Bukan Pengangguran, Tapi Menganggur: Fenomena Baru Anak Muda Tarakan Jadi Sorotan
TARAKAN – Di balik turunnya angka pengangguran di Kota Tarakan, terselip fenomena yang justru memicu kekhawatiran, yakni semakin banyak anak muda yang tidak bekerja, tidak mencari pekerjaan, dan juga tidak menempuh pendidikan maupun pelatihan. Kondisi ini luput dari angka resmi pengangguran, namun dinilai berpotensi menjadi persoalan serius dalam dinamika ketenagakerjaan ke depan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tarakan, Umar Riyadi menjelaskan, tidak semua orang yang tidak bekerja otomatis dikategorikan sebagai pengangguran. Hal itu karena definisi pengangguran dalam statistik hanya mencakup mereka yang aktif mencari kerja.
“Yang dikatakan pengangguran itu adalah mereka yang berstatus mencari kerja,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat kelompok masyarakat yang berada dalam zona abu-abu, yakni tidak memiliki pekerjaan tetapi juga tidak berupaya mencari pekerjaan. Dalam konteks ini, mereka tidak masuk dalam kategori pengangguran terbuka.
“Ada lagi kasus di mana orang ditanya, “apakah sedang mencari pekerjaan?” Dia bilang, “tidak”. Tapi dia juga tidak bekerja. Nah, yang model begini itu tidak bisa dikatakan pengangguran,” jelasnya.
Fenomena ini, lanjut Umar, kini mulai banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat berdampak pada pemanfaatan bonus demografi di masa mendatang.
“Ini yang sebetulnya dikhawatirkan sekarang ketika anak muda makin banyak yang tidak mencari pekerjaan, tidak bekerja, tidak kuliah, dan tidak juga dalam aktivitas menuntut ilmu,” katanya.
Dalam metode Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), seseorang sudah dikategorikan bekerja apabila melakukan aktivitas produktif minimal satu jam dalam seminggu, baik untuk memperoleh maupun membantu memperoleh pendapatan.
“Jadi misalnya hari Senin 15 menit, Selasa 15 menit, Rabu 15 menit, Kamis 15 menit, kalau totalnya satu jam dalam seminggu, itu sudah dikatakan bekerja,” terangnya.
Umar juga menegaskan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) bukan satu-satunya indikator untuk menilai kondisi ketenagakerjaan. Ia menilai perlu perhatian lebih pada kualitas pekerjaan, terutama perbandingan antara sektor formal dan informal.
“Sekarang saya ingin menggambarkan juga, tingkat pengangguran terbuka itu bukan satu-satunya ukuran. Karena definisi bekerja itu sangat mudah, maka yang jadi perhatian juga adalah pekerja formal dan informal,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang terserap di sektor formal karena dinilai lebih menjamin stabilitas pendapatan dan keberlanjutan ekonomi. “Kita berharap makin banyak masyarakat bekerja di sektor formal dibanding informal. Karena ini yang bisa menjamin kelayakan hidup yang lebih sustainable dibandingkan pekerja informal,” tambahnya.
Berdasarkan data BPS, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Tarakan pada Agustus 2025 tercatat sebesar 5,06 persen, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,11 persen. Jumlah pengangguran juga turun dari 6.216 orang menjadi 6.064 orang.
Meski tren tersebut menunjukkan perbaikan, Umar menekankan pentingnya mendorong kelompok usia produktif agar tetap aktif, baik dalam bekerja, menempuh pendidikan, maupun meningkatkan keterampilan.
“Pada akhirnya, bonus demografi itu akan optimal kalau usia produktifnya benar-benar aktif bekerja, belajar, atau meningkatkan keterampilan,” pungkasnya. (rz)

