SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
KALTARA BULUNGAN

Kaltara Belajar dari Seychelles, Bisakah Kaya Tanpa Alam?

Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito

TANJUNG SELOR – Kalimantan Utara (Kaltara) tak kekurangan kekayaan alam. Laut, pesisir, hutan hingga beragam komoditas tersedia. Tantangannya justru bagaimana kekayaan tersebut menghasilkan pertumbuhan ekonomi tanpa meninggalkan kerusakan lingkungan.

Pertanyaan itu mengemuka ketika Pemerintah Provinsi Kaltara mulai melirik konsep ekonomi biru yang diterapkan Seychelles, negara kepulauan di Samudra Hindia yang menjadikan kelestarian ekosistem sebagai bagian dari strategi ekonominya.

Utusan Khusus Presiden Seychelles untuk ASEAN, Nico Barito menyebut, karakter geografis Kaltara memiliki kemiripan dengan negaranya. Kesamaan tersebut dinilai membuka peluang pertukaran pengalaman dalam mengelola sumber daya alam, terutama wilayah pesisir dan laut.

โ€œSeychelles berhasil maju secara ekonomi karena alam kami tetap terjaga dan konservasi berjalan dengan baik. Pengalaman-pengalaman itulah yang kami bagikan kepada Kaltara,โ€ ujar Nico, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, kekayaan alam yang melimpah justru memiliki risiko apabila hanya dipandang sebagai sumber eksploitasi. Pengelolaan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan dapat menggerus nilai ekonomi dalam jangka panjang.

Dideportasi dari Malaysia, 87 WNI Belum Bisa Langsung Pulang

Karena itu, pendekatan ekonomi biru diarahkan untuk membuat aktivitas ekonomi berjalan bersama dengan perlindungan ekosistem.
Generasi muda juga dinilai perlu dilibatkan karena keberlanjutan lingkungan tidak cukup hanya bergantung pada kebijakan pemerintah.

Salah satu contoh yang ditawarkan Seychelles adalah pengembangan budidaya udang windu organik. Praktik tersebut dinilai mampu menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus mengurangi tekanan terhadap ekosistem pesisir dibandingkan pola budidaya yang berpotensi merusak lingkungan.

โ€œKalau kita sudah bisa hidup baik dengan udang windu organik, mengapa harus mengubah pola yang justru berpotensi merusak alam? Kembali ke alam atau back to nature akan memberikan nilai tambah yang lebih baik untuk mempertahankan praktik berbasis kearifan lokal,โ€ katanya.

Gagasan tersebut menjadi relevan bagi Kaltara yang memiliki garis pantai panjang dan kawasan pesisir dengan potensi perikanan serta ekowisata. Pengelolaan mangrove, laut dan kawasan pesisir tidak lagi hanya dilihat dari sisi konservasi, tetapi juga sebagai aset ekonomi.

Kerja sama dengan Seychelles juga membuka pembicaraan mengenai pengembangan ekowisata, pengelolaan laut dan pesisir hingga peluang perdagangan karbon (carbon credit).
Namun, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan konsep tersebut menjadi program konkret.

Mendadak Ditertibkan, Televisi dan Kipas di Kamar Warga Binaan Lapas Tarakan Dipindahkan

Ekonomi biru tidak cukup berhenti pada pertukaran pengalaman atau kerja sama di atas kertas. Diperlukan pilihan komoditas, lokasi pengembangan, skema investasi, perlindungan ekosistem serta mekanisme pengukuran manfaat ekonomi dan lingkungannya.

Bagi Kaltara, pendekatan itu berarti mengubah cara melihat kekayaan alam. Laut, hutan dan pesisir bukan hanya sumber bahan mentah yang bisa diambil hari ini, tetapi juga aset yang harus dipertahankan agar tetap menghasilkan nilai ekonomi dalam jangka panjang.

Seychelles telah menawarkan pengalamannya. Kini tantangannya berada di Kaltara, membuktikan apakah kekayaan alam yang dimiliki dapat menjadi sumber kemakmuran tanpa harus dibayar dengan kerusakan lingkungan. (rk)

ร— Advertisement
ร— Advertisement