TARAKAN – Cadangan air baku Tarakan mulai tertekan setelah hujan tak turun selama lima hingga enam hari. Debit sejumlah sumber air turun hingga 15 persen, memaksa PDAM Tarakan mengatur distribusi secara bergilir untuk menjaga pasokan hingga beberapa bulan ke depan.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan V Tanjung Selor Mustafa mengatakan, penurunan debit belum terjadi merata di seluruh sumber air. Embung Indulung masih relatif aman dengan penurunan sekitar 5 persen. Sementara Embung Rawasari mengalami penurunan lebih besar, mencapai 10–15 persen.
“Penurunannya memang sekitar 10 sampai 15 persen. Terkadang kembali lagi, kemudian menurun lagi. Sampai hari ini sekitar 15 persen maksimum penurunannya. Saat hujan turun, debitnya bisa naik lagi,” ujar Mustafa.
Rawasari menjadi salah satu sumber penting dalam sistem penyediaan air baku Tarakan. Embung ini menyuplai kawasan Pasir Putih dan Kampung Bugis serta terhubung dengan sistem pelayanan di Persemaian.
Di kawasan Persemaian, pasokan air masih ditopang sejumlah sumber. Suplai dari Rawasari sekitar 60 liter per detik, sedangkan Bengawan mencapai 100 liter per detik. Selain itu, terdapat Embung Persemaian dan long storage yang ikut menjaga ketersediaan air.
“Rawasari itu sekitar 60 liter per detik, kemudian dari Bengawan sekitar 100 liter per detik. Jadi di situ ada suplai sekitar 200 liter per detik. Embung Persemaian juga ada, termasuk long storage Persemaian,” katanya.
Sementara itu, kondisi Embung Indulung masih lebih baik. Sumber tersebut menopang kebutuhan air sejumlah wilayah, termasuk Kampung 1 dan Kampung 6, serta terkoneksi dengan Bendungan Binalatung.
Binalatung saat ini masih menjadi salah satu penopang utama air baku Tarakan. Dari kapasitas rencana 200 liter per detik, pemanfaatannya kini sekitar 120 liter per detik.
“Binalatung masih menyuport Tarakan. Kapasitas rencananya 200 liter per detik, tetapi yang dimanfaatkan sekarang sekitar 120 liter per detik,” ujar Mustafa.
Menurut dia, penurunan debit berkaitan erat dengan minimnya hujan. Kondisi ini cukup cepat memengaruhi sumber air Tarakan karena karakter sungainya relatif pendek. Air hujan harus terlebih dahulu ditampung di embung dan long storage sebelum dialirkan ke instalasi pengolahan air (IPA).
“Sungai di Tarakan pendek-pendek. Airnya ditampung dulu di embung. Semua ditangkap dan disimpan di sana, kemudian baru dialirkan ke IPA. Air diupayakan tidak terbuang percuma ke laut,” katanya.
Sistem tampungan tersebut membuat sumber air di Tarakan masih dapat saling menopang. Rawasari menyuplai IPA Kampung Bugis dan Persemaian, sedangkan Indulung terhubung dengan Binalatung.
Namun, kondisi akan semakin rawan jika hujan tak kunjung turun. Mustafa memperkirakan Tarakan mulai berada dalam kondisi berbahaya apabila tidak mendapat hujan selama dua pekan.
“Tarakan akan berada dalam kondisi berbahaya apabila tidak hujan selama dua minggu. Selama ini dalam seminggu masih ada hujan sehingga kondisi masih bisa dijaga. Sekarang sudah lima sampai enam hari tidak hujan, pengaruhnya langsung terasa dan debit air berkurang,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, PDAM Tarakan mulai menerapkan penggiliran distribusi di sejumlah wilayah. Kebijakan ini ditujukan untuk menghemat cadangan air, bukan karena sumber air telah habis.
“Informasinya dari PDAM, sampai Oktober perlu dilakukan penggiliran. Satu wilayah misalnya dialiri sekitar enam jam, kemudian dihentikan dan dialihkan ke wilayah lainnya. Itu untuk menjaga supaya air tidak habis dan masih bisa memenuhi kebutuhan beberapa bulan ke depan,” kata Mustafa.
Masyarakat pun mulai menyiapkan tandon untuk menyimpan air selama distribusi dihentikan sementara. Langkah itu diharapkan dapat membantu rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari selama sistem penggiliran berlangsung.
Tekanan terhadap pasokan air juga berpotensi meningkat seiring pertumbuhan permukiman dan aktivitas ekonomi. Kawasan Juata dan Juata Laut, misalnya, terus berkembang dengan meningkatnya permukiman dan kegiatan industri.
Meski demikian, Mustafa memastikan kondisi sumber air saat ini masih terkendali. Penurunan debit lebih banyak dipengaruhi minimnya hujan, sementara sistem tampungan dan jaringan suplai masih memungkinkan sumber air saling mendukung.
“Penurunan debit lebih dipengaruhi hujan yang jarang. Untuk sekarang masih bagus dan sumber-sumber air masih bisa saling menyuport,” katanya.
Ia berharap hujan kembali turun secara berkala agar debit sumber air meningkat dan tekanan terhadap cadangan air Tarakan tidak semakin besar.
“Debit air bisa kembali naik saat hujan turun. Mudah-mudahan hujan tetap ada sehingga kebutuhan air masyarakat bisa terpenuhi dan tidak terjadi kekurangan yang lebih besar,” pungkasnya. (rz)

