Cerdas Cermat Didorong Jadi Agenda Tahunan, Asah Daya Saing Pelajar Perbatasan
NUNUKAN – Kompetisi tak melulu soal menjadi juara. Bagi pelajar di wilayah perbatasan, ajang cerdas cermat bisa menjadi ruang untuk mengasah daya pikir sekaligus meningkatkan kepercayaan diri. Karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nunukan mendorong Lomba Cerdas Cermat dijadikan agenda tahunan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Nunukan.
Sekretaris Komisi I DPRD Nunukan Muhammad Mansur menilai, kegiatan tersebut relatif sederhana dan tidak membutuhkan anggaran besar. Namun, manfaatnya cukup besar dalam mendorong semangat belajar, memperluas wawasan, serta meningkatkan kemampuan akademik peserta didik.
Menurut Mansur, pemerintah daerah perlu terus menghadirkan program yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia (SDM), terutama karena Nunukan merupakan daerah perbatasan Indonesia-Malaysia.
“Pemkab Nunukan harus mencanangkan program-program pembangunan yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas SDM di perbatasan Indonesia-Malaysia ini. Salah satunya kita meminta untuk mengagendakan hal yang cukup sederhana dan efisien yakni Lomba Cerdas Cermat. Ini terbukti meningkatkan kemampuan dan kapabilitas SDM,” kata Mansur.
Ia mengusulkan agar lomba tersebut digelar secara rutin dan dapat dirangkaikan dengan berbagai momentum penting. Mulai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Hari Anak Nasional, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia hingga Hari Ulang Tahun Kabupaten Nunukan.
“Terlebih, Kabupaten Nunukan merupakan daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Sebaiknya sering digelar itu cerdas cermat pelajar. Kalau perlu di setiap Hari Anak Nasional, Hardiknas, HUT RI, ulang tahun kabupaten. Ini meningkatkan daya saing dan kualitas pendidikan kita,” tegasnya.
Mansur menyebut, kompetisi edukatif seperti cerdas cermat tidak sekadar menguji hafalan. Siswa dituntut mampu berpikir cepat, memahami materi pelajaran, memperluas wawasan, sekaligus membangun keberanian dan kepercayaan diri.
Nilai-nilai lain juga bisa ditanamkan melalui kompetisi tersebut. Di antaranya kejujuran, integritas, kerja sama tim hingga sikap sportif dalam menerima kemenangan maupun kekalahan.
“Jangan artikan ini hanya sebatas lomba mana sekolah yang lebih baik. Cerdas cermat sangat membantu peserta dalam memecahkan masalah serta memahami materi pelajaran secara mendalam,” ujarnya.
Kendati demikian, Mansur mengingatkan, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya melalui kegiatan perlombaan. Pemerintah daerah juga perlu memperkuat dukungan anggaran serta meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan tenaga pendidik.
Menurutnya, kualitas guru menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk SDM yang unggul. Peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru dinilai harus berjalan beriringan agar proses pembelajaran di sekolah semakin optimal.
“Pada prinsipnya, ada harga tentu ada kualitas. Saya kira pemerintah harus berupaya maksimal dalam meningkatkan mutu pendidikan kita, agar mewujudkan sumber daya manusia atau SDM yang berkualitas dalam rangka menyambut Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (ryn)