KALTARAHUKUM & KRIMINALTARAKAN

Polisi Perketat Pengawasan Perairan Perbatasan

TARAKAN — Perairan perbatasan Indonesia–Malaysia di wilayah Nunukan dan Sebatik kembali menjadi perhatian aparat kepolisian. Dua kawasan tersebut dinilai sebagai titik paling rawan kejahatan lintas negara, mulai dari penyelundupan narkotika, tindak pidana perdagangan orang (TPPO), hingga praktik illegal fishing dan illegal logging.

Komandan KP Balam Baharkam Polri, AKP Erwin Saputra mengatakan, patroli laut terus diperkuat di seluruh wilayah perairan Kalimantan Utara (Katara) dengan fokus utama pada kawasan perbatasan.

Menurutnya, posisi strategis Nunukan dan Sebatik menjadikan wilayah tersebut rentan dimanfaatkan jaringan kejahatan internasional.

“Kalau yang paling rawan itu Nunukan dan Sebatik. Kalau fokus pengawasannya kita di seluruh wilayah Kalimantan Utara. Karena kapal kami bersandar di Tarakan, jadi kita fokus di sini. Tapi kita sesekali mobile ke Nunukan dan Sebatik,” ujarnya.

Selain mengantisipasi penyelundupan narkotika, pihaknya juga melakukan pengawasan terhadap TPPO, illegal fishing, dan illegal logging. Pengawasan dilakukan melalui koordinasi intensif bersama Gakkum Polairud Polda Kaltara, Badan Narkotika Nasional (BNN), TNI AL, Bea Cukai, hingga Basarnas untuk memperkuat pengamanan di jalur laut perbatasan.

Sinergi tersebut membuahkan hasil dengan terungkapnya kasus penyelundupan sabu seberat 3,1 kilogram yang diduga berasal dari Malaysia dan masuk melalui jalur laut menuju Tarakan.

Polisi melakukan surveillance di perairan Sebatik hingga sekitar Tarakan sebelum akhirnya berhasil mengungkap kasus tersebut. Barang bukti kini telah dimusnahkan berdasarkan penetapan pengadilan, sementara penyidikan terhadap jaringan pelaku masih terus dikembangkan.

Di sisi lain, kepolisian juga tengah mendalami dugaan TPPO yang melibatkan lalu lintas pekerja migran melalui perbatasan laut Indonesia–Malaysia.

“Sejauh ini kami baru mendapat informasi untuk melakukan penyelidikan, jadi belum melakukan penanganan kasus,” kata Erwin.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam pengamanan wilayah perairan Kaltara bukan hanya aktivitas pelaku kejahatan, tetapi juga kondisi cuaca yang kerap berubah secara mendadak.

Angin kencang dan badai, terutama saat patroli malam hari, menjadi hambatan utama bagi personel dalam menjaga keamanan perairan perbatasan. (rz)

Back to top button