NUNUKAN – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Nunukan, Wahyudi Kawariyin menegaskan, penutupan Pos Damkar di RT 11, Nunukan Utara atau dikenal dengan Kampung Pukat dilakukan karena keterbatasan personel yang harus dibagi ke sejumlah unit armada pemadam yang dimiliki saat ini.
Menurut Wahyudi, persoalan keberadaan pos damkar tersebut sebenarnya sudah lama menjadi perhatian. Bahkan, pihaknya telah beberapa kali berdiskusi dengan masyarakat terkait alasan penutupan pos tersebut.
“Keluhan soal pos damkar yang disampaikan Pak Vicky itu sudah lama. Kami juga sempat berdiskusi panjang mengenai alasannya. Saat ini kami siap memberikan pembinaan dan pelatihan apabila ada warga yang disiapkan menjadi relawan. Kapan pun dan di mana pun kami siap membantu,” tegas Wahyudi.
Ia mengakui, Damkar resmi tidak mampu bekerja sendiri dalam menangani seluruh potensi kebakaran di Nunukan. Kondisi geografis, kawasan permukiman padat, hingga akses jalan sempit menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
“Api tidak menunggu siapa-siapa. Karena itu dibutuhkan relawan damkar di setiap RT. Pos Damkar resmi di Nunukan hanya satu sampai dua pos. Kalau kebakaran terjadi di wilayah pinggiran atau seberang, petugas bisa membutuhkan waktu 10 hingga 20 menit untuk tiba di lokasi,” ujarnya.
Padahal, lanjut Wahyudi, api dapat membesar dua kali lipat hanya dalam waktu sekitar 5 menit. Karena itu, keberadaan relawan yang tinggal dekat lokasi kebakaran dinilai sangat penting untuk melakukan penanganan awal menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) sebelum api membesar.
“Relawan yang rumahnya hanya sekitar 200 meter dari lokasi bisa langsung melakukan penyemprotan dalam satu atau dua menit. Itu merupakan jeda emas untuk menyelamatkan korban sekaligus mencegah api meluas,” katanya.
Selain keterbatasan waktu tempuh, banyaknya gang sempit dan rumah panggung di Nunukan juga membuat armada besar pemadam kebakaran sulit menjangkau titik kejadian.
Menurut Wahyudi, relawan lokal biasanya lebih memahami kondisi lingkungan sekitar, termasuk akses gang, keberadaan warga lanjut usia, hingga titik sumber air terdekat.
“Mereka bisa menggunakan gerobak pompa, ember berantai, atau alat sederhana lainnya. Meski sederhana, cara itu cukup efektif untuk kawasan yang tidak bisa dimasuki mobil damkar,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian besar kebakaran rumah sebenarnya masih dapat dikendalikan pada tahap awal apabila masyarakat memiliki pengetahuan dasar penanganan kebakaran.
“Sekitar 80 persen kebakaran rumah sebenarnya bisa dipadamkan saat api masih kecil. Masalahnya, warga sering panik dan hanya berteriak meminta tolong. Kalau sudah dilatih dan tersedia APAR di tiap RT, kebakaran kecil bisa langsung ditangani tanpa menunggu rumah terbakar lebih besar,” ujarnya.
Karena itu, Wahyudi menilai relawan memiliki peran penting sebagai “pemadam pertama” sebelum petugas resmi tiba di lokasi kejadian. Pemberdayaan masyarakat juga dinilai penting agar warga tidak hanya menjadi penonton saat terjadi kebakaran di lingkungan mereka.
Melalui Bidang Pencegahan, Disdamkar Nunukan terus menggelar berbagai kegiatan penyuluhan di instansi pemerintah, perbankan, perusahaan swasta, fasilitas kesehatan, hingga lingkungan pendidikan.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi bahaya kebakaran serta langkah penanganan awal saat keadaan darurat.
Wahyudi menegaskan, tugas pemadam kebakaran tidak hanya menangani api yang sudah membesar, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Disdamkar juga mendorong pembentukan Barisan Relawan Kebakaran (Balakar) dan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar). Keberadaan relawan dinilai sangat penting, terutama di kawasan padat penduduk dan wilayah yang sulit dijangkau armada pemadam.
“Melalui Redkar, kami ingin keterlibatan masyarakat semakin kuat sehingga ketahanan lingkungan terhadap ancaman kebakaran juga meningkat,” kata Wahyudi.
Pemerintah daerah berharap sinergi antara edukasi, kesiapsiagaan relawan, dan respons cepat petugas dapat membantu menekan risiko kebakaran serta meminimalkan kerugian jiwa maupun harta benda di masa mendatang. (sym)

