Tambak Kaltara Meluas, Mangrove Terdesak, AMA Jadi Jalan Pemulihan
TARAKAN - Perluasan tambak tradisional di Kalimantan Utara (Kaltara) yang berlangsung selama bertahun-tahun mulai menjadi tantangan bagi kelestarian mangrove. Pembukaan lahan dalam skala luas dinilai mengganggu fungsi mangrove sebagai penyangga ekosistem, sehingga pola budidaya perlu diperbaiki agar kegiatan ekonomi petambak tetap berjalan tanpa mengabaikan lingkungan.
Salah satu upaya yang didorong ialah Associated Mangrove Aquaculture (AMA), pendekatan yang memadukan kegiatan budidaya perikanan dengan pemulihan fungsi ekologis mangrove.
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara mendukung pengembangan pola tersebut untuk memperbaiki pengelolaan tambak tradisional yang selama ini menghadapi persoalan degradasi lingkungan.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Penguatan Daya Saing Produk (PDS), dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan Perikanan (PSDKP) DKP Kaltara, Hasan Basri mengatakan, pihaknya telah terlibat sejak tahap sosialisasi program sekitar dua tahun lalu. Menurutnya, penggabungan rehabilitasi mangrove dengan kegiatan budidaya merupakan langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan tambak.
“Dengan adanya program revitalisasi, khususnya mangrove yang dikolaborasikan dengan budidaya, itu sangat baik, terutama dalam hal keseimbangan lingkungan,” ujarnya.
Hasan menjelaskan, pembukaan lahan tambak yang terlalu luas dapat mengganggu fungsi mangrove sebagai penyangga lingkungan. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pengelolaan tambak tradisional, terutama ketika perluasan lahan tidak diimbangi upaya pemulihan ekosistem.
“Kalau kita melihat tambak-tambak, khususnya tambak tradisional di Kaltara, lingkungan mengalami degradasi karena bukaan lahannya terlalu luas. Mangrove sebagai penyangga lingkungan sedikit terganggu, terutama dalam keseimbangan ekologi,” katanya.
Sejumlah lembaga, termasuk NASWIM, Wetlands, dan RGI, turut mengupayakan pemulihan fungsi ekologis mangrove sekaligus mendorong kegiatan budidaya yang lebih ramah lingkungan. Hasan mengatakan, upaya tersebut membutuhkan proses panjang karena memulihkan ekosistem tidak semudah membuka lahan baru.
“Dalam melakukan pembukaan lahan itu sebentar, tetapi untuk mengembalikannya membutuhkan proses. Itulah yang diupayakan teman-teman NGO, salah satunya Wetlands, untuk melakukan kegiatan seperti ini,” tuturnya.
Berdasarkan pengalamannya selama 28 tahun, Hasan menggambarkan perubahan luas kawasan tambak yang cukup signifikan. Ia menyebut pembukaan lahan yang dahulu berada di kisaran 50 ribu hektare kini telah berkembang menjadi lebih dari 100 ribu hektare.
Perubahan tersebut, menurutnya, perlu diimbangi pemahaman petambak mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Sebab, keberlangsungan usaha budidaya tidak hanya bergantung pada kegiatan produksi, tetapi juga kondisi ekosistem yang menopangnya.
Namun, mengubah pola budidaya yang telah dijalankan secara konvensional selama bertahun-tahun bukan perkara mudah. Pendampingan diperlukan agar petambak memahami hubungan antara kelestarian mangrove, keseimbangan ekosistem, dan keberlanjutan usaha mereka.
“Mengubah pola pikir itu tidak gampang. Kita harus betul-betul memberikan pemahaman karena ini melibatkan banyak kegiatan. Ruang berpikir dan wawasan mereka kita buka pelan-pelan supaya mereka paham mengapa lingkungan harus dijaga,” jelasnya.
Di sisi lain, Hasan menilai tambak tradisional Kaltara masih memiliki keunggulan dari sisi kualitas produk. Ia mengakui jumlah produksi daerah belum mampu menyamai sejumlah wilayah lain, seperti Riau. Meski demikian, penggunaan pakan alami dinilai menjadi nilai tambah yang berpotensi menarik pasar tersendiri.
“Dari segi kuantitas atau jumlahnya, kita kalah sama daerah lain seperti Riau dan sebagainya. Tetapi dari segi kualitas, kita masih yang terbaik karena alami. Pakan-pakan alami yang tren saat ini memiliki pangsa pasar tersendiri,” ungkapnya.
Pengembangan budidaya yang berpadu dengan pemulihan mangrove diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga mempertahankan potensi ekonomi tambak tradisional. Dengan demikian, petambak tetap dapat menjalankan usaha tanpa terus memperbesar tekanan terhadap ekosistem pesisir.
Hasan menambahkan, Desa Liagu, Kabupaten Bulungan, menjadi salah satu lokasi percontohan yang berpeluang dikembangkan. Dukungan pemerintah desa terhadap sejumlah kelompok pembudidaya di wilayah tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk memperluas penerapan pola budidaya yang memperhatikan kelestarian lingkungan.
“Alhamdulillah, daerah Liagu ini sudah beberapa kelompok didukung oleh pemerintah desa. Ini artinya pilot project yang perlu dikembangkan ke depan,” pungkasnya. (rz)
Artikel Terkait
- Saat Empat Penghuni Terlelap, Pohon Kapuk Roboh Hancurkan Dapur Rumah di Sebatik
- Api Belum Padam di Hutan Liagu, Relawan Berjuang dengan Peralatan Terbatas
- Jalur Nunukan–Sebatik Diduga Jadi Rute PMI Ilegal, Perekrut Diamankan
- Kapolres Bantah Kriminalisasi Aktivis, Dua Laporan Mahasiswa Tarakan Menggantung