkan dialami cucunya yang masih berusia satu tahun.
“Yang paling saya khawatirkan itu cucu yang masih bayi. Kasihan, napasnya sampai menggelek (sesak) dan batuk-batuk. Kami sekeluarga kena ISPA, dada terasa sesak dan tenggorokan sakit,” katanya.
Pekatnya asap membuat Jumariah membatasi seluruh kegiatan di luar ruangan. Ia memilih bertahan di dalam rumah dan menggunakan pemurni udara seadanya untuk mengurangi paparan asap terhadap keluarganya.
Jumariah berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah untuk mengendalikan titik api yang memicu kabut asap. Ia juga meminta bantuan medis serta perlindungan bagi warga, khususnya kelompok rentan, seperti masker dengan kemampuan filtrasi tinggi.
“Semoga titik apinya cepat dipadamkan. Kami juga berharap ada bantuan masker dan pemeriksaan kesehatan, terutama untuk anak-anak dan orang tua,” ujarnya. (rk)

