Video Viral Pelajar di Kelas, Sekolah Tegaskan Hanya Bercanda
TARAKAN – Video berdurasi 19 detik yang memperlihatkan dua pelajar di dalam kelas SMK Negeri 4 Tarakan viral di media sosial dan memicu beragam spekulasi. Menanggapi hal itu, pihak sekolah menegaskan kejadian tersebut hanyalah candaan yang kemudian disalahartikan setelah direkam dan disebarluaskan.
Rekaman itu sempat beredar luas di berbagai platform pada Jumat (24/4/2026), sebelum akhirnya dihapus.
Namun, penyebarannya yang cepat membuat video tersebut telanjur menjadi perbincangan publik. Dalam video itu tampak seorang siswa dan siswi mengenakan seragam batik biru duduk berdampingan di bangku kelas.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 4 Tarakan, Paul Soni, S.Pd, mengatakan hasil penelusuran internal menunjukkan tidak ada unsur kesengajaan melakukan tindakan menyimpang.
“Dari keterangan siswa di kelas, itu hanya candaan. Mereka tidak ada niat melakukan hal yang menyimpang, hanya iseng, tapi kemudian direkam dan disebarkan sehingga menimbulkan persepsi berbeda,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, video awalnya diunggah secara terbatas melalui akun kedua milik salah satu siswa dengan jumlah pengikut sedikit. Namun, unggahan tersebut direkam ulang pihak lain dan akhirnya tersebar luas.
“Awalnya hanya dibagikan di lingkup kecil, tapi ada yang merekam ulang dari story dan akhirnya menyebar. Dari situ muncul berbagai tafsir yang tidak semuanya sesuai kondisi sebenarnya,” jelasnya.
Pihak sekolah langsung memanggil siswa yang terlibat bersama orang tua mereka untuk klarifikasi dan pembinaan. Selain itu, sekolah juga memberikan pendampingan psikologis melalui guru Bimbingan Konseling (BK), karena dampak viralnya video cukup besar terhadap kondisi siswa.
“Anak-anak ini sempat kaget dan tertekan karena wajahnya tersebar tanpa disamarkan. Itu yang membuat mereka merasa malu dan enggan masuk sekolah,” ungkap Paul.
Pendampingan turut melibatkan Forum Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA). Saat ini kondisi kedua siswa disebut mulai membaik dan sudah kembali mengikuti kegiatan belajar.
Meski menilai isi video belum dapat dipastikan karena kualitas rekaman kurang jelas, sekolah tetap menjatuhkan sanksi berupa poin pelanggaran dan skorsing selama sembilan hari, dengan kewajiban tetap mengerjakan tugas akademik.
Sekolah juga menyayangkan pihak yang menyebarkan video tanpa menyamarkan identitas siswa, mengingat keduanya masih di bawah umur.
“Kami sangat menyayangkan ada yang menyebarkan tanpa blur wajah. Ini anak-anak, dampaknya bisa panjang bagi mereka,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, sekolah akan mengevaluasi kebijakan penggunaan telepon genggam di lingkungan sekolah dan memperketat pengawasan saat jam istirahat. (rz)


