TARAKAN – Meningkatnya fenomena dugaan bunuh diri di kalangan remaja di Tarakan menjadi alarm serius bagi masyarakat. Penyuluh Agama Katolik Kota Tarakan, Mariam Usat, menilai persoalan tersebut tidak bisa dipandang sebagai kasus individu semata, melainkan dampak dari tekanan sosial, keluarga, pendidikan, hingga pengaruh media digital yang semakin kuat.
“Fenomena ini sangat memprihatinkan dan perlu dilihat secara utuh baik dari sisi psikologis, keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, hingga spiritualitas,” ujar Mariam.
Ia mengatakan, tekanan mental yang dialami generasi muda saat ini membutuhkan pendekatan yang lebih empatik dan menyeluruh. Dalam pandangan Gereja Katolik, setiap kehidupan manusia memiliki nilai luhur sebagai anugerah Tuhan sehingga tidak boleh dianggap sia-sia.
Menurutnya, ketika remaja mulai merasa putus asa atau kehilangan harapan, kondisi tersebut menjadi tanda adanya luka batin yang memerlukan perhatian serius, bukan penghakiman.
“Gereja tidak mengedepankan stigma. Orang yang mengalami depresi atau tekanan mental membutuhkan bantuan, pendampingan, dan perhatian,” tegasnya.
Mariam menjelaskan, ada banyak faktor yang memicu tekanan mental pada remaja. Mulai dari tuntutan akademik, konflik keluarga, perundungan, hingga tekanan sosial akibat penggunaan media digital.
“Banyak remaja merasa terbebani oleh target nilai, persaingan sekolah, harapan orang tua, hingga kecemasan akan masa depan. Ketika tidak mampu memenuhi ekspektasi, mereka mudah merasa gagal dan tidak berharga,” jelasnya.
Ia juga menyoroti minimnya komunikasi dalam keluarga yang membuat banyak remaja memilih memendam masalah karena merasa tidak dipahami atau takut dihakimi.
Selain itu, budaya perbandingan di media sosial dinilai semakin memperparah kondisi psikologis anak muda. Tekanan untuk tampil sempurna dan diterima lingkungan digital kerap memicu rasa minder hingga kecemasan berlebihan.
“Generasi muda sering merasa harus selalu diterima. Tekanan untuk mendapat pengakuan di media sosial bisa memicu kecemasan,” katanya.
Fenomena cyberbullying atau perundungan di dunia maya juga disebut memberikan dampak besar terhadap kesehatan mental remaja.
“Komentar negatif atau hinaan di media sosial bisa meninggalkan luka yang sangat dalam,” ungkapnya.
Mariam menegaskan, keluarga memiliki peran utama sebagai benteng pertama dalam menjaga kesehatan mental anak. Ia menyebut keluarga sebagai “gereja rumah tangga” tempat anak belajar tentang kasih, penerimaan, dan rasa aman.
“Orang tua perlu hadir, mendengar tanpa menghakimi. Sikap empati membuat anak merasa tidak sendirian,” ujarnya.
Ia mengingatkan sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, seperti perubahan suasana hati, menarik diri dari lingkungan, gangguan pola tidur dan makan, hingga penurunan prestasi belajar. Dalam beberapa kasus, muncul perilaku menyakiti diri atau unggahan bernada putus asa di media sosial.
Selain keluarga, komunitas dan gereja juga dinilai penting dalam menyediakan ruang aman bagi remaja melalui kegiatan positif dan pendampingan spiritual. “Remaja membutuhkan komunitas yang menerima dan mendukung mereka,” ucapnya.
Melalui program pembinaan, Penyuluh Agama Katolik Tarakan turut mendorong edukasi kesehatan mental serta penggunaan media sosial secara bijak.
Mariam pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap kondisi psikologis generasi muda.
“Kesehatan mental remaja adalah tanggung jawab bersama. Kita harus hadir dan saling menjaga,” pungkasnya. (rz)

