KALTARATARAKAN

PM2.5 Tarakan Tembus 103, Kelompok Rentan Diminta Kurangi Aktivitas di Luar

TARAKAN – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kota Tarakan mulai menunjukkan dampaknya terhadap kualitas udara. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 di titik pemantauan Pamusian menembus angka 103 pada Selasa (1/9) pukul 14.00 WITA. Angka itu masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Kondisi tersebut menjadi perhatian lantaran PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.

Wali Kota Tarakan dr. H. Khairul mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak memiliki keperluan mendesak. Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar, penggunaan masker menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan asap.

“Kalau tidak ada keperluan yang penting, aktivitas di luar sebaiknya dikurangi. Kalau memang harus keluar, gunakan masker dengan baik supaya paparan asap yang terhirup bisa diminimalkan,” ujar Khairul.

Dia juga meminta masyarakat tidak mengabaikan gangguan kesehatan yang muncul selama terpapar kabut asap. Batuk, sesak napas, sakit tenggorokan hingga mata perih perlu segera direspons apabila keluhan berlanjut.

“Kalau sudah muncul keluhan seperti batuk, sesak napas atau mata terasa perih, jangan dianggap biasa. Segera kurangi paparan dan kalau keluhannya berlanjut, sebaiknya diperiksakan ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan Andry Rawung menjelaskan, angka ISPU tersebut merupakan hasil pembacaan alat pemantau kualitas udara yang ditempatkan di kawasan belakang Kantor DLH. Karena memiliki jangkauan sekitar 2,5 kilometer, hasil pengukuran tidak serta-merta merepresentasikan kondisi udara di seluruh wilayah Tarakan.

“Alat yang ada di belakang kantor DLH itu jangkauannya sekitar 2,5 kilometer. Jadi hasilnya menggambarkan kondisi di sekitar titik alat, tidak bisa langsung kita anggap sebagai gambaran seluruh wilayah Tarakan,” jelas Andry.

Meski cakupannya terbatas, data tersebut tetap menjadi indikator penting untuk memantau perubahan konsentrasi partikulat. Selain PM2.5 yang berada di angka 103, PM10 tercatat 84 dan masuk kategori sedang.

Sementara parameter sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), dan hidrokarbon (HC) masih berada dalam kategori baik.

Andry mengatakan, kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu, bergantung pada pergerakan asap dan kondisi cuaca. Karena itu, pemantauan terus dilakukan untuk melihat perkembangan konsentrasi partikulat di udara.

“Kondisi udara ini masih terus kita pantau. Perubahan konsentrasi partikulat bisa terjadi seiring pergerakan asap dan kondisi cuaca, sehingga hasil pengukuran juga dapat berubah,” ujarnya.

Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menambah sumber asap. Termasuk membakar lahan maupun sampah.

Kepala Pelaksana BPBD Tarakan Yonsep mengatakan, pencegahan dari tingkat masyarakat menjadi penting di tengah kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik.

“Kalau kepedulian terhadap lingkungan sudah tumbuh, hal kecil yang kita lakukan juga akan memberikan dampak. Jangan sampai aktivitas kita justru menambah persoalan ketika kondisi udara sedang seperti sekarang,” kata Yonsep.

BPBD juga masih memantau kawasan yang memiliki potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama wilayah dengan vegetasi dan lahan terbuka yang mudah terbakar. Penanganan api sejak dini dinilai penting agar kebakaran tidak meluas dan menghasilkan asap dalam jumlah lebih besar.

“Jangan sampai kita menganggap kebakaran hanya persoalan di lokasi apinya. Asapnya bisa bergerak ke tempat lain dan akhirnya berdampak kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.

Pemantauan kualitas udara dan potensi karhutla terus dilakukan seiring perubahan kondisi di lapangan. Masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dan menyesuaikan aktivitas, terutama apabila kualitas udara kembali mengalami penurunan. (rz)

Back to top button