KALTARATARAKAN

Rongga Batu Bara Menganga, Jalan Pantai Amal Tarakan Terancam Amblas

TARAKAN – Api yang merambat di bawah tanah mulai menggerogoti penopang jalan di kawasan Pantai Amal, Tarakan. BPBD Tarakan menemukan rongga bekas material batu bara yang terbakar hingga tiga meter ke arah horizontal dan dua meter ke bawah permukaan.

Kepala Pelaksana BPBD Tarakan Yonsep mengatakan, bagian permukaan yang terbuka di lokasi mencapai sekitar enam meter. Dari titik itu, pembakaran material batu bara telah menjalar ke bawah dan mendekati badan jalan.

“Kalau di permukaannya, bagian yang terbuka sekarang sekitar enam meter. Kemudian material yang terbakar itu masuk sekitar tiga meter secara horizontal. Kalau secara vertikal, kedalamannya sekitar dua meter,” kata Yonsep.

Kondisi tersebut, kata dia, berisiko mengurangi daya dukung tanah. Jika rongga terus membesar karena material di bawah permukaan masih terbakar, badan jalan dapat kehilangan penopang dan berpotensi amblas.

“Kalau tidak segera ditangani memang ada potensi bertambah, karena materialnya masih aktif. Kalau rongganya semakin besar, penopang jalan semakin berkurang,” ujarnya.

Risiko itu terutama mengancam kendaraan dan warga yang melintas di atas atau berdekatan dengan lokasi rongga. “Itu yang kita khawatirkan, karena jalan bisa jatuh dan kalau masih ada orang atau kendaraan yang melintas tentu risikonya sangat besar,” kata Yonsep.

BPBD memperkirakan area yang terdampak kebakaran hampir dua hektare. Namun, luas tersebut belum menunjukkan jumlah dan sebaran material batu bara di bawah tanah. Pemeriksaan lebih lanjut masih diperlukan untuk memetakan lapisan material dan arah rambatan api.

Kebakaran di Pantai Amal bukan kejadian baru. BPBD mencatat peristiwa serupa terjadi sejak 2019. Pada 2026, kebakaran telah dua kali terjadi, yakni pada Juli dan Agustus. Jika kebakaran Juli masih melahap vegetasi di permukaan, api pada Agustus telah mencapai lapisan material batu bara.

“Itu menjadi warning bagi kita, sampai ada rambu yang sebelumnya juga ikut terbakar. Tahun ini khusus di lokasi tadi sudah dua kali, Juli dan Agustus,” ujar Yonsep.

Menurut dia, kekeringan yang berlangsung cukup panjang turut meningkatkan risiko kebakaran. Namun, ketika api telah masuk ke lapisan bawah tanah, pemadamannya tidak bisa dilakukan seperti kebakaran lahan biasa.

“Begitu materialnya sudah terbakar, penanganannya berbeda. Tidak bisa hanya disiram air, karena yang terbakar itu ada di dalam,” katanya.

Penanganan harus menyasar sumber pembakaran agar api tidak terus merambat mengikuti lapisan material. Penanganan teknis kini diarahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum. BPBD tetap mendampingi dan memantau lokasi selama pekerjaan berlangsung, termasuk mengantisipasi munculnya titik api baru ketika material dibuka atau dikeruk.

Selain Pantai Amal, BPBD memantau lokasi lain yang diduga mengandung material batu bara, termasuk kawasan Kampung 6. Lokasi itu belum menjadi prioritas penanganan fisik karena tidak berdampak langsung terhadap permukiman.

“Yang menjadi prioritas segera ditangani adalah yang di jalan Pantai Amal karena sudah mempengaruhi badan jalan,” tuturnya.

Akses jalan di sekitar lokasi ditutup untuk memberi ruang bagi pemeriksaan dan pekerjaan teknis sekaligus mencegah warga maupun kendaraan melintas di atas area yang berpotensi kehilangan daya dukung.

BPBD akan melanjutkan pemantauan selama proses penanganan. Sebab, arah rambatan api di bawah permukaan belum sepenuhnya diketahui. Pemerintah mewaspadai munculnya titik panas baru yang dapat memperluas kerusakan dan mengancam badan jalan. (rz)

Back to top button