SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KALTARA BISNIS EKONOMI TARAKAN

Digitalisasi Meluas, Kebutuhan Uang Tunai di Kaltara Masih Tinggi

ILUSTRASI

TARAKAN – Digitalisasi pembayaran yang terus berkembang belum menggeser sepenuhnya kebutuhan masyarakat Kaltara terhadap uang tunai. Bank Indonesia bahkan mencatat arus uang kartal keluar atau outflow dari kas BI Kaltara mencapai sekitar Rp1,58 triliun hingga Agustus 2026.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltara, Agus Taufik mengatakan, besarnya arus uang keluar tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap rupiah fisik masih berjalan di tengah semakin luasnya penggunaan transaksi nontunai, termasuk QRIS. Pergerakan uang kartal ini mengikuti aktivitas ekonomi dan kebutuhan perbankan di daerah.

“Uang yang keluar dari Bank Indonesia itu pada dasarnya mengikuti kebutuhan masyarakat dan perbankan. Ketika aktivitas ekonomi meningkat, kebutuhan terhadap uang kartal juga ikut bergerak,” kata Agus.

Menurutnya, angka outflow tidak dapat dilihat secara terpisah dari aktivitas ekonomi masyarakat. Pergerakan uang tunai juga dipengaruhi pola transaksi dan kebutuhan pada periode tertentu. Karakteristik wilayah Kaltara yang luas dengan pusat-pusat aktivitas ekonomi tersebar di sejumlah kabupaten dan kota turut membuat kebutuhan distribusi uang rupiah menjadi perhatian.

“Perbankan harus mendapatkan pasokan uang yang cukup sesuai kebutuhannya. Kita melihat pola penarikan dan setoran dari perbankan, kemudian dari situ kebutuhan uang di masing-masing wilayah bisa dipantau,” ujarnya.

Konflik Agraria di Kaltara Mengkhawatirkan, AMAN Bulungan Dorong Kolaborasi Strategis

Di sisi lain, perkembangan transaksi digital terus berlangsung. Penggunaan QRIS dan kanal pembayaran nontunai semakin meluas, tetapi belum menghilangkan kebutuhan terhadap uang fisik.

“Digitalisasi pembayaran terus berkembang, tetapi bukan berarti kebutuhan terhadap uang tunai langsung hilang. Keduanya masih berjalan,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat Bank Indonesia tidak hanya menjaga kecukupan jumlah uang yang beredar, tetapi juga memastikan kualitas fisik uang yang digunakan masyarakat. Uang yang sudah tidak layak edar juga ditarik dari peredaran untuk kemudian digantikan dengan pecahan yang kondisinya lebih baik.

“Masyarakat tentu membutuhkan uang yang layak digunakan, baik dari sisi kondisi fisiknya maupun pecahannya,” katanya.

Agus menambahkan, pola peredaran uang kartal juga dapat menjadi salah satu gambaran mengenai aktivitas ekonomi daerah. Perubahan kebutuhan transaksi dapat ikut memengaruhi permintaan terhadap uang tunai.

Selundupkan BBM Subsidi dari Bulungan, Dua Warga Berau Dibekuk Polisi

“Kebutuhan masyarakat terhadap rupiah harus tetap terpenuhi. Ketersediaan uangnya cukup, kualitasnya baik, dan distribusinya sampai ke wilayah yang membutuhkan,” pungkasnya. (rz)

× Advertisement
× Advertisement