SKB Tarakan Jadi Sekolah Model Nasional
TARAKAN – UPT Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan mencatat prestasi membanggakan di tingkat nasional. SKB Tarakan resmi ditetapkan sebagai salah satu dari 29 sekolah model implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding-Kecerdasan Artifisial (KKA) di Indonesia, sekaligus menjadi satu-satunya satuan pendidikan nonformal di Kalimantan Utara (Kaltara) yang dipercaya sebagai percontohan pengembangan pendidikan berbasis teknologi.
Penetapan tersebut menjadi pengakuan atas konsistensi SKB Tarakan dalam mengembangkan layanan pendidikan kesetaraan sekaligus mendorong transformasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Abdul Razaq, mengatakan dari sekitar 29 satuan pendidikan nonformal yang ditunjuk sebagai sekolah model di Indonesia, SKB Tarakan menjadi satu-satunya wakil Kalimantan Utara.
“Di Indonesia ada sekitar 29 satuan pendidikan nonformal yang ditetapkan sebagai sekolah model. Alhamdulillah, untuk Kalimantan Utara salah satunya adalah SKB Kota Tarakan,” ujarnya.
Menurut Razaq, penunjukan tersebut tidak terlepas dari kapasitas lembaga yang dinilai mampu mengelola pendidikan nonformal secara baik. Saat ini SKB Tarakan melayani sekitar 380 warga belajar yang mengikuti Program Paket A, Paket B, dan Paket C.
“Jumlah warga belajar kami cukup banyak. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan pendidikan nonformal yang kami selenggarakan,” katanya.
Ia berharap status sekolah model tidak hanya menjadi sebuah prestasi, tetapi juga menjadi momentum bagi SKB Tarakan untuk tampil sebagai rujukan pengembangan pendidikan nonformal, khususnya di wilayah Kalimantan.
“Harapannya SKB Tarakan bisa menjadi percontohan dan referensi bagi lembaga lain dalam meningkatkan kualitas pembelajaran,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn menjelaskan, konsep sekolah model tidak hanya menitikberatkan pada penggunaan teknologi seperti koding dan kecerdasan artifisial, tetapi juga pada transformasi menyeluruh dalam proses pembelajaran.
“Sekolah model ini adalah implementasi Pembelajaran Mendalam dan Koding-Kecerdasan Artifisial. Fokusnya bagaimana satuan pendidikan mampu menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dan menjadi contoh,” jelasnya.
Ia menyebutkan terdapat tiga aspek utama yang menjadi fokus pengembangan, yakni peningkatan kualitas belajar peserta didik, kualitas mengajar pendidik, serta kepemimpinan satuan pendidikan.
Sebagai tindak lanjut, SKB Tarakan mulai melakukan berbagai pembenahan, termasuk penyesuaian visi dan misi agar selaras dengan arah kebijakan sekolah model yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
“Visi dan misi SKB akan kami sesuaikan agar seluruh program benar-benar berorientasi pada peserta didik, sehingga lulusan memiliki karakter yang baik, mandiri, dan percaya diri,” ujarnya.
Selain penguatan kualitas pembelajaran, peningkatan sarana dan prasarana juga menjadi perhatian. Meski pemerintah akan memberikan dukungan, pengembangan fasilitas masih menghadapi kendala keterbatasan lahan.
“Sebenarnya ada program revitalisasi, namun lahan kami masih terbatas sehingga pengembangan belum bisa maksimal,” ungkap Patmaria.
Pihaknya berharap pemerintah dapat memberikan dukungan lebih lanjut melalui revitalisasi fasilitas maupun penyediaan lahan tambahan agar pelayanan pendidikan nonformal di Kota Tarakan semakin optimal.
“Harapan kami SKB memiliki fasilitas yang lebih representatif. Jika memungkinkan ada dukungan lahan tambahan agar pelayanan kepada warga belajar semakin optimal,” pungkasnya. (rz)

