TARAKAN — Penukaran uang baru menjelang Hari Raya Idulfitri di Kalimantan Utara (Kaltara) terus meningkat. Hingga pekan ketiga Ramadan 1447 Hijriah, realisasi penukaran uang yang tercatat di Bank Indonesia wilayah Kalimantan Utara telah mencapai Rp358,5 miliar.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Utara, Hasiando mengatakan, jumlah tersebut merupakan aliran uang keluar (outflow) yang terdiri dari berbagai pecahan rupiah, mulai dari pecahan besar hingga pecahan kecil yang biasa digunakan masyarakat untuk kebutuhan Lebaran.
“Total aliran outflow atau uang keluar untuk pecahan besar seperti Rp50 ribu dan Rp100 ribu ditambah uang pecahan kecil Rp20 ribu sampai Rp1.000 hingga 11 Maret 2026 sebesar Rp358,5 miliar di Kaltara,” ujarnya.
Menurutnya, angka tersebut sudah mencapai sekitar 51% dari total proyeksi kebutuhan uang tunai masyarakat selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri di Kaltara. Sebelumnya, Bank Indonesia memproyeksikan kebutuhan uang tunai selama periode Ramadan di Kaltara mencapai Rp701,7 miliar.
“Dari proyeksi kebutuhan selama periode Ramadan di Kaltara sebesar Rp701,7 miliar. Atau kurang lebih sudah mencapai 51 persen,” jelasnya.
Hasiando memperkirakan jumlah tersebut masih akan terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat menjelang perayaan Idulfitri. “Jadi BI sebagaimana disampaikan pada saat awal Ramadan, kita siapkan kebutuhan uang pecahan besar dan kecil bagi masyarakat di Kaltara,” paparnya.
Ia menambahkan, pihaknya masih memiliki waktu untuk memastikan ketersediaan uang tunai bagi masyarakat hingga memasuki masa Lebaran. “Karena masih ada beberapa waktu lagi sebelum nanti masuk Idulfitri, BI tetap berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat luas,” katanya.
Terkait mekanisme penukaran uang, Hasiando menegaskan bahwa masyarakat saat ini hanya dapat melakukan penukaran melalui aplikasi atau situs web Pintar milik Bank Indonesia. Menurutnya, sistem tersebut diberlakukan secara nasional agar proses penukaran uang dapat dilakukan secara tertib dan terjadwal.
“Karena dia seragam, kan. Jadi hanya ada waktu lalu itu dua periode dan itu saat ini masih berlangsung. Jadi tidak lagi ada offline. Semua didaftarkan melalui aplikasi Pintar,” jelasnya.
Adapun batas maksimal penukaran uang melalui layanan tersebut ditetapkan sebesar Rp5,3 juta per orang dengan komposisi pecahan yang telah ditentukan.
Menanggapi keluhan sebagian masyarakat yang mengaku kesulitan mendapatkan uang baru hingga akhirnya menukar melalui jasa penyedia dengan biaya tambahan, Hasiando menegaskan praktik tersebut sebenarnya tidak dibenarkan. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaannya di Kaltara masih ditemukan kuota penukaran yang tidak dimanfaatkan masyarakat meskipun sudah melakukan pendaftaran.
“Misalkan kita siapkan 100 paket. Sudah dijanjikan dan hari H tidak seluruhnya habis. Sehingga mungkin di awal harus sosialisasi intens lagi agar mereka tahu media penukaran kita sekarang melalui Pintar,” terangnya.
Karena itu, Bank Indonesia berharap masyarakat dapat memanfaatkan layanan penukaran resmi tersebut secara maksimal untuk memperoleh uang pecahan baru menjelang Lebaran.
“Sehingga harapannya mereka bisa memanfaatkan. Dan program Pintar juga ini namanya aplikasi akan terus kita perbaiki,” pungkasnya. (rz)


