KALTARABULUNGANFEATURE

Dari Gerobak Es Buah ke Negeri Sakura

Jamhari, Ayah Penjual “Es Awet Muda Anti Galau” yang Mengantar Anak Meraih Beasiswa ke Jepang

Matahari belum benar-benar bersahabat ketika kepulan asap masih menggantung di sejumlah sudut Tanjung Selor. Namun, seorang pria tetap mendorong gerobak dagangannya menyusuri jalan. Peluh membasahi wajahnya. Langkahnya tak selalu ringan. Tapi ada mimpi yang membuatnya terus berjalan: pendidikan anak-anaknya.

Rewinda Karinata satukaltara.com

PRIA itu bernama Jamhari, 48 tahun. Warga Sabanar Lama, Tanjung Selor, Bulungan, tersebut sudah lebih dari satu dekade menggantungkan hidup dari gerobak es buah. Nama dagangannya mungkin terdengar jenaka: “Es Awet Muda Anti Galau.”

Namun, di balik nama yang mengundang senyum itu, tersimpan kisah perjuangan seorang ayah. Dari usaha sederhana dengan modal awal hanya Rp175 ribu, Jamhari perlahan mengantarkan anak sulungnya hingga menembus bangku perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur.

Bahkan, sang anak kemudian terpilih mendapatkan beasiswa ke Jepang.
Kisah itu bermula pada 2013. Saat itu, Jamhari belum memiliki gerobak. Ia hanya menggelar sebuah meja kecil di depan rumah untuk menjajakan es buah.

Tak sedikit yang mencibir. Ada yang menyarankan agar meja dagangannya dibawa berkeliling. Bagi Jamhari, ucapan itu terdengar seperti ejekan. “Awalnya ada yang bilang, ‘Bagus kau mejamu bawa keliling,’ ya semacam ejekan begitu,” kenangnya sembari tersenyum.

Alih-alih tersinggung, Jamhari memilih bekerja. Sedikit demi sedikit hasil jualan disisihkan. Tabungan itu akhirnya cukup untuk membeli gerobak.

Sejak saat itu, ruang perjuangannya semakin luas. Gerobak didorong menyusuri sejumlah kawasan di Tanjung Selor, mulai Sabanar hingga Padelo. Panas dan hujan menjadi teman perjalanan.

Nama “Es Awet Muda Anti Galau” pun lahir dari candaan sederhana. “Soalnya kalau orang cari es terus tidak ketemu, kan galau. Terus kalau esnya masuk kulkas, kan awet,” ujarnya sambil terkekeh.

Di dalam gerobaknya, buah-buahan segar seperti cempedak, semangka, dan nanas berpadu menjadi minuman yang menyegarkan. Harga per porsinya dulu hanya Rp5 ribu. Kini menjadi Rp10 ribu, mengikuti kenaikan harga bahan baku.

Tetapi bagi Jamhari, ada satu hal yang tidak boleh ikut naik-turun: kualitas rasa.
“Yang paling utama itu rasa harus dijaga. Kekuatan gula dan buahnya harus pas dari dulu sampai sekarang. Biar pembeli tidak kecewa,” katanya.

Namun, sesungguhnya bukan es buah yang membuat Jamhari bertahan selama 13 tahun. Ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik setiap dorongan gerobaknya: masa depan empat anaknya.

Ia ingin anak-anaknya tetap sekolah. Karena itu, ketika anak-anaknya masih menempuh pendidikan, Jamhari sengaja berjualan di sekitar sekolah mereka.

Bukan untuk membuat anak-anaknya malu. Justru sebaliknya. Ia ingin mereka melihat langsung bagaimana sebuah cita-cita dibayar dengan kerja keras.

Anak-anaknya pun tak pernah malu melihat sang ayah mendorong gerobak.
Perjuangan itu perlahan menunjukkan hasil.
Anak sulung Jamhari berhasil diterima di salah satu perguruan tinggi di Malang. Biaya kuliah tentu bukan perkara mudah bagi keluarga yang menggantungkan pendapatan dari jualan es buah. Ada kalanya uang kuliah belum tersedia tepat waktu.

“Dulu pas kuliah di Malang, kalau terlambat bayar, kita bilang tunggu dulu. Nanti dikirim kalau ada rezeki,” tuturnya.

Namun, keterbatasan ekonomi tak menghentikan langkah sang anak. Prestasi akademiknya justru terus menanjak hingga meraih nilai tertinggi di kampus.

Dari situlah pintu menuju Negeri Sakura terbuka.
Karena prestasi tersebut, sang anak terpilih memperoleh beasiswa ke Jepang mewakili universitasnya. Sebelum berangkat, ia menjalani pelatihan bahasa Jepang selama enam bulan di Bandung, kemudian dua bulan di Bali.

Bagi Jamhari, kabar itu lebih dari sekadar keberhasilan seorang anak. Itu seperti jawaban atas ribuan dorongan gerobak, keringat, dan doa yang selama ini ia kumpulkan. Suaranya bergetar ketika mengenang perjalanan tersebut. “Alhamdulillah, karena dia pintar dan nilai tertinggi, dia terpilih,” katanya.

Ada keyakinan yang selama ini ia pegang dalam menjalani kehidupan. “Prinsip saya, kalau kita ikhlas bantu orang di sini, nanti anak kita di luar juga pasti ada yang bantu,” ucapnya.

Kini, di usia 48 tahun, Jamhari masih mendorong gerobaknya. Ia belum berniat berhenti. Terik matahari tak membuatnya menyerah. Hujan pun bukan alasan untuk pulang lebih cepat.
Baginya, selama tubuh masih kuat dan tangan masih mampu mendorong, pekerjaan itu tetap layak dijalani.

Sebab dari gerobak sederhana itulah ia belajar satu hal: keberhasilan tidak selalu berangkat dari sesuatu yang besar.

Kadang, ia bermula dari meja kecil di depan rumah. Dari modal Rp175 ribu. Dari ejekan yang justru menjadi bahan bakar. Dari buah-buahan yang diracik setiap hari. Dan dari seorang ayah yang memilih bekerja, alih-alih mengeluh.
Kini, sebagian mimpi itu telah sampai ke negeri yang jauh.

Anaknya berada di Jepang. Sementara Jamhari masih di Tanjung Selor, bersama gerobak Es Awet Muda Anti Galau” miliknya.
Ia mungkin tidak pernah membayangkan gerobak itu bisa menjadi kendaraan menuju Negeri Sakura. Tetapi setiap tetes keringatnya seolah telah menemukan alamat: masa depan anak-anaknya.

Kepada anak-anak muda yang ingin memulai usaha, pesannya sederhana. “Jangan gengsi dan jangan sombong. Apa adanya saja. Kalau mau berhasil, semua harus dimulai dari niat dan kemauan diri sendiri.”

Dari pinggir jalan Tanjung Selor, Jamhari membuktikan bahwa mimpi tak selalu lahir dari kemewahan. Kadang, mimpi tumbuh dari gerobak sederhana yang didorong pelan-pelan—hingga akhirnya terbang jauh, melampaui langit Kalimantan, menuju Negeri Sakura. (***)

Back to top button