TARAKAN – Inflasi Kota Tarakan pada Agustus 2026 mencapai 2,60 persen secara tahunan (year on year/y-on-y). Kenaikan harga transportasi dan emas perhiasan menjadi dua faktor utama yang mendorong inflasi di kota ini.
Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2025 yang berada di level 2,01 persen dan Agustus 2024 sebesar 1,73 persen.
Kepala BPS Kota Tarakan Umar Riyadi mengatakan, secara bulanan Tarakan juga mengalami inflasi sebesar 0,24 persen pada Agustus 2026. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan Agustus dua tahun sebelumnya yang masing-masing mencatat deflasi 0,07 persen pada 2025 dan inflasi 0,31 persen pada 2024.
“Kalau kita lihat secara tahunan, inflasi Tarakan pada Agustus 2026 mencapai 2,60 persen. Angka ini meningkat dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 2,01 persen,” ujar Umar.
Sementara secara year to date (y-to-d), inflasi Tarakan hingga Agustus 2026 mencapai 1,53 persen. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 1,51 persen dan meningkat dari 1,08 persen pada 2024.
Sejalan dengan itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) Tarakan pada Agustus 2026 tercatat 109,65, naik dari Juli 2026 yang berada di level 109,39. Pada Agustus 2025, IHK Tarakan masih berada di angka 106,55.
Umar menjelaskan, tekanan inflasi tahunan terbesar berasal dari kelompok transportasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 7,04 persen dengan andil mencapai 0,86 poin persentase terhadap inflasi Tarakan.
Salah satu komponen yang mengalami kenaikan cukup tinggi adalah jasa angkutan penumpang dengan inflasi mencapai 23,10 persen.
Selain itu, pembelian kendaraan mengalami inflasi 5,57 persen, pengoperasian peralatan transportasi pribadi 1,63 persen, serta jasa pengiriman barang sebesar 0,73 persen.
“Kelompok transportasi memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yaitu 0,86 poin persentase. Di dalamnya ada jasa angkutan penumpang yang mengalami inflasi cukup tinggi,” jelasnya.
Tekanan berikutnya datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mencatat inflasi 9,28 persen dengan andil 0,84 poin persentase.
Subkelompok perawatan pribadi lainnya bahkan mengalami inflasi 21,41 persen. Salah satu komoditas yang paling berpengaruh adalah emas perhiasan, yang memberikan andil 0,73 poin persentase terhadap inflasi tahunan Tarakan.
“Perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil cukup besar, mencapai 0,84 poin persentase. Salah satu komoditas yang cukup dominan adalah emas perhiasan dengan andil 0,73 poin persentase,” kata Umar.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi. Kelompok ini mencatat inflasi 2,01 persen dengan andil 0,59 poin persentase.
Sejumlah komoditas pangan yang menjadi penyumbang antara lain air kemasan, beras, sawi hijau, cabai rawit, bakso siap santap, kue basah, kangkung dan minyak goreng.
“Kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil 0,59 poin persentase. Beberapa komoditas pangan seperti beras, sawi hijau, cabai rawit dan kangkung ikut memberikan tekanan,” tutur Umar.
Pada pergerakan bulanan, komoditas hortikultura justru menjadi sumber utama inflasi. Sawi hijau memberikan andil 0,08 poin persentase, disusul kangkung 0,06 poin dan cabai rawit 0,04 poin.
Bayam dan kacang panjang masing-masing memberikan andil 0,03 poin persentase. Sementara bawang putih, beras, terung, cabai merah, jagung manis, minyak goreng dan daun seledri masing-masing memberikan andil 0,01 poin persentase.
Namun, kenaikan tersebut tertahan oleh turunnya sejumlah harga komoditas. Tomat memberikan andil deflasi 0,08 poin persentase, sedangkan bawang merah sebesar 0,07 poin persentase.
“Untuk pergerakan bulanan, sawi hijau menjadi penyumbang terbesar. Kangkung dan cabai rawit juga memberikan andil, sementara penurunan harga tomat dan bawang merah menahan inflasi,” jelas Umar.
Selain transportasi, emas dan pangan, sejumlah kelompok pengeluaran lain juga mengalami inflasi.
Kelompok restoran dan jasa penyediaan makanan dan minuman mencatat inflasi 3,22 persen dengan andil 0,29 poin persentase. Bakso siap santap menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,07 poin persentase.
Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 2,32 persen dengan andil 0,11 poin persentase. Sementara kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mencatat inflasi 0,66 persen dengan andil yang sama, yakni 0,11 poin persentase.
Kelompok kesehatan mengalami inflasi 1,65 persen dengan andil 0,05 poin persentase. Pendidikan mencatat inflasi 0,92 persen dengan andil 0,03 poin persentase, sedangkan pakaian dan alas kaki sebesar 0,33 persen dengan andil 0,02 poin persentase.
Adapun kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalami inflasi 0,59 persen dengan andil 0,01 poin persentase. Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mencatat inflasi 0,06 persen, namun tidak memberikan andil signifikan terhadap inflasi tahunan.
Umar menegaskan, inflasi Agustus 2026 terbentuk dari pergerakan berbagai kelompok pengeluaran. Kenaikan sejumlah komoditas masih diimbangi oleh penurunan harga komoditas lainnya.
“Kalau kita lihat keseluruhan, inflasi Agustus terbentuk dari pergerakan beberapa kelompok pengeluaran. Ada komoditas yang mendorong inflasi, tetapi ada juga yang mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi,” pungkasnya. (rz)

