TARAKAN – Kabut asap yang kembali memengaruhi kualitas udara Tarakan ikut menjadi perhatian Bandara Juwata. Kondisi lingkungan yang berpotensi mengganggu operasional penerbangan itu membuat kesiapan fasilitas dan keselamatan penerbangan menjadi perhatian jajaran bandara.
Kabid Teknik dan Operasi Bandara Juwata Tarakan Fahrudin Rahmad mengatakan, seluruh fasilitas, peralatan, dan prasarana penerbangan terus diperiksa untuk memastikan operasional tetap berjalan dengan aman.
“Dari pimpinan, khususnya Kementerian Perhubungan dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, kami selalu diberikan arahan untuk memperhatikan dan menjaga aspek keamanan serta keselamatan penerbangan. Termasuk pelayanan kepada pengguna jasa,” kata Fahrudin usai apel Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2026 di halaman Kantor Navigasi Tarakan, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, keselamatan penerbangan tidak hanya bergantung pada kesiapan internal bandara. Kondisi cuaca dan lingkungan di sekitar wilayah penerbangan juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
Salah satunya adalah gangguan asap yang kembali terjadi di Tarakan. Fahrudin menyebut kondisi serupa perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kelancaran operasional penerbangan.
“Apalagi dalam kondisi seperti saat ini ada gangguan asap. Kemarin juga sempat terkendala penerbangan karena adanya letusan Gunung Anak Krakatau yang berimbas pada ditutupnya Bandara Soekarno-Hatta dan beberapa bandara lainnya. Kondisi seperti ini tentu harus kami antisipasi,” ujarnya.
Karena itu, kesiapan tidak dilakukan hanya ketika gangguan muncul. Pemeriksaan fasilitas sisi udara maupun area pelayanan penumpang dilakukan secara berkala.
Fahrudin mengatakan, fasilitas yang sudah baik harus dipertahankan, sementara bagian yang masih dapat ditingkatkan harus segera diperbaiki.
“Pelayanan baik itu di terminal maupun khususnya untuk operasional penerbangan tetap kita pastikan. Bukan hanya bagaimana pelayanan kepada penumpang, tetapi fasilitas dan prasarana untuk mendukung penerbangan juga harus selalu siap. Yang paling utama tetap aman dan selamat,” tuturnya.
Salah satu bentuk kesiapan di sisi udara dilakukan melalui pembersihan Foreign Object Debris (FOD), yakni benda asing yang berpotensi membahayakan operasional pesawat di area apron dan fasilitas sisi udara.
Langkah tersebut melibatkan berbagai unsur yang beraktivitas di Bandara Juwata. Mulai dari AirNav Tarakan, Stasiun Meteorologi, Lanud, maskapai, ground handling, hingga stakeholder terkait lainnya.
“Kami bersinergi dengan seluruh stakeholder, mulai dari AirNav Tarakan, Stasiun Meteorologi, Lanud, maskapai, ground handling dan seluruh stakeholder yang ada di bandara,” jelas Fahrudin.
Menurutnya, koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan sekaligus kelancaran transportasi udara. Sebab, gangguan terhadap penerbangan dapat berasal dari berbagai faktor di luar kendali internal bandara.
Momentum Harhubnas 2026, lanjut Fahrudin, menjadi pengingat pentingnya sinergi antarsektor perhubungan di Tarakan, baik udara, laut maupun darat.
“Harapannya ke depan pelayanan perhubungan semakin baik, baik darat, laut maupun udara, sehingga bisa menjangkau seluruh wilayah dan memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat,” katanya.
Dengan tema Harhubnas 2026, “Menghubungkan Indonesia untuk Masa Depan Lebih Maju”, konektivitas tidak semata diukur dari tersedianya penerbangan. Di tengah potensi gangguan seperti asap, kesiapan fasilitas dan penerapan standar keselamatan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keberlangsungan konektivitas tersebut.
Fahrudin menegaskan, kesiapan fasilitas, peralatan, prasarana hingga pelayanan pengguna jasa terus dijaga di Bandara Juwata.
“Jadi fasilitas, peralatan, prasarana dan pelayanan kepada pengguna jasa harus sama-sama diperhatikan. Itu yang terus kami jaga di Bandara Juwata,” tegasnya. (rz)

