KALTARAHUKUM & KRIMINALNUNUKANPENDIDIKAN

Informasi Berubah, Perkelahian Pelajar Meledak di Sebengkok

TARAKAN – Sebuah ucapan berubah menjadi informasi. Informasi itu berujung pemukulan.
Itulah pangkal perkelahian dua remaja perempuan di kawasan Sebengkok, Tarakan, Selasa (15/9/2026). Videonya kemudian viral di media sosial.

Kepala MTs Al Khairat Tarakan Matahari mengatakan, remaja berinisial N yang terlihat memukul dalam video merupakan mantan siswi sekolah tersebut. Sementara remaja yang menjadi korban, A, masih berstatus sebagai siswi.

N disebut datang setelah menerima informasi mengenai ucapan yang dianggap kasar atau menghina. Namun, saat sekolah mengklarifikasi persoalan itu, keterangan yang diterima N ternyata tidak sepenuhnya sama dengan ucapan yang sebenarnya disampaikan.

“Setelah kami tanyakan, ternyata tidak sinkron. Anak yang disebut mengatakan kata-kata itu tidak pernah menyampaikan seperti itu. Ada juga yang mengaku memang memberikan informasi, tetapi bahasanya tidak seperti yang kemudian diterima N. Jadi ada penyampaian informasi yang berubah,” kata Matahari, Rabu (16/9/2026).

Persoalan itu kemudian berkembang. N mendatangi A di depan sebuah masjid yang berada tidak jauh dari sekolah. Perkelahian terjadi hingga sejumlah orang datang menghentikan aksi tersebut.
Dalam video berdurasi sekitar satu menit, A masih mengenakan pakaian sekolah ketika dipukul N.

Menurut Matahari, N bukan lagi siswi MTs Al Khairat. Ia berhenti sekolah saat kenaikan kelas dan seharusnya kini duduk di kelas IX.
“Remaja yang memukul itu memang pernah sekolah di sini, tetapi sekarang sudah berhenti. Sedangkan anak yang dipukul masih menjadi siswi kami,” ujarnya.
Pihak sekolah baru mengetahui kejadian tersebut setelah video perkelahian beredar. Pada hari kejadian, jam belajar memang dipangkas dan siswa dipulangkan sekitar pukul 13.00 WITA karena kondisi asap dan kabut serta kendala ketersediaan air.

Matahari mengaku, masih berada di sekolah setelah jam pulang untuk memastikan siswa yang menunggu jemputan. Ia baru mengetahui kejadian tersebut setelah sampai di rumah dan menerima sejumlah pesan.

Sekolah kemudian memanggil siswa yang mengetahui persoalan tersebut. Salah satunya AU, yang disebut mengetahui informasi awal hingga N datang ke lokasi.
AU juga disebut mengetahui N akan datang, meski tidak ikut turun dalam perkelahian.

“AU yang kami panggil lebih mengetahui persoalannya karena dia yang menyampaikan informasi sampai N datang,” kata Matahari.

Hingga Rabu, empat siswa telah dimintai keterangan. Sekolah mencocokkan keterangan mereka untuk mengurai persoalan sejak informasi awal diterima N hingga terjadinya pemukulan.

Keluarga A juga telah dihubungi sekolah. Mediasi sempat ditawarkan untuk memperjelas persoalan, tetapi keluarga korban menolak karena tidak menerima anaknya menjadi korban pemukulan.

“Saya sudah sampaikan kepada ibunya, kalau memang bisa kita atur di sekolah, kita mediasi. Tetapi ibunya mengatakan keluarga tidak mau karena anaknya dipukul dan mereka tidak terima,” ujarnya.
Bukan hanya pemicu perkelahian yang ditelusuri. Sekolah juga mencari tahu bagaimana rekaman pemukulan tersebut bisa menyebar hingga viral.

Matahari mengatakan, video direkam siswa laki-laki berinisial R menggunakan telepon seluler milik siswi berinisial I. R berada di lokasi ketika perkelahian berlangsung.

Setelah direkam, video itu disebut diminta oleh N. Namun, bagaimana rekaman tersebut kemudian tersebar masih ditelusuri.  “Jadi bagian itu juga kami klarifikasi, bagaimana rekaman tersebut akhirnya bisa tersebar,” kata Matahari.

Sekolah bahkan meminta bantuan komite dan pihak lain untuk menghubungi orang yang diduga mengetahui pengunggah video agar rekaman tersebut dapat diturunkan sementara.

Pihak sekolah kini masih mencocokkan keterangan para siswa. Penelusuran dilakukan agar persoalan tidak berkembang berdasarkan informasi yang berbeda-beda. “Persoalannya harus jelas supaya tidak muncul informasi yang berbeda-beda,” pungkas Matahari. (rz)

Back to top button