KALTARATARAKAN

Minyak Jelantah Jadi ‘Emas Cair’, Tarakan Bidik Peluang Energi Alternatif

TARAKAN – Minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah rumah tangga, kini mulai dilirik sebagai “emas cair” bernilai ekonomi tinggi. Di Kota Tarakan, potensi pengolahan minyak bekas menjadi bahan bakar nabati dinilai mampu membuka peluang usaha baru sekaligus mendukung ketahanan energi daerah.

Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, mengatakan tren pemanfaatan minyak jelantah terus berkembang karena dapat diolah menjadi energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
“Minyak jelantah sekarang justru memiliki nilai ekonomi tinggi karena bisa diolah menjadi bahan bakar nabati,” ujarnya.

Menurut Umar, kebutuhan bahan bakar solar di daerah masih cukup besar, sehingga pengembangan bahan bakar nabati berbahan dasar jelantah dapat menjadi solusi strategis.
“Kalau di Tarakan ada pengepul minyak jelantah atau mini refinery, itu juga dapat membantu mendukung kebutuhan bahan bakar nabati, terutama untuk campuran solar karena kebutuhan solar di daerah kita cukup tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan, minyak jelantah bahkan sempat memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding crude palm oil (CPO) karena dinilai lebih baik untuk proses pengolahan energi. “Dulu harga minyak jelantah pernah mencapai sekitar Rp19 ribu per liter, sementara CPO sekitar Rp14 ribu. Untuk diproses menjadi bahan bakar, minyak jelantah justru lebih bagus,” jelasnya.

Selain memiliki potensi ekonomi, pengelolaan minyak jelantah juga dinilai memberi dampak positif terhadap lingkungan. Limbah minyak rumah tangga yang selama ini kerap dibuang sembarangan dapat diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat. “Kalau dikelola dengan baik, selain punya nilai ekonomi juga lebih ramah lingkungan karena tidak dibuang sembarangan ke perairan,” tambahnya.

Umar mencontohkan, di Balikpapan minyak jelantah dari rumah tangga dapat dihargai sekitar Rp6.000 per liter sebelum masuk ke pabrik pengolahan. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang ekonomi yang bisa dimanfaatkan masyarakat. “Bayangkan kalau setiap rumah tangga bisa mengumpulkan minyak jelantah. Itu punya nilai ekonomis sekaligus membantu menjaga lingkungan,” ujarnya.

Ke depan, keberadaan jaringan pengepul hingga pengolahan sederhana di Tarakan diyakini dapat mendorong lahirnya usaha baru di sektor energi alternatif. “Kalau nanti ada jaringan pengepul atau pengolahan sederhana di daerah, tentu itu bisa membantu pemanfaatan minyak jelantah menjadi lebih produktif,” pungkasnya. (rz)

Back to top button