Pelabuhan Tengkayu I Ramai, Tes Narkoba Baru 15 Awak Kapal
TARAKAN – Pengawasan penggunaan narkotika di lingkungan pelabuhan menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan pelayaran. Namun, deteksi dini di Pelabuhan Tengkayu I Tarakan masih menjangkau 15 awak kapal.
Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Utara (Kaltara) melakukan pemeriksaan urine secara acak terhadap 15 awak kapal dalam rangkaian peringatan Hari Perhubungan Nasional 2026. Hasilnya, seluruh sampel dinyatakan tidak terindikasi penyalahgunaan narkotika.
Ketua Tim Pemberdayaan Masyarakat BNNP Kaltara, Joni Effendi mengatakan, pemeriksaan merupakan hasil sinergi dengan UPT Pelabuhan Tengkayu I sebagai langkah deteksi dini.
“Karena keterbatasan alat, hari ini kami mengambil sampling 15 orang dan alhamdulillah hasilnya tidak ada yang terindikasi penyalahgunaan narkoba,” ujar Joni.
Pemilihan awak kapal dilakukan secara acak oleh pihak pelabuhan. BNNP Kaltara kemudian memeriksa 15 orang yang telah ditentukan.
“Pengambilan sampling kita serahkan dari pihak pelabuhan. Jadi kami tinggal menerima 15 orang untuk diperiksa dan semuanya clear,” katanya.
Proses pemeriksaan turut disaksikan petugas KSKP dan mitra pelabuhan. BNNP Kaltara juga melakukan verifikasi untuk memastikan sampel yang diperiksa sesuai dengan awak kapal yang menjalani tes.
Joni menyebut, pemeriksaan serupa telah beberapa kali dilakukan di kawasan Pelabuhan Tengkayu I. Namun, jumlah pemeriksaan kali ini masih terbatas karena menyesuaikan ketersediaan alat BNNP Kaltara.
Bagi pengelola pelabuhan, pemeriksaan narkotika berkaitan langsung dengan keselamatan penumpang, terutama karena nahkoda dan awak speedboat membawa penumpang dalam aktivitas pelayaran.
Kepala Seksi Operasional dan Pelayanan Kepelabuhanan, Zainuddin mengatakan, tes urine dilakukan sebagai langkah pencegahan agar nahkoda tidak berlayar dalam kondisi yang dapat membahayakan penumpang.
“Ini menyangkut keselamatan. Secara acak kita mengadakan tes urine untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap nahkoda dalam melayani penumpang,” kata Zainuddin.
Menurutnya, pemeriksaan bukan dilakukan karena adanya dugaan terhadap awak kapal tertentu, melainkan sebagai upaya deteksi dini.
Aktivitas operasional pelabuhan menjadi salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan pemeriksaan.
Awak kapal, terutama ABK speedboat, harus segera menjalankan pelayanan sehingga tes dilakukan secara acak dengan menyesuaikan jadwal keberangkatan.
“Sementara sifatnya masih terbatas. Ke depan mungkin kita tingkatkan lebih banyak lagi. Kita juga melihat waktu, situasi dan kondisi yang ada,” jelasnya.
Ke depan, pihak pelabuhan berencana memperluas pemeriksaan. Sasaran tidak hanya 15 awak kapal, tetapi dapat mencakup kru dan ABK setiap kapal maupun speedboat yang beroperasi di Pelabuhan Tengkayu I.
Bahkan, pekerja dan mitra lain yang beraktivitas di kawasan pelabuhan juga berpotensi menjadi sasaran pemeriksaan.
“Kalau perlu nanti mitra-mitra yang ada di sini juga kita sasar, termasuk buruh, rental, ojek dan lain sebagainya yang beraktivitas di pelabuhan ini,” katanya.
Selain tes urine, Zainuddin menilai pemeriksaan kesehatan awak kapal juga penting dilakukan sebelum mereka menjalankan tugas. “Pemeriksaan kesehatan sebenarnya juga seharusnya wajib dilaksanakan. Dalam kondisi seperti ini kita menyesuaikan juga,” tuturnya.
Jika dalam pemeriksaan berikutnya ditemukan hasil yang mengindikasikan penyalahgunaan narkotika, pihak pelabuhan akan berkoordinasi dengan BNN untuk penanganan lebih lanjut.
Rangkaian Hari Perhubungan Nasional di Pelabuhan Tengkayu I juga diisi simulasi penanganan kebakaran dan kecelakaan laut, khususnya pada kapal tradisional.
Kegiatan melibatkan sejumlah instansi dan mitra kepelabuhanan di bawah koordinasi KSOP dan Dinas Perhubungan Provinsi Kaltara.
Selain itu, kegiatan donor darah melibatkan berbagai mitra pelabuhan, mulai dari buruh, pihak rental, koperasi, nahkoda speedboat hingga nahkoda kapal barang yang beraktivitas di Pelabuhan Tengkayu I. (rz)

